EnergiJuangNews,Yogyakarta- Setiap kota menyimpan lapisan sejarahnya sendiri, dan di lapisan paling sunyi itulah kisah-kisah ganjil tumbuh. Di sudut utara Yogyakarta, ada sebuah kampung yang sejak lama dipercaya berdiri di atas jejak kelam masa lalu. Orang-orang tua berbisik bahwa tanahnya dulu adalah lumbung korban tragedi politik, entah benar atau tidak. Yang pasti, udara di sana terasa berbeda saat malam turun, seperti ada sesuatu yang terbangun bersama gelap.
Orang tua Mardi (14) pernah mengontrak sebuah rumah petak sederhana di kampung itu. Murahnya harga sewa membuat mereka tak banyak bertanya. Pemilik rumah bahkan berkata jujur, “Dari semua rumah saya, ini paling murah.” Saat Pak Wijaya (55) bapaknya bertanya alasannya, ia menjawab pelan, “Soalnya belum ada yang mau. Katanya… angker.” Pak Wijaya hanya mengangguk. “Kalau nggak ganggu, ya kita nggak ganggu,” katanya mantap.
Mereka menempati rumah itu selama delapan tahun. Dari luar, rumahnya memang singup, seolah ada yang berdiam tanpa ingin terlihat. Namun bulan-bulan awal terasa normal. Hingga memasuki bulan ketiga, sesuatu seperti memperkenalkan diri. Setiap Magrib, motor Pak Wijaya selalu bermasalah. Starter tangan gagal tiga kali, starter kaki pun sama. Setelah dimatikan dan dinyalakan ulang, motor menyala seolah tak terjadi apa-apa. Kejadian itu berulang dari bulan keempat hingga keenam.
Gangguan tak berhenti pada mesin. Selepas Magrib, sering terdengar ketukan di langit-langit, atau suara samar di area pagar. Puncaknya terjadi menjelang tidur. Mardi yang gemar menonton televisi sampai larut, mendengar ketukan di pintu tiga kali. Ia abaikan. Ketukan kembali tiga kali, lalu bertambah jadi lima. Kesal, Mardi membuka pintu dengan paksa. Di sana berdiri sesosok perempuan dengan gigi terjulur panjang hingga mendekati kaki, lidah kecokelatan berbau amis, dan mata yang berputar liar seperti tokoh Mad Eye. Mardi menjerit dan menangis sejadi-jadinya.
Suami istri itu terbangun. Pak Wijaya memeluk anaknya, menenangkan, lalu membuka pintu. Tak ada apa-apa. Hanya angin berembus dari selatan ke utara. Sejak malam itu, Mardi memilih tidur lebih awal. Baywatch dan MacGyver ia relakan. Wajah itu masih membekas hingga kini. Esoknya, giliran Pak Wijaya melihat istrinya duduk santai di ruang tamu mengenakan gaun merah. Saat dipanggil, sosok itu justru berjalan keluar. Pak Wijaya mengikutinya, lalu dari dapur terdengar suara istrinya memanggil, “Pak…” Pak Wijaya tersadar, menoleh, dan saat kembali menatap ke depan, sosok itu lenyap.
Peristiwa semacam itu berulang selama bertahun-tahun. Kami perlahan terbiasa dengan kemunculan dan kepergian mendadak. Namun suatu malam, istrinya mengalami hal paling ganjil. Lampu ruang tamu dimatikan, tampak sosok duduk menunduk dengan rambut menjuntai. Lampu dinyalakan, menghilang. Dimatikan lagi, kini berdiri di pojok dengan kepala menghadap tembok. Ibu hanya berzikir, menahan gemetar.
Malam Jumat Legi menjadi yang paling menakutkan. Pak Wijaya pulang dari latihan karate saat Magrib. Di masa itu, kawasan perumahan masih sepi. Di dekat lapangan bola—yang kini telah berubah ia merasa ada yang menggelendoti. Di spion tak tampak wajah, hanya rasa berat. Saat menoleh sekelebat, terlihat peti kosong terangkut di punggungnya. Entah pertanda apa, ia hanya mempercepat laju.
Sesampainya di rumah, Pak Wijaya bercerita. Tiba-tiba terdengar tangis perempuan di halaman. Kami berdoa bersama. ia mengejar suara itu; ia berpindah dari halaman ke kamar mandi, ke kamar tamu, lalu ke dapur. Menghilang, lalu muncul lagi di belakang, tepat di pohon nangka. Dengan tasbih dan Al-Qur’an, Pak Wijaya dan istrinya mendekat. “Minta didoakan,” kata Pak Wijaya kemudian. Sosok itu tergantung, tubuhnya rusak, darah bersimbah. Kami bertiga berdoa agar arwahnya tenang dan tak mengganggu lagi.
Sejak malam itu, rumah terasa normal. Tak ada ketukan, tak ada penampakan. Hingga kami pindah ke Monjali, hidup berjalan biasa. Beberapa hari kemudian, penghuni baru datang dengan wajah pucat. “Pak, dulu pernah mengalami yang aneh?” tanyanya. Pak Wijaya tersenyum tipis, “Nggak pernah.” Pria itu menelan ludah. “Soalnya saya bangun tidur… sudah di halaman belakang.”
Kabar terakhir yang kami dengar, rumah itu tak pernah lama dihuni. Empat atau lima bulan berganti orang. Renovasi dilakukan, tapi selalu ditinggal sebelum selesai. Warga memberi julukan yang bertahan hingga kini—Kandang Bubrah. Nama yang melekat pada rumah yang seolah menolak dilupakan, berdiri diam di utara Yogyakarta, menunggu malam untuk kembali berbisik.
Redaksi Energi Juang News



