Selasa, Juni 2, 2026
spot_img
BerandaRemang SenjaKisah Konser Gaib Musik Religi di Kaki Gunung Merapi

Kisah Konser Gaib Musik Religi di Kaki Gunung Merapi

Energi Juang News, Jakarta– Malam itu terasa berbeda dari biasanya. Langit berwarna kelabu dengan angin dingin yang menusuk kulit. Nadia, seorang penyanyi dangdut religi yang cukup dikenal di wilayah Sleman, tak mengira bahwa perjalanan manggung kali ini akan mengubah hidupnya. Ia dan enam rekannya mendapat tawaran tampil di sebuah acara pernikahan yang katanya berlokasi di kaki Gunung Merapi. Tempatnya sudah pernah dikunjungi oleh salah satu anggota grup musik mereka. Semua tampak biasa saja, tanpa firasat buruk sedikit pun. Namun, siapa sangka bahwa ini bukanlah undangan konser biasa, melainkan perjalanan menuju dunia lain yang sarat misteri.

Setibanya di lokasi yang terletak di lereng Merapi, suasana terasa ganjil. Meskipun dekorasi pernikahan tampak semarak dengan lampu gantung, kain putih menjuntai, dan bunga melati di setiap sudut, ada aroma wewangian aneh menyengat yang tak bisa dijelaskan asalnya. Para tamu duduk tertunduk diam, nyaris tanpa suara. Nadia sempat berbisik ke rekannya, “Lho, kok sepi banget ya? Biasanya acara kayak gini ramai suara orang ngobrol.” Namun tak ada jawaban yang meyakinkan. Mata para tamu tampak sayu dan kosong, seolah tanpa jiwa. Salah satu pria tua yang duduk di pojok bahkan terlihat seperti membeku, wajahnya pucat dan matanya cekung.

Acara dimulai dengan pembacaan ayat suci dan dilanjutkan tausiah dari seorang ustadz berwajah suram. Namun isi ceramahnya membuat bulu kuduk merinding. Ia berbicara tentang kematian, kehilangan, dan keikhlasan melepas dunia. Kata-katanya seperti doa perpisahan yang ditujukan kepada orang-orang yang sudah tiada. “Kita semua harus siap… karena maut bisa menjemput kapan saja, bahkan saat kita merayakan kebahagiaan,” ucapnya pelan. Nadia mulai merasa tak nyaman. Ia menyikut rekannya dan berbisik, “Ini beneran acara nikahan, kan?”

Baca juga :  Larangan Jimat Keramat di Jalur Pendakian Gunung Slamet

Ketika tausiah berakhir, para tamu tetap tak berubah posisi. Tak ada tepuk tangan, tak ada tawa. Yang lebih janggal, pengantin yang ditunggu-tunggu tak kunjung muncul. Merasa aneh, Nadia memberanikan diri bertanya kepada seorang wanita paruh baya yang duduk di sebelahnya. Dengan suara pelan dan hampir seperti bisikan, wanita itu menjawab tanpa menoleh, “Pengantinnya sudah meninggal…” Seketika Nadia merasa darahnya mengalir lebih cepat. “Apa maksudnya?!” gumamnya tak percaya. Namun sebelum ia sempat bertanya lebih lanjut, suara MC memanggil namanya untuk tampil di panggung.

Begitu Nadia melangkah ke atas panggung, para tamu yang sejak tadi tertunduk perlahan menengadahkan kepala. Tatapan mereka serentak mengarah kepadanya. Nadia menahan napas ketika menyadari bahwa wajah-wajah itu tak wajar. Kulit mereka pucat kehijauan, bola mata hitam legam tanpa cahaya, dan beberapa bahkan tampak seperti mulai membusuk. Sosok arwah itu diam, namun sorot mata mereka seperti menusuk hingga ke tulang. Nadia ingin lari, tapi kakinya seakan berat tak bisa digerakkan. Ia memaksakan diri menyanyikan lagu religi pertamanya dengan suara bergetar.

Selama dua lagu dinyanyikan, Nadia merasa tubuhnya dikelilingi hawa dingin yang menusuk. Salah satu pengunjung di barisan depan terlihat tersenyum aneh, mulutnya lebar namun tak terlihat gigi. Rekannya di belakang bahkan sempat pingsan sesaat saat melihat sosok anak kecil tanpa wajah berdiri di sisi kiri panggung. Suasana semakin mencekam, dan Nadia hanya berharap waktu segera berlalu. Begitu lagu kedua selesai, ia langsung turun tanpa menunggu aba-aba, mengambil amplop bayaran, dan mengajak teman-temannya segera pergi dari tempat tersebut.

Dalam perjalanan pulang, mereka melewati jalanan sepi dengan kabut tipis menutupi pandangan. Di beberapa titik, mereka melihat warga berdiri di pinggir jalan. Tapi yang aneh, mereka semua mengenakan baju putih lusuh, wajah mereka hitam legam, dan mata mereka kosong. Salah seorang sopir angkot yang kebetulan mereka tanya saat berhenti membeli air berkata, “Lho, mbak… kalau dari atas situ tadi, jangan-jangan sampean manggung di lokasi bekas bencana. Sudah nggak ada warga yang tinggal di sana.” Nadia hanya bisa menelan ludah dan menatap sopir itu tanpa bisa berkata-kata.

Baca juga :  Misteri Watu Mejo Pacitan Tempat Pertapaan Paling Angker

Setibanya di rumah, Nadia langsung membuka amplop yang ia terima. Namun betapa terkejutnya ia ketika mendapati isinya hanyalah uang yang hangus terbakar, gosong dan rapuh di tangan. Beberapa rekannya juga mengalami hal yang sama. Mereka semua dicekam ketakutan, dan sejak malam itu tak ada satu pun dari mereka yang berani tidur sendiri. Bahkan ada yang mengaku melihat sosok wanita berjubah putih duduk di sudut kamarnya tengah malam, memandangi mereka dalam diam.

Beberapa hari setelah kejadian, Nadia akhirnya mencari tahu lewat seorang kenalan yang tinggal di kawasan Gunung Kidul. Ia menunjukkan lokasi acara tersebut dan menanyakan apakah benar ada pernikahan di sana. Warga lokal yang ditanya sempat terdiam lama sebelum akhirnya menjawab, “Tempat itu… dulunya memang tempat hajatan. Tapi waktu Merapi meletus belasan tahun lalu, semua orang yang hadir jadi korban. Mayatnya bahkan nggak semuanya ditemukan. Sejak itu, tiap malam Jumat Kliwon, kadang orang masih lihat ada pesta di sana…” Cerita itu menutup teka-teki mengerikan yang hampir merenggut nyawa Nadia dan rekan-rekannya. Sejak saat itu, Nadia berhenti menerima job tanpa tahu pasti siapa pengundangnya.

Redaksi Energi Juang News

Moh Khobir Riyadi
Moh Khobir Riyadihttps://energijuangnews.com/
Sosok pria penulis artikel pada kanal Remang Senja (Horror), Ojo Lali dan Not & Musik. Memberikan tulisan semenarik mungkin untuk kalian para pembaca.
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments