Energi Juang News, Bawean- Malam itu sunyi, hanya suara jangkrik dan desir angin yang menyapu dedaunan terdengar di sudut desa Kumalasa, Pulau Bawean. Tak ada yang menyangka bahwa kisah lama tentang makhluk putih yang dipercaya membawa malapetaka akan kembali menghantui warga. Beberapa anak muda yang nekat begadang di pos ronda bercerita dengan nada bercanda tentang Oreng Pote, makhluk legendaris berwujud seperti manusia, tapi kulitnya pucat menyilaukan, seperti mayat yang baru diangkat dari liang kubur. Cerita itu sontak membuat bulu kuduk meremang, meski saat itu mereka masih tertawa-tawa.
Namun, semuanya berubah ketika malam itu, salah satu dari mereka, Jaka, melihat sosok tinggi berdiri di ujung jalan desa. Sosok itu tak bergerak, hanya menatap dengan mata kosong ke arah mereka. Cahaya dari lampu jalan menyoroti tubuhnya yang aneh: putih pucat, rambut acak-acakan, dan pakaian lusuh yang tampak seperti kain kafan. Jaka menelan ludah. “Itu… itu apa?” bisiknya pada temannya, Bayu. Mereka memutuskan untuk mendekat, tapi saat langkah kaki mereka semakin dekat, sosok itu menghilang begitu saja, seolah larut dalam kabut malam yang tiba-tiba turun.
Keesokan harinya, berita menyebar cepat. Pak Raji, seorang petani yang tinggal tak jauh dari lokasi penampakan, mendadak jatuh sakit. Tubuhnya menggigil hebat dan kulitnya berubah kebiruan. Tak ada yang bisa menjelaskan penyakitnya. “Dia sehat-sehat saja kemarin,” kata Bu Lasmi, tetangganya. “Tapi pagi ini, dia hanya bisa berbaring dan matanya kosong, seperti melihat sesuatu yang tak kasat mata.” Banyak yang percaya bahwa ini adalah pertanda buruk, awal dari malapetaka yang dibawa Oreng Pote.
Menurut cerita warga tua, Oreng Pote bukan sekadar hantu. Ia diyakini sebagai arwah penasaran dari seseorang yang meninggal dengan cara yang sangat tidak wajar—terkubur hidup-hidup karena dituduh sebagai pembawa sial oleh warga sendiri di masa lalu. Arwah itu bangkit dengan dendam yang dalam, dan semenjak itu, setiap kali ia menampakkan diri, pasti ada nyawa atau nasib yang menjadi tumbalnya. Wujudnya tidak selalu terlihat oleh semua orang, hanya mereka yang “terpilih” atau yang dalam hatinya menyimpan ketakutan terdalam.
Warga mencoba berbagai cara untuk menangkal kehadiran makhluk itu. Mereka mengadakan selamatan desa dan membakar kemenyan setiap malam Jumat. Pak Raji masih terbaring tanpa banyak kemajuan. Seorang dukun dari desa tetangga pun didatangkan. Dukun itu, Mbah Kromo, mengatakan dengan suara berat, “Oreng Pote tidak bisa diusir begitu saja. Dia mencari balas. Ada yang harus membayar, entah dengan nyawa, entah dengan pengorbanan.”
Beberapa hari kemudian, usaha ternak milik Pak Mahmud, yang berada di dekat rumah Pak Raji, tiba-tiba bangkrut. Semua ayam dan kambingnya mati mendadak. “Saya bangun pagi-pagi, semuanya sudah tergeletak, tidak ada bekas luka, tidak ada suara aneh. Tapi baunya… bau busuk yang tidak wajar,” ujar Pak Mahmud dengan wajah pucat. Hal ini semakin memperkuat keyakinan warga bahwa Oreng Pote benar-benar hadir dan membawa bencana yang menyebar perlahan.
Ketakutan mulai menjalar ke seluruh desa. Banyak yang memilih untuk tidak keluar rumah setelah maghrib. Anak-anak dilarang bermain jauh, dan setiap sudut desa kini dipasangi sesajen dan doa-doa penolak bala. Di salah satu malam, saat hujan turun rintik-rintik, Bayu yang pernah melihat Oreng Pote bersama Jaka, mendengar suara tangisan lirih di belakang rumahnya. Saat ia membuka pintu dapur, ia melihat jejak kaki basah menuju pekarangan, namun tidak ada siapa pun di sana.
Jaka, yang merasa paling terganggu sejak pertemuan malam itu, mulai sering bermimpi buruk. Ia bermimpi berada di dalam kuburan, tubuhnya terkubur separuh dan mulutnya dibungkam. Dalam mimpi itu, selalu ada sosok putih yang berdiri di atasnya, menatapnya dengan mata kosong. Ia akhirnya mengaku kepada ibunya. “Mak, aku lihat Oreng Pote malam itu. Dia bukan cuma hantu, dia… seperti manusia yang sakit hati,” kata Jaka dengan suara bergetar. Ibunya hanya bisa memeluknya, sembari menangis dan berdoa.
Seiring waktu, warga menyadari bahwa Oreng Pote tidak datang tanpa sebab. Keberadaannya adalah cerminan dari dosa masa lalu yang belum ditebus. Banyak yang mulai menggali cerita lama, tentang seseorang bernama Saminah, wanita yang dituduh membawa sial dan dibuang ke hutan oleh warga desa puluhan tahun silam. Ada dugaan kuat bahwa Oreng Pote adalah arwah dari Saminah yang kembali dengan tubuh yang telah membusuk namun masih menyimpan dendam.
Kini, kisah Oreng Pote menjadi peringatan bagi masyarakat Bawean bahwa tidak semua yang terlihat menyeramkan adalah sekadar dongeng. Sosok putih pucat itu bisa muncul kapan saja, di mana saja, dan siapa pun bisa menjadi korbannya. Di malam-malam gelap, ketika angin berbisik dan suara-suara aneh terdengar dari kejauhan, warga tahu untuk tidak menoleh—karena bisa saja, di belakang mereka, berdiri sosok berkulit putih dengan mata kosong yang hanya menunggu waktu untuk menagih balas.
Redaksi Energi Juang News



