Energi Juang News, Jakarta- Malam itu udara desa terasa lebih dingin dari biasanya. Jalanan sepi, hanya suara mesin motor dan gesekan angin yang menyentuh dedaunan. Seorang pemuda pulang sendirian dari acara temannya. Waktu sudah larut, hampir tengah malam, dan jarak rumahnya cukup jauh.
Rute yang dilalui bukan jalan ramai. Ia harus melewati jalan bulak di permatang sawah, lalu jalan sempit dengan deretan pepohonan tinggi, kemudian satu gang kecil di dekat pemakaman desa. Jalur itu biasa saja di siang hari, tetapi berbeda saat malam.
Mesin motor meraung pelan. Lampu depan menyorot jalan kosong.
“Cepat sampai rumah… cepat sampai rumah…” gumamnya.
Saat melintasi gang kuburan, tiba-tiba terdengar suara perempuan memanggil.
“Mas…”
Suaranya lirih. Tidak jelas dari mana arah datangnya.
Pemuda itu langsung merinding. Tangannya refleks menarik gas lebih dalam.
Ia tidak berani menoleh.
Dalam ketakutan, ia membaca doa sebisanya. Bahkan tanpa sadar, doa yang diucapkan bercampur—doa sebelum makan, doa perjalanan, dan potongan ayat yang ia ingat seadanya.
“Yang penting baca… yang penting baca…” bisiknya panik.
Sepuluh menit kemudian, ia tiba di rumah. Tidak ada suara lagi. Ia merasa sudah aman.
Seperti kebiasaan orang Jawa, ia langsung membersihkan diri agar “sawan” tidak ikut masuk. Ia membasuh wajah, mencuci tangan dan kaki, lalu masuk kamar.
Lampu dimatikan. Ia memejamkan mata.
Belum lama tertidur, pintu kamar terbuka keras.
“KELUAR KAMU DARI SINI!”
Suara kakaknya menggema keras. Nada suaranya tinggi, seperti marah besar.
Pemuda itu setengah sadar, kebingungan.
“Ada apa, Kak?”
Namun kakaknya tidak menjawab. Matanya menatap satu titik di sudut kamar.
“Pergi kamu! Jangan ganggu adikku!” teriaknya.
Ia mengambil air dalam gelas, membaca doa, lalu memercikkannya ke arah kosong.
“Aku bakar kamu kalau tidak keluar!” ancamnya.
Pemuda itu duduk terpaku. Ia tidak melihat siapa pun, tetapi suasana kamar terasa berat dan dingin.
Kakaknya terus melantunkan doa dengan suara tegas, seperti seseorang yang terbiasa menghadapi sesuatu yang tak kasat mata.
Beberapa menit kemudian, suasana perlahan tenang.
Napas kakaknya mulai normal.
“Ada apa sebenarnya?” tanya pemuda itu pelan.
Kakaknya menatap tajam. “Kamu habis dari mana?”
Ia menjelaskan perjalanan pulang dan suara perempuan di gang kuburan.
Kakaknya langsung menunjuk.
“Nah itu! Dia yang ikut kamu.”
Pemuda itu menelan ludah.
“Dia masuk rumah bareng kamu. Duduk di sampingmu waktu kamu tidur.”
“Seperti apa dia?”
Kakaknya menarik napas panjang.
“Perempuan. Rambut panjang acak-acakan. Wajahnya rusak… seperti tidak utuh. Pakaiannya kotor. Dia menatapmu terus.”
Pemuda itu gemetar.
“Untung aku belum tidur. Kalau tidak, dia bisa ikut kamu terus.”
Keesokan harinya, kabar kejadian itu tersebar di lingkungan sekitar. Beberapa warga memberikan cerita yang membuat suasana semakin mencekam.
Seorang tetangga tua berkata pelan di teras rumah.
“Dulu di gang itu pernah ada perempuan meninggal tidak wajar. Sejak itu sering ada yang dipanggil kalau lewat malam.”
Seorang bapak yang kebetulan lewat ikut menimpali.
“Ponakan saya juga pernah dengar suara yang sama. Dipanggil tiga kali. Kalau ditoleh, katanya bisa ikut.”
Di warung kecil dekat jalan, ibu penjual kopi mengangguk setuju.
“Makanya orang sini kalau lewat situ selalu baca doa. Jangan melamun.”
Malam berikutnya, pemuda itu tidak berani tidur sendiri. Ia memilih tidur bersama ibunya.
“Sini saja, Nak,” kata sang ibu sambil menepuk kasur. “Kalau hati belum tenang, jangan memaksa.”
Ia hanya mengangguk. Bayangan wajah perempuan itu terus terngiang meski ia tidak pernah melihatnya langsung.
Beberapa hari kemudian, kakaknya kembali menasihati.
“Kalau keluar rumah, niatkan baik. Jangan pulang terlalu malam. Tidak semua yang memanggil itu manusia.”
Pemuda itu mengiyakan. Ia menyadari ketakutan malam itu bukan sekadar imajinasi.
Di desa, cerita tentang suara perempuan di gang kuburan sudah lama beredar. Ada yang menganggap itu hanya sugesti. Namun ada pula yang percaya bahwa beberapa tempat menyimpan jejak peristiwa yang tidak selesai.
Seorang warga sepuh pernah berkata dalam perbincangan malam di pos ronda:
“Makhluk seperti itu bukan selalu ingin mencelakai. Kadang hanya mengikuti karena merasa dilihat, didengar, atau tidak sengaja diajak.”
Sejak kejadian itu, pemuda tersebut tidak pernah lagi pulang larut malam sendirian melewati gang kuburan. Ia selalu memilih jalan memutar, meski lebih jauh.
Namun setiap kali melewati area sawah saat malam, ia merasa seperti ada mata yang mengawasi dari kejauhan.
Ia tidak pernah lagi mendengar suara itu secara langsung.
Tetapi satu hal yang tidak pernah hilang adalah perasaan bahwa malam memiliki penghuni yang tidak semua orang bisa lihat.
Dan di desa itu, warga masih percaya—jika ada yang dipanggil dari gang kuburan saat larut malam, sebaiknya jangan menoleh.
Redaksi Energi Juang News



