Energi Juang News, Pemalang– Rumah di pinggir desa itu tampak biasa saja di siang hari, dengan cat dinding yang mulai memudar dan halaman luas yang ditumbuhi rerumputan liar. Namun, ada sesuatu dalam udara disekitar Pemalang yang terasa berbeda, seolah-olah setiap hembusan angin membawa bisikan masa lalu yang tidak ingin dilupakan. Pak Wage dan istri tidak pernah memikirkan hal-hal seperti itu. Mereka hanya merasa beruntung mendapatkan rumah besar dengan harga murah di kawasan yang tenang. Bagi mereka, rumah adalah tempat baru untuk memulai kehidupan bersama dua anak mereka, Lia dan Linda.
Lia, putri sulung yang berusia enam belas tahun, sebenarnya sudah merasa tidak nyaman sejak pertama kali melihat rumah itu. Tangannya dingin saat menggenggam tas kecilnya, matanya terpaku pada jendela lantai dua yang terbuka sedikit, seolah ada seseorang yang sedang mengintip dari dalam. “Bu, rumah ini kayaknya aneh deh…” ucapnya pelan saat mereka pertama kali datang. Istri pak Wage hanya tersenyum sambil menepuk bahunya, “Ah, kamu terlalu banyak nonton film horor, Lia. Rumah ini bagus kok.” Tapi entah mengapa, Lia merasa tatapan dari jendela itu mengikuti setiap langkah mereka.
Beberapa hari kemudian, saat proses pindahan berlangsung, Linda yang berusia delapan tahun menaiki tangga menuju lantai dua. Suara air mengalir terdengar dari arah kamar mandi. Ia mengetuk pintu sambil memanggil, “Lia, kamu lagi mandi ya?” Namun, tidak ada jawaban. Saat ia mendorong pintu pelan-pelan, tubuhnya langsung kaku. Di depan matanya, berdiri sosok perempuan bungkuk dengan rambut panjang kusut dan kulit pucat kehijauan. Sosok itu sedang menyiram tubuhnya dengan air yang warnanya keabu-abuan, dan dari sela rambutnya tampak wajah yang tidak sepenuhnya manusia. Linda menjerit histeris lalu berlari turun ke bawah memanggil ayah dan ibunya.
“Ada perempuan aneh di kamar mandi!” teriak Linda ketakutan. Pak Wage dan istri bergegas naik, namun begitu mereka sampai di sana, kamar mandi itu kosong. Lantai kering, dan tidak ada tanda-tanda seseorang pernah berada di sana. “Kamu mimpi, ya?” kata ayahnya mencoba menenangkan. Tapi Linda menggeleng keras. “Aku lihat sendiri, Yah! Dia bungkuk dan rambutnya panjang banget!” Lia yang mendengar cerita itu hanya bisa menatap ke arah tangga dengan wajah pucat. Hatinya berdebar, karena ia merasa sosok itu seperti bayangan yang pernah dilihatnya di jendela dulu.
Waktu berjalan. Beberapa bulan setelah kejadian itu, hal-hal aneh mulai menimpa istri pak Wage. Suatu malam, ketika ia sedang menonton televisi sendirian, terdengar suara gaduh dari dapur: dentingan logam dan suara seperti pisau sedang digunakan memotong sesuatu. “Siapa di dapur?” panggilnya, namun tidak ada jawaban. Ia berjalan perlahan menuju sumber suara dan mengintip dari balik pintu. Begitu lampu dapur dinyalakan, benda-benda di atas meja melayang di udara—pisau, sendok, dan garpu berputar tanpa arah, menimbulkan suara berderak. “Astaghfirullah!” jeritnya, membuat seluruh anggota keluarga terbangun panik.
