Energi Juang News, Bawen– Cerita tentang Hantu Gulung Kloso telah lama menjadi bisik-bisik menyeramkan di kalangan masyarakat pedesaan dekat sungai Brantas Bawen. Namun tidak banyak yang benar-benar tahu tentang asal usul dan penampakannya yang mengerikan. Hantu ini bukan sekadar cerita pengantar tidur, melainkan bagian dari mitos lokal yang terus diwariskan turun-temurun. Sosoknya dipercaya berdiam di sungai yang tampak tenang, menyamar sebagai tikar atau kloso yang hanyut di permukaan air. Banyak warga Bawen yang melintas di atasnya tanpa menyadari, hingga akhirnya tubuh mereka lemas, darah terkuras, dan jiwa mereka tak pernah kembali. Namun, mayat mereka selalu ditemukan mengapung tanpa bekas luka, seolah tak terjadi apa-apa.
Keanehan dan daya tarik dari Hantu Gulung Tikar adalah pada bentuk penyamarannya yang begitu sederhana namun mematikan. Tikar yang biasanya digunakan untuk duduk atau tidur, diubah menjadi jebakan kematian oleh entitas gaib ini. Konon, permukaan air yang terlihat seperti digelar tikar adalah pertanda hadirnya sosok tersebut. Seorang warga bernama Pak Mijan menceritakan, “Kalau malam-malam lihat sungai kayak ada tikar ngambang, jangan didekati. Itu bisa nyedot nyawa.” Wajahnya berubah tegang saat berbicara, seolah mengingat peristiwa yang pernah ia saksikan sendiri. Ia mengaku pernah melihat sekelompok anak muda yang berenang di malam hari, salah satu dari mereka mendadak hilang tanpa suara.
Dalam kepercayaan lokal, hantu ini diyakini sebagai arwah penasaran dari orang-orang yang mati dalam keadaan tak wajar. Mereka yang mati karena dendam, kecelakaan, atau disia-siakan tanpa ritual yang layak, dipercaya akan kembali dalam wujud menakutkan. Gulungan tikar itu seakan menjadi simbol kematian mereka yang terbungkus dan dibuang begitu saja. Menurut Mbah Darmo, sesepuh desa itu yang sudah berusia 87 tahun, “Dulu banyak jenazah yang nggak sempat dikubur layak, dibuang ke sungai. Arwahnya nggak tenang korban PKI, jadi gulungan itu, nyari gantinya.” Kata-katanya membuat bulu kuduk berdiri, terutama saat ia menceritakan bahwa suara gemericik air malam hari kadang berubah menjadi ratapan halus minta tolong.
Cerita paling mengerikan datang dari pengalaman nyata seorang pedagang keliling bernama Pak Warjan. Suatu malam, ia pulang dari luar kota dan turun dari bus dekat pintu air. Saat berjalan melewati jalur sepi di dekat sungai, ia melihat tikar tergulung di pinggir air. Awalnya ia mengira itu hanya tikar biasa yang hanyut. Namun saat ia lewat, gulungan itu tiba-tiba bergerak mengikuti arus dan kemudian naik ke daratan. Ia tertegun, tidak percaya dengan matanya sendiri.
Bayangan itu terus mendekat, dan perlahan terbentuk sesosok makhluk hitam legam dengan kain yang menggulung tubuhnya. Wajahnya tidak terlihat, hanya tatapan mata merah menyala yang muncul dari balik gulungan itu. “Aku merasa seperti lumpuh, nggak bisa lari atau teriak,” kata Pak Warjan saat diwawancarai. Nafasnya tersengal saat mengenang kejadian itu. “Suaranya kayak bisikan angin di telinga, tapi mengandung teror darah.” Setelah sempat pingsan, ia ditemukan warga keesokan paginya dalam keadaan pucat dan nyaris tak sadarkan diri.
Seorang warga bernama Bu Lastri, yang tinggal tak jauh dari lokasi kejadian, mengaku sering mendengar suara seperti benda berat digulung saat malam hari. “Suaranya kayak ada orang ngegulung tikar besar, tapi suaranya nggak wajar… terlalu berat, terlalu basah,” ujarnya. Ia bahkan menunjukkan sebuah tikar tua yang pernah ditemukan mengambang di kolam belakang rumahnya, yang penuh bercak merah gelap seperti darah kering. Setelah itu, dua ekor ayamnya mati tanpa sebab, dan kucing peliharaannya menghilang. “Sejak itu, saya nggak pernah keluar malam lagi.”
Fenomena Hantu Gulung Kloso juga sering dikaitkan dengan perubahan arus air sungai yang tiba-tiba. Masyarakat percaya, jika air sungai tenang di permukaan namun terasa arus kuat di bawah, itu adalah tanda bahwa hantu itu sedang bergerak mencari korban. “Air bisa kayak nari-nari sendiri,” kata Pak Darto, nelayan lokal. Ia mengaku hampir terhisap saat sedang memperbaiki jaring di malam hari. Untungnya, ia berhasil berpegangan pada batang bambu di pinggir sungai. “Kayak ada yang narik kaki saya ke bawah, tapi nggak kelihatan siapa.”
Mitos ini menjadi bagian penting dalam tradisi lisan masyarakat sekitar sungai. Anak-anak kecil dilarang bermain air saat sore menjelang malam, dan banyak keluarga yang memasang sesajen di pinggir sungai sebagai bentuk penghormatan. Ritual-ritual kecil sering dilakukan saat ada kejadian kehilangan, terutama jika korban ditemukan di air dengan wajah membiru dan mata terbuka. “Itu tandanya dia udah lihat makhluk itu,” ucap Mbah Jono, dukun desa, sambil menaburkan bunga di tepi sungai.
Meski zaman semakin modern, cerita tentang Hantu Gulung Tikar tidak pernah benar-benar hilang. Masyarakat kini justru lebih waspada dan menghargai batas-batas alam yang tak terlihat. Mereka percaya bahwa setiap tempat memiliki penjaganya sendiri, dan sungai adalah wilayah yang harus dihormati. Mitos ini juga menjadi pengingat agar manusia tidak sembarangan memperlakukan lingkungan, karena yang tak terlihat bisa marah dan membalas dengan cara yang tidak terduga.
Pada akhirnya, Hantu Gulung Kloso bukan sekadar cerita menyeramkan, melainkan cermin dari keyakinan mendalam masyarakat terhadap dunia spiritual. Di balik sosoknya yang menakutkan, tersimpan pesan moral dan budaya tentang penghormatan terhadap arwah dan pentingnya menjaga keseimbangan antara dunia nyata dan dunia gaib. Kisah-kisah seperti ini terus hidup dan berkembang, memperkaya warisan budaya lisan yang menjadi identitas masyarakat lokal.
Redaksi Energi Juang News



