Selasa, Maret 17, 2026
spot_img
BerandaRemang SenjaKisah Mencekam Barianto Sang Sopir Ambulans

Kisah Mencekam Barianto Sang Sopir Ambulans

Energi Juang News, Salatiga– Gelapnya malam sering kali menyimpan kisah yang sukar dipahami, terutama bagi mereka yang bekerja di garis batas antara hidup dan mati. Dalam dunia yang sunyi dan dingin, seseorang yang bertugas mengantar manusia menuju peristirahatan terakhir kerap bersentuhan dengan hal-hal tak kasatmata. Ada kalanya ia hanya bisa menghela napas panjang, mencoba menerima bahwa tidak semua kejadian dapat dinalar. Namun ada masa ketika keheningan itu berubah menjadi ketegangan yang menggigit, seakan udara malam membawa sesuatu yang tak ingin disebutkan.

Selama dua setengah tahun bekerja, Barianto—yang akrab dipanggil Anto—menyadari bahwa apa yang ia lakukan tidak sekadar memindahkan tubuh tanpa nyawa. Ia menemukan bahwa setiap kali menaikkan jenazah ke mobil, ada suasana asing yang seakan ikut menumpang. “Awal-awal itu merinding terus,” ujarnya kepada warga sekitar yang sedang duduk di pos ronda. Seorang pria tua menanggapinya sambil menghisap rokok, “Kerja sampean itu memang dekat sama dunia sebelah, Nak. Wajar kalau sering diganggu.”

Malam itu, pengalaman yang membuatnya gemetar kembali terulang. Ia parkir di rumah sakit Salatiga, menurunkan diri dari ambulans, lalu berbincang sebentar dengan satpam. Namun ketika lengah, mobil itu tiba-tiba bergerak sendiri. “Lho, kok maju?” seru Anto panik. Satpam yang melihat pun berteriak, “Mas, itu mobilmu jalan! Padahal rem tangan masih naik kan?” Anto hanya mengangguk gemetar, tak sanggup menjawab. Hanya suara mesin yang menderu pelan, seolah ada tangan tak terlihat yang menggerakkan.

Saat jenazah hendak diangkat, suasana menjadi lebih janggal. Seorang ibu dari keluarga almarhum tiba-tiba menjerit marah tanpa sebab. Nada suaranya berat seperti milik orang lain, membuat warga yang membantu mengangkat jenazah spontan mundur. “Bu, tenang dulu. Ada apa?” tanya seorang tetangga yang hadir. Ibu itu hanya memandang tajam, matanya sayu namun merah, dan membentak, “Jangan ikut campur!” Setelah prosesi selesai, ia menangis dan meminta maaf, mengaku tak sadar apa yang telah ia perbuat.

Barianto mengatakan bahwa sebelum kejadian seperti itu, biasanya tercium bau aneh yang tak bisa ia gambarkan. “Campuran kamper, minyak jenazah, tapi ada satu aroma lain yang bikin bulu kuduk berdiri,” tuturnya. Pernah seorang warga berkata saat mencium bau yang sama, “Mas, kok baunya ga umum, ya? Kaya ada yang ikut.” Anto hanya menatap kosong, tak berani menjawab, karena ia tahu bau itu bukan berasal dari dunia yang sama dengan mereka.

Pengalaman lain terjadi saat perjalanan ke Purwodadi. Di tengah gelapnya malam dan jalanan sepi, jendela belakang ambulans tiba-tiba terbuka dari dalam. Temannya yang duduk di belakang langsung menoleh dengan wajah pucat. “Mas, kamu buka kaca ya?” tanyanya terbata. Anto menggeleng keras, “Enggak, sumpah!!.” Suara gesekan kaca yang turun itu begitu jelas, namun tak seorang pun menyentuhnya. Warga yang mendengar cerita itu keesokan harinya hanya bergumam, “Wah, pasti ada tamu yang tak terlihat.”

Sosok yang sering digambarkan Anto bukanlah hantu dalam bentuk jelas, melainkan bayangan panjang yang menempel begitu dekat seperti arwah penasaran. Terkadang ia merasakan kehadiran itu duduk di salah satu kursi ambulans, menatapnya dari belakang dengan napas dingin. “Perasaan ada yang ngawasi, Mas,” katanya pada seorang penjaga warung kopi. Penjaga warung itu merespons lirih, “Kalau jenazahnya berat hatinya, biasanya rohnya belum mau pergi.”

Yang paling tak bisa ia lupakan adalah mimpi tentang almarhumah berusia 24 tahun yang ia antar sehari sebelumnya. Dalam mimpi itu, perempuan muda tersebut berdiri di ujung koridor panjang dengan wajah pucat dan mata sayu. “Mas, terima kasih ya,” katanya lirih. Anto membalas, “Sudah tenang, Mbak?” Sang perempuan hanya tersenyum samar sebelum menghilang seperti kabut tersapu angin. Ketika terbangun, keringatnya mengalir deras, dan ia tak berani tidur lagi hingga fajar.

Kepada warga kampung, Anto sering mengatakan bahwa keberaniannya bukan datang dari rasa kebal, melainkan karena ia harus tetap bekerja. “Kalau dipikir takut terus, ya nggak makan saya,” ujarnya sambil tersenyum getir. Seorang pemuda menimpali, “Tapi, Mas, cerita sampean kok ngeri-negeri bener ya. Dijaga jangan nekat.” Anto mengangguk, tetapi dalam hatinya ia tahu bahwa rasa takut itu justru menjadi bagian dari pekerjaannya.

Meski begitu, pengalaman sopir ambulans yang ia jalani membuatnya lebih memahami batas-batas tipis antara dunia manusia dan dunia arwah. Setiap perjalanan membawa jenazah seolah menjadi pelajaran baru tentang hal yang tak kasatmata. Kadang warga bertanya, “Mas, kok betah?” dan Anto hanya menjawab, “Karena ada yang harus dipulangkan.” Dalam hatinya, ia sadar bahwa setiap sosok yang menumpang bukan datang untuk menakuti, melainkan mengantar pesan bahwa kematian selalu punya cara untuk menunjukkan dirinya.

Redaksi Energi Juang News

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments