Energi Juang News,Jakarta-Malam di Jakarta selalu punya dua wajah. Yang pertama adalah wajah gemerlap, penuh lampu dan hiruk-pikuk kehidupan. Yang kedua—yang jarang dibicarakan—adalah wajah sunyi yang hanya muncul setelah lewat tengah malam, ketika jalanan mulai kosong dan suara kota perlahan memudar.
Di jam-jam seperti itulah, cerita-cerita lama sering kembali hidup.
Raka, seorang pengemudi ojek online, sudah terbiasa bekerja hingga dini hari. Baginya, jalanan sepi justru lebih menguntungkan. Tidak macet, orderan lancar.
Namun malam itu berbeda.
Order terakhirnya mengarah ke sebuah rumah sakit tua di pinggiran Jakarta. Bangunannya sudah lama tidak beroperasi, sebagian temboknya retak, catnya mengelupas, dan halaman depannya dipenuhi rumput liar.
“Seriusan ini titiknya di sini?” gumam Raka sambil melihat aplikasi.
Tak ada siapa-siapa.
Order tiba-tiba dibatalkan.
Ia menghela napas kesal.
“Ah, paling iseng…”
Saat hendak berbalik arah, matanya tertuju pada sesuatu di depan gerbang rumah sakit.
Sebuah ambulans.
Mobil itu terlihat tua. Cat putihnya kusam, dengan bekas garis merah yang hampir pudar. Namun yang membuat Raka merinding karena lampu depannya menyala, padahal mesin jelas tidak hidup.
“Siapa yang nyalain ya…” gumamnya pelan.
Ia turun dari motor, melangkah mendekat dengan ragu.
Dari dalam ambulans, kaca tampak gelap. Tak terlihat ada orang.
Namun tiba-tiba “Klik” Lampu mati.
Raka langsung mundur satu langkah. “Ah… mungkin korsleting…”
Ia mencoba menenangkan diri, meski bulu kuduknya mulai berdiri.
Keesokan harinya, Raka kembali ke lokasi itu di siang hari. Rasa penasarannya mengalahkan rasa takut semalam.
Ia bertemu dengan Pak Hendra, seorang penjual kopi keliling yang sering mangkal di dekat sana.
“Pak, itu ambulans di depan rumah sakit… masih dipakai ya?” tanya Raka.
Pak Hendra langsung menatapnya tajam.
“Kamu lihat malam-malam?”
Raka mengangguk.
Pak Hendra menghela napas panjang.
“Itu bukan ambulans biasa, Nak.”
“Loh?”
“Dulu, ambulans itu sering dipakai angkut korban kecelakaan. Sekali waktu… ada kecelakaan besar. Sopirnya meninggal di tempat, bersama jenazah yang dia bawa.”
Raka menelan ludah.
“Sejak itu… ambulans itu sering jalan sendiri.” “Jalan sendiri maksudnya gimana, Pak?”
Pak Hendra menatap ke arah rumah sakit tua itu.“Tanpa sopir.”
Raka tidak bisa melupakan cerita itu dan seperti kebanyakan orang yang penasaran terhadap hal mistis ia kembali lagi. Malam kedua, pukul 01.45.
Ia sengaja berhenti agak jauh dari gerbang rumah sakit. Ambulans itu masih ada.
Lampunya mati suasana sunyi.
Raka mengamati dari kejauhan lima menit sepuluh menit tidak ada apa-apa.“Ah… mungkin cuma cerita…”
Ia hampir menyalakan motor apabila.
Ketika tiba-tiba lampu ambulans menyala sendiri,mesin berbunyi pelan.
Raka membeku. “Gak mungkin…” Perlahan… ambulans itu bergerak maju tanpa ada orang di dalam.
Ambulans itu keluar dari gerbang, berbelok ke jalan utama.
Raka, entah kenapa, justru mengikutinya.
Jaraknya sekitar 20 meter dijalanan kosong, lampu jalan redup.
Ambulans itu melaju perlahan, seperti mencari sesuatu.
Lalu sirinenya berbunyi pelan.
Dab ada cerita dari waga yang melintas, “Saya pernah berhenti di lampu merah. Ambulans itu di belakang saya. Pas lampu hijau, dia nyalip… tapi tiba-tiba hilang di tikungan.”
“Serius, Pak?”
Sopir itu mengangguk pelan.
“Yang nyetir… bukan manusia lagi.”
Hingga kini, ambulans itu masih sering terlihat.
Kadang terparkir di depan rumah sakit tua,kadang melintas di jalanan sepi.,kadang… muncul di kaca spion pengendara.
Redaksi Energi Juang News



