Energi Juang News, Ngawi– Seram kerap kali hadir di jalur-jalur panjang yang membelah hutan lebat, terutama bagi mereka yang bekerja mengejar waktu dan jarak. Bagi para pengemudi bus antar provinsi, malam bukan sekadar pergantian waktu, melainkan ujian nyali. Dentuman mesin, sorot lampu yang membelah gelap, dan kesunyian jalanan menjadi teman setia. Namun di salah satu jalur pantura Jawa Tengah, ada kawasan yang membuat dada sopir mana pun terasa lebih berat saat dilalui, seolah jalan itu menyimpan niat buruk yang menunggu korban.
Kawasan itu dikenal sebagai Alas Roban, hamparan hutan tua yang membentang panjang dengan jurang di sisi jalan dan tikungan tajam tanpa ampun. Banyak sopir mengaku selalu menurunkan kecepatan saat memasuki wilayah ini, terutama antara tengah malam hingga dini hari. “Kalau sudah lewat sini, saya nggak pernah bercanda,” ujar Pak Sumarno, sopir bus senior. “Rasanya seperti ada yang mengawasi dari balik pohon.”
Cerita tentang gangguan makhluk astral di Alas Roban bukan isapan jempol. Salah satu yang paling sering dibicarakan adalah sosok kuntilanak yang konon menjadikan bus sebagai sasaran tumbal. Makhluk ini dipercaya sengaja menyasar kendaraan besar yang melaju cepat. “Dia bukan cuma menampakkan diri,” kata seorang warga warung kopi di pinggir jalur. “Kadang pura-pura jadi penumpang.”
Beberapa sopir mengaku pernah melihat seorang perempuan berpakaian putih berdiri di pinggir jalan sambil melambaikan tangan. Wajahnya tertunduk, rambutnya panjang menutupi muka. “Kalau kita kasihan dan berhenti, baru terasa aneh,” ungkap Pak Darto, sopir lintas Jawa–Sumatra. “Begitu pintu dibuka, bangkunya kosong. Tapi kaca depan langsung dipukul dari luar.”
Gangguan paling berbahaya terjadi ketika sosok itu menempel di kaca depan bus. Dalam kondisi mengantuk dan terkejut, banyak sopir refleks membanting setir. Jurang di sisi jalan pun menjadi saksi bisu banyak kecelakaan maut. “Makanya sering dibilang di sini minta tumbal,” ujar seorang warga desa sekitar Alas Roban. “Yang lalai, biasanya jadi korban.”
Warga setempat mengaku sering mendengar suara jeritan di tengah malam, disusul kabar kecelakaan keesokan paginya. Seorang penjaga pos ronda berkata, “Kalau ada suara rem panjang terus sunyi, biasanya kami sudah pasrah.” Beberapa warga bahkan menyiapkan doa khusus setiap kali mendengar bus melintas terlalu kencang di jam-jam rawan.
Dari pengalaman bertahun-tahun, para sopir akhirnya membuat kesepakatan tak tertulis. Penumpang yang benar-benar manusia dan ingin naik atau turun di kawasan Alas Roban harus melambaikan korek api. “Kalau cuma melambaikan tangan, kami nggak berani berhenti,” kata Pak Sumarno. Api kecil dari korek dianggap penanda bahwa yang memanggil adalah manusia, bukan makhluk halus.
Kesepakatan itu dipercaya mampu mengurangi kejadian aneh. Seorang sopir muda pernah mengabaikannya dan berhenti karena melihat perempuan menangis di pinggir jalan. “Untung mesin mati duluan,” katanya. “Pas saya lihat lagi, orangnya sudah nggak ada.” Sejak itu, ia bersumpah tak akan berhenti tanpa tanda api, meski hati terasa iba.
Misteri Alas Roban juga diyakini berkaitan dengan sejarah kelam kawasan tersebut. Menurut cerita warga, hutan itu pernah menjadi lokasi pembantaian dan pembuangan mayat pada masa lampau. “Arwahnya nggak tenang,” ucap seorang sesepuh desa. “Yang suka lewat malam, harus jaga sopan dan jangan sombong.”
Horor Alas Roban kini menjadi momok yang diwariskan dari generasi ke generasi sopir bus. Sosok pemburu tumbal seolah terus mengintai, menunggu kelengahan manusia di tengah gelap dan sunyi. Bagi para pengemudi, melewati kawasan ini bukan hanya soal keterampilan mengemudi, tetapi juga soal keyakinan, kewaspadaan, dan menghormati batas antara dunia manusia dan dunia yang tak kasat mata.



