Kamis, Mei 21, 2026
spot_img
BerandaRemang SenjaKutukan Pasetran Gondo Mayit : Jeritan dari Perut Gua Berdarah

Kutukan Pasetran Gondo Mayit : Jeritan dari Perut Gua Berdarah

Energi Juang News, Jakarta–  Gua Pasetran Gondo Mayit bukan sekadar lubang besar di kaki tebing. Ia lebih dari itu, karena kalau orang yang bisa melihat secara supranatural ini sebuah mulut kematian yang menyimpan teriakan diam sejak ratusan tahun silam.

Di desa kecil di pesisir selatan Jawa Timur, kisah tentang mulut kematian yang bau menyengat seperti bangkai manusia seringkali menjadi peringatan bahwa “mereka” belum sepenuhnya pergi.

Seperti dikisahkan oleh Andra, mahasiswa arkeologi semester akhir sebuah kampus ternama di Surabaya.

Ia datang ke desa Sine bersama tim kampusnya untuk meneliti tembikar dan pecahan artefak yang konon tersebar di dalam gua tersebut. Hanya Andra yang pernah survey ke daerah tersebut namun tak masuk gua.

Malam pertama sebelum menyusuri gua itu, mereka bermalam di rumah warga tak jauh dari gua itu.

Saat semua sudah tertidur, Andra mendengar suara gemeretak rantai yang kemudian disusul dengan suara jeritan parau seperti suara orang yang tersiksa dalam penjara.

Suara yang melengking akhirnya membangunkan Andra dari tidurnya, “terlalu nyata untuk sekadar mimpi”batinnya.

Namun sejak menginjakkan kaki di mulut gua, ia merasakan udara di sekitarnya berbeda. Udara yang dirasa lengket, pengap dan dingin yang menggigit tulang.

Pagi menjelang keesokan hari, mereka bersiap menjelajahi gua itu.

Berbekal peralatan yang dibawa, Andra dan teman mahasiswanya berangkat tanpa menggali informasi dahulu sebelum memasuki gua tersebut.

Setapak demi setapak mereka memasuki gua yang belum pernah merek jamah. Namun sekitar 100 meter memasuki gua mereka mendengar suara benda bergerincing seperti rantai yang diseret.

Mereka segera menghentikan langkah, dan melihat sekeliling memastikan aman. Setelah dirasa aman, mereka melanjutkan perjalanan.

Baca juga :  Rahasia Ruang Bawah Tanah Terlarang

Saat baru beberapa langkah maju, mereka mendengar suara rintihan. Semakin lama semakin banyak suara rintihan orang dan semakin jelas terdengar.

Tentunya suara itu membuat mereka penasaran dari mana sumber suara itu.

Mereka melihat seisi gua itu, mencari cari asal sumber suara, namun tak ketemu. Merasa ada yang kurang beres mereka memutuskan kembali esok, karena banyaknya gangguan mistis.

Keesokan harinya, ia memberanikan diri bertanya kepada Pak Raji, sesepuh desa yang terkenal tertutup soal sejarah gua tersebut. Beliau kebetulan tinggal tak jauh dari rumah tempat mereka menginap.

Ditengah obrolan Andra mulai menanyakan hal yang dialami mereka kemaren.

“Pak, semalam saya dengar suara jeritan dari arah gua. Suara rantai juga. Warga sini sering dengar juga?”

Pak Raji menyipitkan mata, lalu menyalakan rokok kretek, “Kamu sudah dengar ya suara arwah mereka yang tak tenang.

Sumber suara itu berasal dari suara 40 mayat perompak.”Penasaran Andra balik bertanya,“Perompak? Yang dulu itu?”

Dilanjut pak Ranji menjawab, “Iya.

Pak Ranji akhirnya menjelaskan,” Mereka berpura-pura menjadi pedagang, padahal mereka adalah gerombolan perampok sadis.”

“Setiba mereka didesa ini mereka malah mau merampok dan memperkosa istri demang”.

“Tapi demang kita, Tatakriyak, terkenal sebagai orang pintar”

“Tatkala perampok itu haus, beliau memberi air dari getah gadung yang membuat mereka mabuk gadung.”

“Kemudian setelah perampok itu teler, langsung dihabisi beramai-ramai dengan warga setempat. Mayat perampok itu dibuang semua ke dalam gua itu.”

“Makanya tempat itu dinamakan ‘Gondo Mayit atau istilahnya bau mayat,” karena mayat perampok itu dibiarkan membusuk didalam gua.” Jelas Pak Raji.

Kemudian Andra bertanya: “Tapi, kenapa masih terdengar suara- suara yang aneh ?”

Baca juga :  Misteri Hantu Boneka Uci di Jalan Siliwangi Bandung

Pertanyaan itu membuat Pak Ranji menatap tajam Andra,
“Karena darah mereka mengutuk tempat itu. Karena masih ada yang belum sempat mati ” pungkas Pak Ranji sambil mengingatkan mereka untuk segera pulang dan jangan meneruskan kegiatannya.

Hari ketiga, tim Andra tetap memutuskan tanpa menghiraukan nasehat Pak Ranji. Mereka masuk gua untuk mendokumentasikan artefak, tanpa sadar mereka semakin masuk ke dalam. Mereka mencium aroma amis dan busuk semakin pekat. Andra tiba-tiba terdiam, matanya kosong menatap kebelakang.

“Dia… ada di belakang kita,” katanya.

Mereka akhirnya serempak menoleh kebelakang dan melihatnya sosok dengan tubuh yang sudah hancur, sebagian daging tergantung, membawa parang penuh darah, menatap dengan mata kosong seperti tengkorak namun tersenyum menakutkan.

Meliat sosok dibelakang mereka, membuat mereka lari terbirit-birit, namun suara jeritan masih mengikuti dari dalam lorong sempit gua sampai mereka mendekati mulut gua. sampai suara itu perlahan menghilang. Dan diakhir ada suara berat serak dan menakutkan Kami belum selesai di sini...”

Redaksi Energi Juang News

Moh Khobir Riyadi
Moh Khobir Riyadihttps://energijuangnews.com/
Sosok pria penulis artikel pada kanal Remang Senja (Horror), Ojo Lali dan Not & Musik. Memberikan tulisan semenarik mungkin untuk kalian para pembaca.
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments