Energi Juang News, Jakarta– Tidak banyak orang tahu bahwa di balik keheningan lereng Gunung Lawu, tersimpan sebuah tempat gaib bernama Pasar Diyeng, yang lebih dikenal masyarakat sebagai Pasar Setan. Pasar ini tak terlihat secara kasat mata, tetapi diyakini oleh para peziarah sebagai pasar makhluk halus yang kerap muncul saat malam Jumat Kliwon atau hari-hari tertentu yang diyakini sakral. Konon, Pasar Setan hanya akan menampakkan diri kepada orang-orang tertentu, khususnya yang memiliki maksud bersih dan hati percaya.
Pasar Setan terletak di dekat Hargo Dalem, sebuah lokasi keramat yang menjadi tujuan utama para pejiarah. Di tempat inilah terjadi fenomena yang sangat ganjil, di mana seseorang bisa mendapatkan uang kembalian dalam jumlah besar hanya dengan berpura-pura berbelanja. Menurut cerita turun-temurun, jika kita berada di sekitar tempat itu dan mendengar suara halus berkata, “Mau beli apa, Dik?”, maka harus segera membuang sejumlah uang sembarang. Setelah itu, dipetiklah rumput atau daun seolah-olah sedang membeli sesuatu.
“Pak Yono, apa njenengan pernah ngalami sendiri?” tanya Rini, seorang pendaki yang penasaran saat mereka beristirahat di pos bayangan. Wajah Pak Yono yang telah bertahun-tahun menjadi juru kunci Hargo Dalem mendadak menjadi lebih serius. “Pernah, Mbak. Saya dulu muda pernah tak cobain. Uang seribu saya buang, eh baliknya pagi-pagi pas di rumah malah jadi lima ratus ribu. Tapi itu… ada akibatnya,” jawabnya dengan mata menerawang jauh.
Akibat yang dimaksud Pak Yono bukanlah semata berkah. Banyak yang percaya bahwa uang kembalian dari Pasar Setan berasal dari makhluk penyesat. Mereka yang menerima uang tersebut akan mengalami gangguan, mulai dari mimpi buruk hingga melihat penampakan. “Waktu itu saya mimpi dikejar-kejar perempuan tanpa muka. Rambutnya panjang, bajunya compang-camping, tapi suaranya tetap sama kayak yang nawari dagangan,” kisah Pak Yono sambil menggenggam tasbihnya.
Ada pula kisah dari warga sekitar yang lebih ekstrem. Mbah Sarmin, tetua dusun yang tinggal tak jauh dari jalur pendakian, pernah kehilangan cucunya setelah si bocah konon bermain terlalu jauh ke arah batu-batu besar tempat Pasar Setan dipercaya muncul. “Cucuku pamit main, ndak balik sampai malam. Ketemu paginya, lagi duduk sendiri sambil ngomong, ‘aku sudah beli banyak jajan di sana, mbah’… padahal tangannya kosong,” ucap Mbah Sarmin lirih, sambil memandangi tungku kayu yang mengepul.
Deskripsi dari para peziarah yang berhasil ‘melihat’ pasar ini pun bermacam-macam. Ada yang melihat kios-kios batu tersusun rapi, dengan lapak berisi barang dagangan yang aneh: bunga busuk, rambut, potongan kain compang-camping, dan bahkan kepala ayam tanpa tubuh. Semua ditata seperti pasar sungguhan, hanya saja dikelola oleh pedagang dengan mata kosong dan kulit pucat. Mereka tidak marah bila tidak membeli, tetapi akan menatap tajam hingga membuat bulu kuduk meremang.
“Kalau kamu dapat uangnya, jangan dibawa ke rumah langsung. Harus dibakar daunnya dulu, atau dimandikan pakai air bunga tujuh rupa. Kalau tidak, bisa diikutin terus,” ujar Bu Temah, seorang warga yang pernah menjadi dukun pengantar sesajen ke Hargo Dalem. Menurutnya, uang kembalian dari pasar gaib seperti Pasar Setan adalah bentuk ujian, bukan rezeki. Ia bisa mendatangkan kesialan jika tidak hati-hati dalam menyikapinya.
Kisah-kisah seperti ini menjadikan Pasar Setan sebagai mitos yang terus hidup dan diwariskan dari generasi ke generasi. Bukan sekadar cerita rakyat, tetapi pengalaman nyata yang dialami banyak orang, baik dari pendaki hingga warga lokal. Tempat ini bukan hanya soal klenik, tetapi juga pengingat akan batas-batas dunia nyata dan gaib yang tak boleh sembarangan dilanggar.
Meski terdengar menakutkan, banyak yang tetap mencari pengalaman di Pasar Setan. Mereka datang dengan niat berziarah atau sekadar membuktikan sendiri cerita mistis itu. Namun satu pesan yang selalu diingatkan para tetua desa: jangan pernah menganggap remeh tempat yang dihuni makhluk penyesat. Sebab di balik uang kembalian yang melimpah, bisa jadi ada harga yang jauh lebih mahal harus dibayar—jiwa dan akal sehat.
Redaksi Energi Juang News



