Energi Juang News, Jakarta- Peristiwa awal 1 Oktober 1965 menjadi titik balik sejarah bangsa. Pada dini hari itu, anggota Gerakan 30 September meninggalkan markas mereka di Lubang Buaya dengan misi menculik tujuh jenderal Angkatan Darat. Malam harinya, mereka kembali membawa tiga jenazah dan empat perwira yang masih hidup. Para penyintas kemudian dibunuh, dan ketujuh jasad itu dibuang ke dalam sumur bekas yang sempit dan gelap.
Tanggal 4 Oktober, jenazah ditemukan menggunakan peralatan khusus, dalam operasi yang diawasi langsung oleh Soeharto. Sejak masa Orde Baru, setiap 1 Oktober diadakan upacara resmi mengenang tragedi tersebut.
Sore itu, Pak Pardi,55th warga setempat sedang duduk di sebuah warung kecil tak jauh dari kompleks memorial. Angin berembus pelan dingin tak seperti biasa, dan suara gesekan dedaunan seolah mengisyaratkan akan terjadi peristiwa mistis. Menjelang Magrib matahari hampir tenggelam, warna jingga menyelimuti pepohonan didekat yang dikenal sebagai sumur Lobang Buaya.
Padli tak sengaja menatap sumur itu dari kejauhan, sekitar dua belas meter dari tempat ia duduk. Wajahnya seketika berubah tegang, mendengar teriakan yang seolah berasal dari sumur itu. “Bang, saya enggak bohong,” katanya lirih. “Waktu itu menjelang magrib. Tiba-tiba ada suara teriak, ‘Tolong… tolong saya…’ jelas banget. Suaranya kayak orang kesakitan. Bukan suara hewan.” Pardi cerita pengalamannya pertama kali mendengar suara itu.
Ia mengaku saat itu bulu kuduknya berdiri. Gambaran adegan pembantaian dari film propaganda lama terlintas di benaknya. Suasana mendadak mencekam, udara terasa berat. Hingga tak kuasa menahan rasa takut yang memuncak, membuat ia tak sadarkan diri dipinggir jalan itu. Dan ditemukan warga dalam posisi meringkuk seolah menahan dingin.
“Seberapa jelas?” tanya warga lebih detail. Padli sebelum menjawab menelan ludah. “Jelas seperti orang berdiri di dekat telinga saya. Padahal di sekitar sumur enggak ada siapa-siapa.” Seketika cerita pengalaman Pardi dengan cepat menyebar, hingga sampai ke telinga Encih 60th, tukang sapu kompleks itu.
Namun kisah tidak berhenti di situ.
Mendengar cerita itu beredar, Encih seorang tukang sapu yang telah bekerja di area itu selama bertahun-tahun. Wajahnya keriput, tetapi sorot matanya tajam.
“Kalau magrib jangan lama-lama di sini,” katanya tegas mengingatkan.
“Kenapa, Bu?” tanya salah seorang warga memancing.
Encih menurunkan suaranya. “Saya pernah dengar tangisan anak kecil. Nangisnya pilu… kayak kehilangan ibunya.”
“Di dekat sumur?”
“Iya. Tapi pas saya dekati, sunyi. Enggak ada siapa-siapa.”
Ia mengaku suara itu sering muncul ketika area sepi. Bukan hanya sekali. Tangisan itu terdengar nyata, seakan berasal dari dasar tanah.
Namun kesaksian paling mengerikan datang dari Fahmi,34th seorang penjaga malam kompleks itu.
Fahmi bertubuh tegap, tetapi ketika ia menceritakan pengalamannya, tangannya sedikit gemetar.
“Malam itu saya patroli biasa,” ujarnya. “Sekitar jam dua pagi.”
Ia berdiri tak jauh dari sumur tua ketika hawa dingin tiba-tiba menyergap ditambah aroma aneh menyeruak malam itu.
“Tiba-tiba ada suara langkah dari arah sumur,” katanya pelan. “Padahal area sudah dikunci.”
“Langkah manusia?” tanya warga.
“Iya. Berat… seperti sepatu bot.”
Fahmi mengaku melihat sosok tentara muncul perlahan dari kegelapan. Wajahnya rusak, berlumuran darah. Seragamnya kusut, mata kosong menatap lurus ke arahnya.
“Saya enggak bisa gerak,”pengakuannya. “Sosok itu berdiri sebentar, lalu… hilang begitu saja.”
Ia bersumpah bukan berhalusinasi. Sejak malam itu, ia selalu menghindari berdiri terlalu dekat dengan sumur setelah tengah malam.
Dari sudut pandang supranatural, lokasi tragedi besar seperti ini menyimpan apa yang disebut psychic imprint—jejak emosi ekstrem yang tertanam dalam ruang. Ketakutan, rasa sakit, dan kematian mendadak menciptakan “rekaman energi” yang dapat terpicu oleh waktu tertentu, seperti menjelang magrib atau dini hari.
Apakah itu sekadar sugesti setelah mendengar begitu banyak kisah? Atau benar ada sesuatu yang tertinggal di kedalaman sumur itu?
Tetapi satu hal pasti: tempat ini tidak pernah benar-benar sunyi. Sejarah mungkin telah ditulis, upacara mungkin rutin digelar, tetapi energi masa lalu seolah masih berputar, menunggu untuk didengar.
Dan jika Anda berdiri terlalu dekat dengan sumur tua itu menjelang magrib, maka bersiaplah.
Redaksi Energi Juang News



