Energi Juang News,Surabaya- Suami yang rosa-rosa macam Mbah Marijan, pasti nyerah menghadapi istri model begini, punya ‘istri tahan bantingan’. Wanita itulah Mimin, 30, dari Surabaya. Bayangkan, dalam semalam dia minta “banting-bantingan” di ranjang sampai 3 kali..
Berbeda dengan wanita kebanyakan yang hobinya mengujungi supermarket, shoping sebagai rekreasi sekaligus untuk penyerapan “anggaran” dari suami. Sepanjang gaji suami gede atau sedang menjadi praktisi korupsi, itu tak menjadikan kebangkrutan ekonomi.
Lelaki paling malang se Surabaya mungkin hanyalah Panjul,32 warga Gayungan. Menikah baru 2 tahun lalu, kebahagiannya terenggut gara-gara terjadi revolusi mental diri istrinya.
Dulu Mimin itu terkenal sebagai wanita rumahan, jarang nangga (main ke rumah tetangga). Tapi belakangan, tak sekedar ke rumah tetangga, tapi juga ngelayap ke mana-mana. Bukan belanja atau pergi arisan, tapi jalan-jalan sama PIL-nya.
Awalnya dia ikut kegiatan senam pagi setiap Sabtu pagi di halaman kantor RW. Terus juga ikut terapi ini dan itu. Hasilnya, wowww…..! Bukan saja stamina tubuhnya meningkat, tapi gairah atau libidonya juga naik berlipat-lipat. Biasanya menikmati sentolop suami cukup dilakukan tiga kali seminggu sesendok makan, sekarang maunya tiap malam dan nambah sampai 2 kali.
Panjul yang cuman makan telor bebek satu biji dan ukuran sentolop pas pasan benar-benar kuwalahan. Istilah yang pas yaitu ‘kodok kalung kupat awak boyok sing gak kuwat’ (Katak berkalung ketupat,badan pinggang yang gak kuat ).
Sebagai pegawai bank yang kerja dari jam 07.00 hingga 18.00 setiap hari, benar-benar kehabisan energi setiap sampai di rumah. Tapi malamnya Mimin mengajak “banting-bantingan”, menuntut pelayanan purna ranjang secara sempurna. Ketika sekali saja sudah KO, Mimin justru menyindir, “Ganti saja namamu Mas, jangan Panjul, tapi Jul Keple….”
Keple atau kepleh, dalam bahasa Jawa artinya lemah. Sedikit kata-kata itu, tapi nama itu dirasa ‘sengak’ didengar bagi Panjul. Bagaimana mungkin ganti nama orang tanpa pakai slametan jenang abang-putih. Tapi karena yang menjuluki istri sendiri, Panjul mencoba memaklumi sekaligus memaafkan.
Belakangan tingkah polah Mimin mulai mencurigakan. Dia mulai gemar dandan, mematut diri. Alis yang sudah tepat pada tempatnya, dikerok dan ganti jalur agak ke atas, mentang-mentang tak perlu menggusur dan membayar ganti rugi. Baju-bajunya juga dikemas lebih seksi dan kekinian.
Seminggu lalu Panjul menemukan jawaban dari semua ini. Dia melihat dengan mata kepala sendiri, Mimin makan di mall dengan ditemani seorang lelaki, pakai suap-suapan segala. Di tempat umum saja begitu, apa lagi di tempat khusus, pasti lebih seru. “Mati aku…., hu hu…..”sesal Panjul kala itu.
Ya, mau nangis malu, lebih baik Panjul tak mau bikin gaduh di ranah publik. Dia pulang dan mengadu ke mertua. Ternyata mertua hanya pasrah, ibarat orang angkat barang, jika tak kuat ya letakkan saja. Merujuk kata mertua, beberapa hari lalu Panjul mendatangi kantor Pengadilan Agama untuk melakukan gugatan cerai.
Mestinya minum jamu dua kali dosis, takut jantung yang tak kuat!
Redaksi Energi Juang News



