Sabtu, April 18, 2026
spot_img
BerandaRemang SenjaCinta Bertepuk Sebelah Tangan, Kisah Candi Penampihan Tulungagung

Cinta Bertepuk Sebelah Tangan, Kisah Candi Penampihan Tulungagung

Energi Juang News, Jakarta– Di ujung Dusun Turi, Kecamatan Sendang, Tulungagung, terdapat sebuah situs purbakala yang nyaris terlupakan oleh zaman. Terletak di kaki Tenggara Gunung Wilis, keberadaan Candi Penampihan menyimpan kisah pilu sekaligus menyeramkan yang masih diceritakan warga hingga kini. Lokasinya tersembunyi di antara pepohonan lebat, dengan hawa sejuk yang anehnya terasa berat saat didekati.

Menurut catatan sejarah, candi ini bukan sekadar bangunan tua. Ia adalah wujud nyata dari cinta seorang pembesar Kerajaan Wengker yang tak pernah terbalas. Ia jatuh hati pada Dewi Kilisuci dari Kediri. Namun, sebelum perasaannya tersampaikan secara langsung, kurir yang diutusnya kembali membawa kabar pahit: lamarannya ditolak.

Pembesar itu patah hati. Ia tidak sanggup kembali ke Ponorogo. Di tempat inilah ia bermeditasi, menghabiskan sisa hidupnya dalam kesunyian, lalu mendirikan candi sebagai pelampiasan batin yang luka. Maka berdirilah Candi Penampihan, yang secara etimologis berasal dari kata “tampik” atau “penolakan.”

Mitos yang berkembang mengatakan, dua kolam yang berada di sekitar candi itu bukan sembarang kolam. Airnya diyakini menjadi barometer kondisi alam di Pulau Jawa. Jika kolam itu kering, maka di Jawa sedang dilanda kemarau. Jika penuh, banjir tak terelakkan di banyak wilayah. Kepercayaan itu masih bertahan di benak masyarakat sekitar.

“Sampai sekarang, kami selalu memperhatikan air kolam itu. Nenek moyang kami mengajarkan begitu,” ujar Pak Riyono, warga yang rumahnya tak jauh dari lokasi. Ia mengaku sering mendengar suara gamelan di malam Jumat Kliwon. “Padahal nggak ada siapa-siapa,” tambahnya sambil melirik ke arah pohon beringin tua di tepi situs.

Beberapa tahun silam, seorang pemuda dari luar kota datang ke Dusun Turi. Ia mendengar kisah mistis tentang Candi Penampihan dan penasaran ingin membuktikannya sendiri. Tanpa meminta izin atau mengucap salam sebagaimana adat setempat, ia langsung memasuki area candi menjelang sore. Langkahnya cepat, kameranya siaga, seolah tak percaya pada cerita warga. Tapi sejak itu, tak seorang pun tahu pasti ke mana ia pergi. Warga hanya menemukan kameranya tergelatak di tepi kolam, merekam detik-detik terakhir yang penuh suara bisikan tak dikenal.

Baca juga :  Legenda Janggitan, Munculnya Lelembut Sawah di Sukoharjo

Keesokan harinya, warga geger saat melihat seorang pemuda berjalan dari arah candi dengan tatapan kosong dan tubuh yang gemetar. Namun, setelah diamankan, ia tidak mengenali siapa pun. Ia hanya mengulang kalimat, “Dia menatapku… dia tidak ingin aku di sana…” sambil menunjuk ke arah pepohonan. Menurut Bu Marni, sosok yang dilihatnya kemungkinan adalah prajurit tua bersenjata tombak—penjaga gaib candi—yang memang tidak menyukai kehadiran orang sembarangan.

Namun bukan hanya prajurit. Konon, wanita berpakaian serba putih juga kerap terlihat berdiri di sisi kolam saat malam tiba. Beberapa warga mengaku mendengar tangisan halus dari arahnya, seperti mengiringi kepergian jiwa-jiwa yang tak bisa pulang. “Yang datang dengan hati sombong, akan hilang atau pulang bukan sebagai dirinya lagi,” tutur Bu Marni lirih.

Banyak orang luar yang mencoba meneliti candi ini, tapi tak semuanya berhasil menyelesaikan misinya. Beberapa mengalami mimpi buruk berhari-hari, sementara yang lain pulang dalam kondisi sakit. Menurut warga, hanya mereka yang punya niat baik dan hati bersih yang bisa berada lama di area candi tanpa diganggu.

Malam hari adalah waktu paling sakral. Tidak ada warga yang berani lewat jalur candi setelah pukul tujuh malam. Jalan tanah kecil yang menuju ke sana mendadak terasa panjang dan tak berujung. “Pernah ada pemuda yang lewat karena penasaran, dia malah muter-muter di tempat yang sama sampai subuh,” tutur Pak Riyono sambil merapatkan jaketnya.

Hingga kini, Candi Penampihan tetap berdiri dalam diam. Bangunannya tidak besar, tapi auranya sangat kuat. Tak ada papan informasi wisata atau fasilitas pendukung, karena masyarakat memilih menjaga kesakralannya. Bagi mereka, candi ini bukan tempat hiburan, melainkan pengingat akan cinta yang ditolak dan kekuatan dunia tak kasat mata.

Baca juga :  Gang Lorong Mayit: Kutukan Arwah Yang Tak Terselesaikan di Kampung Mati di Lumajang

Mungkin, Candi Penampihan adalah satu dari sedikit tempat di Jawa yang masih menyimpan energi asli masa lampau. Cinta, kesedihan, dan kekecewaan sang pembesar kini menjelma menjadi getaran mistis yang membalut setiap sudut batuannya. Dan siapa pun yang datang ke sana, akan tahu bahwa cinta yang ditolak, tidak pernah benar-benar hilang.

Moh Khobir Riyadi
Moh Khobir Riyadihttps://energijuangnews.com/
Sosok pria penulis artikel pada kanal Remang Senja (Horror), Ojo Lali dan Not & Musik. Memberikan tulisan semenarik mungkin untuk kalian para pembaca.
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments