Senin, Mei 18, 2026
spot_img
BerandaRemang SenjaLegenda Sumala: Kisah Mistis dari Semarang

Legenda Sumala: Kisah Mistis dari Semarang

Energi Juang News, Jakarta– Di sebuah desa terpencil di Kabupaten Semarang, sekitar tahun 1948, terjadi serangkaian peristiwa aneh yang hingga kini masih membekas di ingatan warga. Cerita ini bukan sekadar dongeng pengantar tidur, melainkan legenda yang diwariskan turun-temurun. Meski tak disebut dalam buku sejarah, namun kisah itu hidup di antara bisik-bisik warga yang enggan menyebut nama “Sumala” secara lantang. Mereka percaya bahwa menyebut nama itu sembarangan bisa mengundang kemalangan. Satu hal yang pasti—kehadiran Sumala mengubah segalanya.

Sulastri, perempuan desa yang menjadi tokoh awal legenda ini, hidup dalam kesunyian karena belum juga dikaruniai anak meski sudah bertahun-tahun menikah. Desakan dari keluarga dan tekanan masyarakat membuatnya nekat mendatangi seorang dukun tua yang dikenal memiliki kekuatan spiritual kuat. Di balik pintu gerbang bambu dan sesajen yang menghitam karena arang, Sulastri menyanggupi syarat perjanjian yang tak sepenuhnya ia mengerti. Syarat itu tidak tertulis, namun jelas mengandung konsekuensi yang kelak harus dibayar dengan nyawa dan air mata.

Beberapa minggu setelah ritual dilakukan, suaminya mulai mengeluh sering terbangun karena mimpi buruk. “Aku lihat bayangan di sudut kamar, Lastri. Dia seperti anak kecil tapi matanya… kosong,” ungkap suaminya suatu malam, gemetar sambil memegang kening. Rumah mereka mulai dihantui oleh bau bunga kenanga yang datang tanpa sebab dan suara tangisan bayi yang terdengar dari balik dinding meski tak ada siapa-siapa. Ketika akhirnya Sulastri benar-benar melahirkan, para bidan yang membantu persalinan langsung pingsan melihat wajah si bayi.

Sumala, begitu ia dinamakan, bukan bayi biasa. Wajahnya pucat seperti tak punya darah, matanya terlalu besar hingga nyaris menutupi wajahnya, dan tangisannya… tak seperti manusia. Seorang tetua desa berkata, “Tangis anak itu seperti suara angin dari alam kematian.” Sejak hari kelahiran Sumala, desa itu seolah dikutuk. Ternak mati mendadak, tanaman layu dalam semalam, dan anak-anak desa satu per satu menghilang tanpa jejak. Warga mulai ketakutan, dan berbisik bahwa semua ini ada hubungannya dengan bayi iblis yang lahir dari rahim manusia.

Baca juga :  Cinta Bertepuk Sebelah Tangan, Kisah Candi Penampihan Tulungagung

Pada malam Jumat Legi, beberapa warga melaporkan melihat sesosok anak kecil duduk di pinggir sumur tua, berbicara sendiri sambil memegang boneka tanpa kepala. “Aku lihat dia tertawa-tawa, padahal tidak ada siapa pun di sekitarnya,” ujar Pak Narto, seorang petani yang rumahnya berdekatan dengan sumur. Istrinya bahkan mengaku melihat mata Sumala bercahaya merah ketika mereka tanpa sengaja berpapasan. Rasa takut makin menjadi-jadi setelah seorang bocah ditemukan pingsan di dekat sumur dengan mata terbuka lebar dan tubuh menggigil.

Ketika teror semakin menggila, warga sepakat bahwa satu-satunya cara untuk menyelamatkan desa adalah mengakhiri keberadaan Sumala. Malam itu, mereka berkumpul membawa obor, parang, dan keberanian yang bercampur dengan kepanikan. Sulastri mencoba melindungi putrinya, menangis dan memohon agar mereka tidak menyentuh anaknya. Tapi suara tangisan perempuan itu tenggelam oleh teriakan massa. Sumala ditarik, diseret, dan dilemparkan ke dalam sumur tua. Jeritannya menggema, melengking hingga membuat bulu kuduk berdiri. “Ma… ma… ku… bukan… iblis” Suara itu terputus oleh dentuman air.

Beberapa hari kemudian, suasana desa kembali tenang, namun ada yang berubah. Orang-orang merasa lebih ringan, tetapi juga lebih waspada. Setiap kali malam turun dan angin meniup dedaunan kering, terdengar suara tangis dari sumur. Kadang terdengar juga suara tawa lirih seperti berasal dari tenggorokan anak kecil. “Aku pernah dengar suara nyanyian anak-anak, padahal tidak ada siapa-siapa,” ungkap Mbok Sri, wanita tua yang tinggal tak jauh dari lokasi sumur. Ketika ditanya lebih lanjut, dia hanya menggeleng pelan, “Sudah, jangan disebut-sebut lagi, nanti dia datang.”

Ada pula kisah dari seorang pemuda yang penasaran dan mencoba merekam suara dari dekat sumur menggunakan ponsel. Ia tidak pernah kembali. Yang ditemukan hanyalah ponselnya, tergeletak dengan layar yang memperlihatkan rekaman terakhir bayangan seorang anak perempuan berdiri diam memandangi kamera dengan mata hitam yang memantulkan wajah si pemilik. Sejak itu, warga sepakat untuk menutup sumur dengan beton, tetapi bisikan dan suara tangis itu tetap terdengar dari bawah tanah.

Baca juga :  Tanda-Tanda Disukai Jin: Kisah Mencekam dari Sosok yang Diam-Diam Diikuti

Waktu berlalu, dan generasi pun berganti. Namun, legenda Sumala tetap hidup dalam ingatan kolektif desa. Beberapa percaya bahwa ini hanyalah kisah untuk menakut-nakuti anak-anak agar tidak bermain larut malam. Tapi sebagian lainnya yakin, Sumala masih ada, menunggu saat yang tepat untuk kembali. “Dia belum pergi. Arwahnya terjebak di antara dunia,” bisik Pak Darto, penjaga makam desa, yang mengaku sering melihat bayangan kecil di sela-sela pohon kamboja. Kisah Sumala tak sekadar cerita seram, melainkan peringatan akan harga yang harus dibayar ketika manusia bermain-main dengan dunia gaib.

Redaksi Energi Juang News

Moh Khobir Riyadi
Moh Khobir Riyadihttps://energijuangnews.com/
Sosok pria penulis artikel pada kanal Remang Senja (Horror), Ojo Lali dan Not & Musik. Memberikan tulisan semenarik mungkin untuk kalian para pembaca.
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments