Energi Juang News, Tasikmalaya- Langit malam menggantung rendah di atas Sungai Citanduy. Kabut tipis merayap pelan, membungkus rangka baja tua yang sudah berdiri sejak abad ke-19. Di sanalah berdiri Jembatan Cirahong—penghubung antara Manonjaya dan Pawindan, sekaligus saksi bisu ratusan cerita yang tak pernah benar-benar selesai diceritakan.
Besi tua jembatan itu berderit setiap kali kereta melintas. Suaranya panjang, menyerupai keluhan yang tertahan. Di bawahnya, jalur sempit untuk sepeda motor terasa seperti lorong waktu—sunyi, lembap, dan penuh bayangan.
“Kalau berani lewat tengah malam, jangan nengok ke bawah,” bisik seorang pengendara ojek yang menolak menyebut namanya.
“Kenapa?” tanya saya.
Ia menatap lurus ke depan.
“Kadang bukan air yang kelihatan… tapi orang berdiri di sungai.”
Cerita paling terkenal yang beredar di masyarakat adalah tentang sepasang pengantin yang konon dijadikan tumbal pembangunan jembatan. Mereka disebut-sebut diculik, diikat, lalu dilempar hidup-hidup ke dalam pondasi beton saat proses pengecoran.
Di sebuah warung kecil di mulut jembatan, saya bertemu Bekri (50), pria yang sudah tinggal di sana sejak 1992.
“Itu cerita mitos, tidak jelas sumbernya,” katanya sambil menuang kopi hitam.
“Tak mungkin sekejam itu hanya demi tumbal.”
“Tapi orang-orang percaya, Pak,” saya menimpali.
Bekri tersenyum tipis.
“Yang lebih masuk akal, kata masinis senior, ada pekerja yang jatuh saat pengecoran. Tertimbun. Itu kecelakaan kerja, bukan tumbal.”
Namun, seperti banyak kisah mistis lainnya, kebenaran sering kalah oleh cerita yang lebih menyeramkan. Dalam imajinasi kolektif warga, pasangan pengantin itu tidak pernah benar-benar mati. Mereka dipercaya masih “menjaga” jembatan.
Ada satu ritual yang sempat populer: memukul tiang beton jembatan sebanyak tiga kali, lalu meminta sesuatu—biasanya nomor keberuntungan.
Bekri pernah mencobanya.
“Saya sama teman dulu pernah,” katanya sambil tertawa kecil.
“Kami pukul fondasi, terus minta nomor togel.”
“Dapat?” saya bertanya.
“Dapat sih… seperti ada bisikan. Tapi pas dipasang, tidak tembus.”
Ia berhenti sejenak, lalu menatap saya serius.
“Yang ada malah teman saya kesurupan.”
“Kesurupan gimana?”
“Tiba-tiba tubuhnya kaku, matanya melotot. Dia ngomong pakai suara perempuan. Bilangnya, ‘Jangan ganggu tempat kami.’”
Saya merasakan hawa dingin menjalar, meski malam itu tidak terlalu berangin.
Bekri menggeleng ketika membahas video-video viral tentang penampakan di Cirahong.
“Banyak yang bohong,” katanya tegas.
“Pernah ada yang bikin boneka kuntilanak, diterbangkan pakai drone. Direkam, jadi ramai.”
“Jadi tidak pernah ada penampakan?”
“Kalau saya pribadi, belum pernah lihat,” jawabnya jujur.
“Tapi orang kesurupan? Itu ada.”
Fenomena ini menarik. Dalam banyak kasus supranatural, kesurupan sering muncul di tempat yang memiliki tekanan psikologis tinggi—entah karena cerita yang beredar, suasana yang mencekam, atau sugesti kolektif.
Namun sebagai seorang peneliti dunia gaib, saya tidak menutup kemungkinan lain: bahwa ada “sesuatu” yang memang tinggal di sana, tetapi tidak selalu menampakkan diri.
Seorang warga lain, Dadan (34), menceritakan pengalamannya.
“Waktu itu saya lewat jam dua malam,” katanya.
“Pas di tengah jembatan, motor saya tiba-tiba mati.”
“Biasa saja mungkin,” saya mencoba rasional.
Dia menggeleng.
“Pas saya lihat ke depan, ada orang berdiri di rel atas. Padahal tidak ada kereta.”
“Lalu?”
“Dia lompat… tapi tidak ada suara jatuh.”
“Ke mana?”
Dadan menelan ludah.
“Hilang.”
Jembatan Cirahong dibangun pada tahun 1893 oleh pemerintah kolonial Belanda. Dengan panjang sekitar 202 meter dan struktur dua tingkat, jembatan ini bukan hanya unik secara teknik, tetapi juga menyimpan sejarah panjang eksploitasi dan kerja keras.
Dalam perspektif supranatural, tempat-tempat tua seperti ini sering dianggap menyimpan “residu energi”—jejak emosional dari peristiwa masa lalu.
Kecelakaan kerja, bunuh diri, ketakutan, bahkan kelelahan para pekerja bisa meninggalkan semacam “rekaman” yang kadang muncul kembali dalam bentuk pengalaman ganjil.
Bekri sendiri mengakui hal itu.
“Memang pernah ada kejadian bunuh diri di sini,” katanya pelan.
“Mungkin itu yang bikin kesan angker makin kuat.”
Malam semakin larut ketika saya bersiap pergi. Sebelum meninggalkan warung, saya bertanya satu hal terakhir.
“Kalau memang banyak yang bohong, kenapa cerita ini tetap hidup?”
Bekri tersenyum, menatap ke arah jembatan yang mulai diselimuti kabut tebal.
“Karena orang suka takut,” katanya.
“Dan tempat seperti ini… membantu mereka merasa takut.”
Saya melangkah menuju motor, tetapi sebelum mesin menyala, terdengar suara samar dari arah jembatan.
Mungkin tidak sepenuhnya nyata, tetapi juga tidak bisa sepenuhnya diabaikan. Di antara fakta sejarah, kecelakaan kerja, dan rekayasa konten, tetap ada ruang kosong yang belum terjelaskan.
Apakah itu hanya sugesti?
Ataukah memang ada sesuatu yang menunggu—diam, sabar, dan tidak terlihat?
Di tempat seperti Cirahong, jawabannya mungkin tidak penting.
Karena yang lebih nyata dari hantu… adalah rasa takut itu sendiri.
Redaksi Energi Juang News