Keesokan harinya, mereka mendengar kabar yang membuat darah berdesir. Tetangga sebelah, seorang pria tua bernama Pak Arif, datang menegur. “Kalian tahu nggak, rumah ini dulunya milik almarhum Pak Tono?” tanyanya pelan. Pak Wage menggeleng. Pak Arif menatap ke arah rumah itu dan melanjutkan, “Tanahnya dulu diwakafkan untuk pemakaman warga. Tapi ada yang melanggar wasiatnya. Namanya Pak Jito. Dia ngaku tanah itu diwariskan ke dia, padahal nggak pernah begitu.” Suaranya bergetar, seolah masih menyimpan ketakutan lama. “Setelah dia bangun rumah di sini, keluarganya sering bertengkar. Istrinya sampai kesurupan. Akhirnya Pak Jito meninggal dalam keadaan aneh.”
“Benarkah itu, Pak?” tanya istri pak Wage dengan wajah pucat. Pak Arif mengangguk pelan. “Waktu itu saya sendiri yang lihat jenazahnya. Kulitnya menghitam seperti terbakar, tapi dokter bilang itu cuma penyakit kulit.” Lia yang mendengar cerita itu merasa seluruh tubuhnya menggigil. Dalam bayangannya, sosok perempuan bungkuk yang dilihat adiknya mungkin saja adalah arwah istri Pak Jito terperangkap di tanah waqaf yang tak pernah mendapat restu. Suara desahan angin sore hari terasa lebih berat dari biasanya, membawa aroma lembap tanah dan sesuatu yang busuk samar.
Sejak saat itu, keluarga Pak Wage sering mendengar langkah kaki di malam hari. Kadang terdengar suara orang memanggil dari luar kamar, padahal semua sedang tidur. Pernah suatu malam, Lia dibangunkan oleh suara seseorang berbisik di telinganya, “Ini bukan rumahmu…” Ia menjerit, lalu melihat bayangan hitam bergerak cepat di dinding. “Aku nggak kuat lagi tinggal di sini!” katanya pada ibunya keesokan paginya. Namun, Pak Wage bersikeras tetap bertahan. “Rumah ini sudah kita beli. Jangan kalah sama hal yang nggak masuk akal.”
Warga sekitar pun mulai membicarakan kejadian itu. “Saya sering dengar suara perempuan nangis dari arah rumah itu,” kata Bu Sari, tetangga yang tinggal di seberang. “Tiap jam dua belas malam, pasti ada yang buka jendela di lantai dua, padahal saya tahu nggak ada orang.” Warga lain, Pak Darto, menimpali, “Dulu juga gitu waktu masih punya Pak Jito. Kalau malam, suka ada bayangan duduk di atap.” Cerita-cerita itu membuat keluarga Pak Wage semakin gelisah. Mereka mulai jarang menyalakan lampu di lantai dua dan mengunci pintu setiap malam, tapi suara-suara itu tak pernah benar-benar hilang.
Hingga suatu malam, semuanya mencapai puncak. Angin bertiup kencang, pintu berderak, dan lampu padam bersamaan. Dari dapur terdengar suara perempuan tertawa pelan, lalu berubah menjadi jeritan nyaring. Lia berlari ke arah tangga, tapi mendapati sosok perempuan bungkuk berdiri di sana, menatapnya dengan mata hitam pekat. “Kenapa kalian ambil rumah ini…” suara itu bergetar seperti bisikan dan raungan bersamaan. Istri pak Wage pingsan di tempat, sementara Pak Wage hanya mampu berdoa keras-keras hingga akhirnya sosok itu menghilang perlahan, meninggalkan aroma anyir menusuk yang tak kunjung hilang sampai pagi.
Sejak malam itu, keluarga Pak Wage memutuskan pindah dan meninggalkan rumah tersebut tanpa sempat mengambil semua barang. Warga sekitar pun menganggap rumah itu kembali menjadi tempat terlarang. Setiap kali ada orang lewat, mereka menunduk dan mempercepat langkah. Kisah Mistis di Rumah Tanah Waqaf kini menjadi legenda baru di kampung itu sebuah peringatan bahwa tidak semua rumah pantas ditempati, terutama bila di bawah pondasinya terkubur janji yang dikhianati.
Redaksi Energi Juang News



