Energi Juang News, Trenggalek– Di sebuah desa kecil di Trenggalek Jawa Timur, yang dikelilingi hutan jati dan sawah kering tersiram air hujan pertama, masyarakat hidup dalam keseharian yang penuh kisah mistis turun-temurun, meski perlahan pandangan mereka mulai berubah karena arus zaman. Para orang tua masih sering membicarakan tanda-tanda aneh di sekitar lingkungan, namun keyakinan terhadap cerita makhluk halus perlahan terkikis logika modern. “Sekarang itu yang penting kerja, bukan mikirin yang begituan,” kata salah satu warga ketika berbincang di beranda rumah tua yang diterangi lampu redup.
Namun perubahan cara pandang itu tidak membuat cerita lama benar-benar padam, apalagi ketika terjadi hal aneh seperti yang menimpa keluarga Pak Waji. Di desa itu, sebagian warga masih percaya ada makhluk astral tinggi kurus berbaju lusuh yang kerap muncul tanpa diduga. “Aku pernah dengar dari mbahku, bentuknya ngeri sekali,” ujar seorang tetangga, menegaskan bahwa penampakan semacam itu bukan sekadar dongeng untuk menakuti anak kecil.
Kejadian mengusik ketenangan mulai terjadi pada sore mendung ketika Bu Wastri menyapu halaman. Suara lirih seperti anak ayam terdengar dari sela-sela rumpun bambu, memancing rasa curiganya karena tidak ada satu pun tetangga yang memelihara unggas. “Lho, suara apa itu? Kok bisa ada di sini?” gumamnya. Saat ia mencoba memastikan sumber suara, Agus tiba-tiba pamit keluar rumah menuju Mushola, membuat Bu Wastri hanya bisa mengingatkan, “Langsung pulang kalau sudah selesai, Nak.”
Ketika hujan turun semakin deras, kecemasan mulai merayap dalam diri Bu Wastri karena Agus tak kunjung kembali melewati waktu Isya. Pak Waji yang baru pulang langsung bertanya, “Gus sudah pulang, Bu?” namun jawaban istrinya membuat raut wajahnya berubah tegang. “Belum, Pak… dia tadi bilang ke Mushola, tapi sampai sekarang belum kelihatan.” Keduanya berdiri di teras rumah seakan menunggu keajaiban sambil menatap jalan kecil yang gelap.
Tanpa menunda waktu, mereka keluar membawa senter dan payung, menyusuri jalan setapak menuju Mushola sambil menanyakan keberadaan Agus kepada warga sekitar. “Mas Waji, tadi saya tidak lihat anak njenengan lewat sini,” kata Pak Rakam yang sedang menutup warung. Jawaban itu membuat ketegangan semakin menjadi, apalagi ketika Bu Wastri mulai teringat suara aneh di sore menjelang malam yang dipercayai warga sebagai pertanda kehadiran makhluk halus.
Kegelisahan berubah menjadi kepanikan ketika Bu Wastri akhirnya berkata lirih, “Apa jangan-jangan… dia dibawa Wewe Gombel Julukan Sosok Penculik Anak itu, Pak?” Warga yang mendengar langsung saling pandang dengan wajah pucat. Mereka teringat cerita lama mengenai sosok perempuan astral berbadan tinggi, berambut kusut panjang, dan mata cekung merah menyala yang sering berkeliaran menjelang gelap untuk mencari anak yang sendirian.
Warga berdatangan membawa kentongan dan lampu petromak, memperluas pencarian hingga gang-gang kecil desa. Suara kentongan terdengar bertalu-talu di antara deras hujan, menggetarkan suasana malam yang makin mencekam. “Agus…! Agus, Nak pulang!” teriak beberapa warga. Namun tidak ada jawaban selain suara dedaunan basah dan angin yang menyusup di antara pepohonan. Kesedihan mulai menyelimuti keluarga Pak Waji, membuat Bu Wastri menangis tersedu di bahu suaminya.
Hingga tengah malam, Pak Margo sang sesepuh desa datang membantu pencarian. Dengan kemampuan batin yang dipercaya sejak dulu, ia menutup mata sejenak dan mulai merapal doa. “Aku melihat sosok tinggi kurus bermuka hitam legam di atas pohon randu besar,” katanya lirih. Warga langsung terdiam, apalagi ketika ia melanjutkan, “Ia menggendong seorang anak… dan itu mirip Agus.” Kalimat itu membuat seluruh warga membeku ketakutan.
Menurut penglihatan Pak Margo, makhluk itu adalah Wewe Gombel Julukan Sosok Penculik Anak yang sudah lama bersemayam di pohon randu tua dekat rumah Pak Waji. “Anak panjenengan memang disukai sosok itu,” ucapnya kepada Pak Waji yang tampak linglung. Beberapa warga saling berbisik, mengingat cerita bahwa makhluk tersebut sering memilih anak yang berjalan sendirian saat senja. Ketegangan merambati seluruh desa malam itu.
Ritual yang dilakukan Pak Margo untuk melacak keberadaan Agus bukan tanpa risiko. Sosok hantu penculik anak itu dikenal agresif dan akan menyerang siapa pun yang mengusiknya. “Kalau kita lanjutkan, kemungkinan besar dia akan marah,” kata Pak Margo memperingatkan warga yang tetap bersikeras melanjutkan pencarian. Malam itu menjadi salah satu malam paling mencekam, ketika keberanian manusia dan kengerian arwah perempuan gentayangan saling berhadapan dalam keheningan desa yang diterpa hujan.
Redaksi Energi Juang News



