Energi Juang News,Banyumas– Malam yang turun perlahan di sebuah kawasan pegunungan selalu membawa cerita yang berbeda bagi setiap perjalanan manusia. Banyak pendaki menceritakan bahwa suasana hening yang membentang di antara pepohonan sering menyimpan bisikan tak terlihat, seakan ada sesuatu yang memperhatikan langkah mereka. Pada kondisi seperti itu, percakapan dengan warga setempat biasanya terasa menenangkan, seperti ketika seorang lelaki tua di warung dekat jalur berkata lirih, “Nak, kalau kalian lewat sini, hormatilah tempat ini. Ada aturan tak tertulis yang mesti dihargai.” Walau terdengar samar, peringatannya membuat udara terasa lebih berat dari sebelumnya.
Perjalanan menuju puncak Gunung Slamet dimulai ketika Yusuf, Angga, dan Mamat melangkah melalui jalur Bambangan yang terkenal karena tantangan sekaligus kisah-kisah mistisnya. Sejak awal, mereka disambut oleh pemilik warung di Pos 1 yang menegaskan kembali Larangan Jimat Keramat di Jalur Pendakian Gunung Slamet. “Jangan pernah bawa jimat apa pun yang tidak jelas asal-usulnya,” ujar sang pemilik warung dengan mata serius. “Penghuni gunung tidak suka.” Yusuf hanya mengangguk, mencoba menepis ketegangan yang tiba-tiba muncul di antara mereka.
Saat malam merayap naik, suasana mencekam mulai terasa ketika Angga mendengar auman mirip harimau yang disusul denting gamelan dari kejauhan. Ia langsung berbisik pada Yusuf, “Bro, kau dengar itu? Dari mana suara gamelan di tengah hutan begini?” Seorang warga lokal yang kebetulan lewat untuk mengantar logistik menjawab lirih, “Kalau sudah masuk waktu tertentu, jangan hiraukan suara apa pun. Itu bukan untuk manusia.” Kalimat itu membuat bulu kuduk mereka berdiri, menambah tebal teror yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya.
Puncak kejadian aneh terjadi ketika Yusuf menyadari ada sebuah benda tergantung di leher Mamat—sebuah jimat keramat yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya. Ketika ditegur, Mamat mengaku tidak tahu bagaimana jimat itu bisa ada di tubuhnya. Penjaga basecamp yang mereka temui sebelumnya sempat berucap, “Kadang benda semacam itu muncul sendiri kalau ada yang merasa terganggu,” dan ucapan itu kini terasa seperti peringatan yang terlambat dipahami.
Yusuf segera melepaskan jimat tersebut dan menyimpannya jauh di dalam tas. Namun setelah itu, gangguan mistis justru semakin sering muncul. Di sekitar tenda, angin berputar tanpa arah meski langit tampak tenang, dan suara langkah-langkah berat terdengar mengelilingi mereka. “Ini tidak wajar,” kata Angga sambil memegang senter erat-erat. Seorang warga yang sedang mendaki untuk kepentingan ritual adat mendekati mereka dan berpesan, “Kalau sudah mengusik, biasanya mereka tak mau pergi.”
Malam itu berubah menjadi semakin menyeramkan ketika Mamat tiba-tiba berbicara dengan suara yang bukan miliknya. Nada bicaranya berat, dalam, dan bergema seolah berasal dari jauh. “Aku… tidak bisa pulang… dia marah,” ucapnya dengan mata kosong. Yusuf langsung mengguncang bahunya, namun Mamat tidak bereaksi. Seorang pendaki senior yang kebetulan berada di dekat tenda berkata lirih, “Kalian sudah melewati batas. Dia sedang dihukum.”
Pagi harinya, kepanikan melanda saat Yusuf dan Angga mendapati Mamat hilang dari tenda. Mereka memanggil namanya berulang kali, suara mereka memantul di antara pepohonan namun tidak mendapat jawaban. Ketika mereka mulai putus asa, seorang pria misterius muncul dari kabut. “Teman kalian ada di bawah sana,” katanya sambil menunjuk ke arah sebuah turunan curam. Ketika Angga bertanya, “Bapak dari mana?” pria itu hanya tersenyum tipis tanpa menjawab.
Mamat akhirnya ditemukan di bawah sebuah pohon besar yang bentuknya menyerupai gerbang alami, seolah menjadi pintu menuju dunia lain. Ia duduk lemas dengan tatapan kosong, dan ketika Yusuf bertanya, “Mat, kau kenapa bisa di sini?” Mamat hanya menggeleng, mengatakan bahwa ia tidak ingat apa pun. Seorang warga yang membantu pencarian berkata, “Tempat itu bukan sembarang tempat. Biasanya yang duduk di sana bukan manusia.”
Ketika mereka berbalik hendak berterima kasih pada pria misterius yang telah menunjukkan arah, sosok itu sudah menghilang begitu saja tanpa jejak. Tidak ada suara langkah, tidak ada bayangan bergerak, hanya udara dingin yang menampar wajah mereka. Warga sekitar yang mendengar cerita itu berkata, “Kalau dia bisa hilang begitu cepat, kemungkinan besar kalian bukan dibantu manusia.”
Perjalanan pulang mereka dipenuhi keheningan panjang, seolah pengalaman itu memutuskan sebagian nyali yang mereka bawa dari rumah. Setibanya di basecamp, pemilik warung menatap mereka dengan wajah khawatir. “Kalian sudah melihat sendiri akibat melanggar larangan jimat keramat,” ujarnya. Yusuf hanya menunduk, menyadari bahwa ada aturan tak tertulis di gunung ini yang tidak boleh dilanggar, dan pengalaman mencekam itu akan mereka bawa selamanya sebagai pengingat bahwa tidak semua penghuni gunung tampak oleh mata manusia.
Redaksi Energi Juang News



