Sabtu, Juli 25, 2026
spot_img
BerandaRemang SenjaKuntilanak di Makam Keramat

Kuntilanak di Makam Keramat

Energi Juang News, Jakarta- Malam itu, udara di sekitar pemakaman terasa lebih dingin dari biasanya. Kabut tipis merayap di antara pepohonan tua, sementara suara jangkrik yang sejak tadi terdengar mendadak lenyap. Di tempat yang dipercaya memiliki aturan tak tertulis itu, Jono berdiri dengan napas memburu. Matanya terpaku pada sosok perempuan di kejauhan yang sangat mirip dengan Marni.

“Jono… jangan ke sana!” teriak seorang warga dari kejauhan. Namun, suara itu seperti lenyap ditelan gelap. Jono sudah tidak mampu berpikir jernih. Baginya, sosok yang berdiri di bawah pohon itu adalah Marni, perempuan yang selama ini memenuhi pikirannya. Tanpa pikir panjang, ia pun berlari menghampiri.

Padahal, Jono sedang menjalani pertapaan di makam keramat tersebut. Warga sebelumnya sudah mengingatkan agar ia tidak tergoda oleh apa pun yang muncul selama menjalani laku. “Kalau sudah masuk, jangan menoleh dan jangan percaya apa yang kamu lihat,” pesan seorang sesepuh sebelum Jono memulai pertapaan. Namun, cinta dan rasa bersalah kepada Marni membuat semua nasihat itu terlupakan.

“Marni… Marni, maafkan aku!” teriak Jono sambil terus mendekat. Sosok perempuan itu tidak menjawab. Ia hanya berdiri diam dengan rambut panjang yang menutupi sebagian wajah. Beberapa detik kemudian, kepalanya perlahan terangkat. Tawa pecah dari mulutnya, mula-mula kecil, lalu semakin keras dan menggema di antara nisan.

Jono berhenti. Darahnya terasa membeku. Perempuan itu memang memiliki wajah Marni, tetapi tatapannya bukan lagi tatapan manusia. Matanya membulat, kulitnya pucat pasi, dan senyum di wajahnya melebar secara tidak wajar. “Kamu bukan Marni…” bisik Jono dengan suara bergetar.

Tawa itu semakin nyaring. Sosok tersebut kemudian memperlihatkan wajah yang berubah mengerikan. Saat itulah Jono menyadari bahwa ia telah tertipu oleh penampakan kuntilanak yang mengambil rupa orang yang paling dirindukannya. “Astaghfirullah!” teriaknya sebelum berbalik dan berlari sekuat tenaga.

Baca juga :  Santet Susuk Konde dan Teror Benda Tajam di Dalam Tubuh

“Jono! Lari ke arah suara kami!” teriak warga yang menunggu di luar area makam. Namun, Jono seolah tidak mendengar. Ia berlari tanpa melihat jalan di depannya hingga tiba-tiba tubuhnya terjungkal. Kakinya tersangkut akar besar yang muncul dari tanah. Dengan lutut terluka, ia bangkit dan kembali berlari.

Anehnya, semakin jauh ia berlari, suasana makam justru terasa semakin asing. Pohon yang sama kembali muncul di hadapannya. Nisan yang tadi dilewatinya kembali terlihat. Jalan setapak yang seharusnya menuju pintu keluar selalu membawanya ke tempat semula. “Saya sudah berputar-putar, tapi makam itu seperti tidak ada ujungnya,” kata Jono kemudian kepada warga.

Di tengah kepanikan itu, Jono akhirnya menyadari kesalahannya. Ia gagal menyelesaikan pertapaan karena tidak mampu mengendalikan godaan dunia. Larangan yang sejak awal dianggapnya sepele ternyata menjadi ujian paling berat. Sosok Marni bukan hanya menakutinya, tetapi juga membuka kembali rasa cinta, penyesalan, dan kehilangan yang selama ini masih ia simpan.

“Pertapaan itu bukan cuma duduk diam dan menahan lapar,” ujar seorang warga sepuh. “Yang paling sulit adalah melawan pikiran sendiri. Kalau hati masih terikat, apa pun bisa datang untuk menggoda.” Menurut warga setempat, kisah Jono kemudian menjadi peringatan bagi siapa saja yang datang ke makam keramat agar tidak meremehkan pantangan dan nasihat orang-orang yang lebih dulu mengenal tempat tersebut.

Hingga kini, cerita tentang Jono dan sosok perempuan yang menyerupai Marni masih dibicarakan dari mulut ke mulut. Sebagian menganggapnya sebagai kisah mistis, sementara yang lain melihatnya sebagai pelajaran tentang manusia yang gagal menaklukkan rasa cinta dan penyesalan. Namun bagi Jono, malam itu meninggalkan luka yang jauh lebih dalam. Ia memang berhasil keluar dari tempat tersebut, tetapi sejak saat itu, ia mengaku tidak pernah lagi berani menoleh ketika mendengar suara perempuan tertawa dari arah makam.

Baca juga :  Topeng Genduk di Malam Tujuh Belasan

Redaksi Energi Juang News

Moh Khobir Riyadi
Moh Khobir Riyadihttps://energijuangnews.com/
Sosok pria penulis artikel pada kanal Remang Senja (Horror), Ojo Lali dan Not & Musik. Memberikan tulisan semenarik mungkin untuk kalian para pembaca.
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments