EnergiJuangNews,Klaren-Desa di Klaten itu selalu terasa sunyi selepas azan Isya, seolah malam menelan suara-suara yang biasanya hidup di siang hari. Lampu-lampu rumah warga Klaten Timur redup, bukan karena listrik mati, melainkan karena kebiasaan lama: mereka percaya cahaya terlalu terang bisa mengundang sesuatu yang tak kasatmata. Bagus—bukan nama sebenarnya—menyadari keheningan itu sejak ia kembali ke rumah orang tuanya. Sudah tiga tahun ia pulang dengan status yang sama: sendiri. Di usia yang dianggap “kelewat matang” oleh standar desa, tatapan iba dan bisik-bisik tetangga menjadi makanan sehari-hari.
“Wis wayahe kowe nduwe bojo, Gus,” ujar Bu Parti suatu sore di warung, suaranya lirih tapi tajam.
“Iyo, Bu… insyaallah,” jawab Bagus, senyum dipaksakan.
Namun malam itu berbeda. Angin berembus membawa bau tanah basah bercampur kemenyan samar. Dari kejauhan, suara kentongan dipukul satu kali—tanda peringatan sunyi yang sudah lama tak digunakan. Bagus menelan ludah, dadanya berdebar tanpa sebab jelas. Ia merasa seperti sedang ditunggu oleh sesuatu, oleh keputusan yang tak bisa dihindari. Dalam gelap kamar, ia duduk memeluk lutut, memandangi bayangan dinding yang seolah bergerak sendiri.
Ibunya pernah berbisik bahwa ada jalan lain bagi mereka yang terlalu lama menunggu takdir. Jalan yang tidak tercatat di buku agama, tapi diwariskan dari mulut ke mulut. Jalan yang membutuhkan pengorbanan lebih dari sekadar doa. Malam semakin pekat, dan di antara desir angin, Bagus mendengar bisikan pelan—entah dari pikirannya sendiri atau dari sudut rumah yang tak pernah ia jamah sejak kecil.
Baca juga : Hari Ini, Warga Muhammadiyah dan Umat Katolik Mulai Berpuasa
“Yen kowe kepengin tenan, kudu wani mbayar regane”.
Keesokan harinya, Bagus memberanikan diri menemui Mbah Karto, sesepuh desa yang rumahnya berdiri di tepi kebun bambu. Lelaki tua itu dikenal jarang bicara, namun ucapannya selalu dianggap memiliki bobot. Saat Bagus mengutarakan kegelisahannya, Mbah Karto menatapnya lama, seolah menimbang nyawa di balik mata cucunya itu.
“Kowe ngerti apa sing mbok jaluk?” tanya Mbah Karto pelan.
“Ngertos, Mbah… kula mung pengin enteng jodho,” jawab Bagus.
Asap rokok linting melayang di antara mereka. Mbah Karto lalu menyebut sebuah laku tua, Ritual Pati Geni Jawa, yang konon mampu mematikan nafsu duniawi demi membuka pintu takdir. Ia menjelaskan bahwa laku itu bukan sekadar puasa biasa, melainkan pengurungan diri dalam gelap total, tanpa makan, minum, cahaya, bahkan tidur. Api harus “dimatikan”—api dalam diri manusia.
“Geni iku napsu. Yen ora dipateni, ora bakal ono sing teko,” ujar Mbah Karto.
“Risikonipun?” Bagus menelan ludah.
“Akeh sing bali ora utuh,” jawabnya singkat.
Warga sekitar tahu kisah-kisah lama tentang mereka yang mencoba laku serupa. Ada yang mendadak kaya, ada yang kebal senjata, namun tak sedikit pula yang kehilangan akal. Di warung, kabar Bagus cepat menyebar.
“Gus arep nindakake iku?” bisik seorang pemuda.
“Edan tenan yen iya,” sahut yang lain.
Namun bagi Bagus, ejekan tak lagi berarti. Ia sudah terlalu lama menunggu.
Hari pelaksanaan ditentukan berdasarkan weton kelahiran Bagus. Warga sepuh menegaskan bahwa laku ini tak boleh sembarangan waktu. Malam sebelum dimulai, ibunya menangis diam-diam.
“Yen ora kuat, mandek wae, Le,” katanya.
“Mandek ora iso, Buk,” jawab Bagus lirih
Ia dikurung di sebuah ruangan sempit di belakang rumah, dindingnya dilapisi anyaman bambu tua. Tak ada celah cahaya. Lilin dipadamkan. Pintu dikunci dari luar. Di dalam kegelapan total, Bagus mulai melafalkan mantra yang diajarkan MbahKarto. Jam demi jam berlalu tanpa penanda waktu. Haus membakar tenggorokan, lapar melilit perut.
Pada malam pertama, ia masih mendengar suara ayam, anjing, dan langkah manusia. Malam kedua, suara-suara itu berubah menjadi bisikan.
“Kowe ora pantes dicintai…”
“Kowe mung kepengin nduweni, dudu ngasihi…”
Bagus menutup telinga, namun suara itu muncul dari dalam kepalanya sendiri.
Memasuki hari ketiga, tubuh Bagus mulai gemetar. Ia tak tahu apakah masih siang atau malam. Dalam kegelapan, ia melihat kilatan cahaya palsu—bayangan api yang menari.“Geni… geni…” bisik suara asing.Di luar, warga mulai resah.“Aku krungu ana sing nangis wengi mau,” kata Pak Lurah.“Iku saka omahe Bagus,” jawab Bu Parti.Mbah Karto hanya menggeleng.“Yen durung rampung, ora oleh diganggu.
Hari-hari selanjutnya berubah menjadi siksaan batin. Bagus melihat sosok perempuan tanpa wajah mendekat, meraba dadanya.“Aku sing mbok tunggu,” katanya.Ia ingin lari, namun tubuhnya tak bergerak. Dalam kondisi setengah sadar, ia menyadari bahwa apa pun yang datang bukanlah manusia.
Pada hari ke-40, keheningan desa pecah oleh jeritan. Warga mendobrak pintu ruangan itu. Bagus ditemukan duduk tersenyum, matanya kosong.“Aku wis ketemu jodhone,” katanya pelan.Tak ada siapa-siapa di sana selain dirinya.
Sejak hari itu, Bagus sering berbicara sendiri. Ia menyebut nama perempuan yang tak dikenal siapa pun.“Dheweke teko saben wengi,” ujarnya pada Bagus.
Beberapa bulan kemudian, seorang perempuan cantik datang ke desa, mengaku istri Bagus. Tak satu pun warga mengenalnya.“Sampeyan sopo?” tanya Pak Lurah.Perempuan itu tersenyum, dingin.“Aku sing dipanggil,” jawabnya.
Sejak kedatangan perempuan itu, kematian misterius terjadi. Ayam mati, tanaman layu, anak-anak demam tinggi.“Laku iku njaluk tumbal,” bisik Mbah Karto penuh penyesalan.
Kini rumah Bagus kosong. Perempuan itu menghilang bersama dirinya. Warga percaya, Ritual Pati Geni Jawa memang bisa mendatangkan jodoh—namun bukan jodoh dari dunia manusia. Hingga kini, tiap malam weton tertentu, dari rumah kosong itu terdengar suara dua orang tertawa dalam gelap, seolah api telah mati… namun menyisakan abu yang tak pernah benar-benar padam.
Redaksi Energi Juang News



