Jumat, Maret 13, 2026
spot_img
BerandaRemang SenjaBayangan Hitam di Shift Malam Kantor Jakarta

Bayangan Hitam di Shift Malam Kantor Jakarta

Energi Juang News, Jakarta– Pengalaman mistis bisa dialami siapa saja, termasuk mereka yang terbiasa hidup dengan logika dan teknologi. Jofan, seorang pekerja IT Support di sebuah perusahaan ternama di Jakarta, awalnya menganggap cerita horor di kantor hanyalah bumbu obrolan saat istirahat. Namun semua keyakinannya runtuh ketika ia harus menjalani shift malam seorang diri di lantai dua gedung perkantoran setinggi lima belas lantai. Di tengah sunyi dan cahaya lampu yang redup, Jofan mulai merasakan ketidaknyamanan yang tak bisa dijelaskan dengan nalar.

Sejak hari pertama bekerja, Jofan mengaku sudah merasa ada yang janggal, terutama ketika kebagian jadwal malam. Meja kerjanya berada di sudut ruangan gelap, berdekatan dengan lorong panjang dan sebuah musala kecil yang jarang dipakai. “Kalau siang biasa saja, tapi malam rasanya beda,” ujar Jofan. Ia sering merasa seperti diawasi. Bahkan saat fokus menatap layar komputer, bulu kuduknya berdiri seolah ada seseorang berdiri tepat di belakangnya.

Pengalaman pertama yang benar-benar membuatnya ketakutan terjadi sekitar pukul 02.00 hingga 03.00 WIB. Saat itu Jofan sedang duduk memperbaiki sistem jaringan ketika ia melihat bayangan hitam memutari tubuhnya sebanyak dua hingga tiga kali. Bayangan itu terlihat jelas, padat, menyerupai siluet manusia, seperti bayangan matahari namun jauh lebih gelap. “Saya yakin itu bukan bayangan lampu,” katanya. Ketika ia menoleh, bayangan itu lenyap begitu saja.

Tak hanya penampakan, kejadian janggal lain pun menyusul. Suatu malam, listrik gedung tiba-tiba padam total. Seluruh lantai gelap gulita, termasuk lantai dua tempat Jofan bertugas sendirian. Dalam keheningan itu, sebuah printer di sudut ruangan mendadak menyala. Mesin tersebut bergerak seolah dioperasikan seseorang, lalu mengeluarkan dua hingga tiga lembar kertas kosong. “Saya cuma bisa berdiri terpaku,” ucap Jofan lirih, mengingat kejadian tersebut.

Gangguan lain yang tak kalah menyeramkan adalah suara ketukan di kaca. Padahal Jofan memastikan tidak ada siapa pun di sekitar ruangan. Pernah pula ia melihat pintu penutup hydrant terbuka sendiri dan berayun pelan seperti didorong angin, meski semua jendela tertutup rapat. Saat hendak ke kamar mandi dan melewati ruang janitor, gagang pel tiba-tiba bergerak dan berpindah posisi. “Waktu itu saya langsung lari,” katanya. “Rasional saya sudah tidak bisa bekerja.”

Karena kelelahan, Jofan kerap tidur sejenak saat tugas malam. Tempat favoritnya adalah ruang perpustakaan kantor yang memiliki sofa besar dan lampu remang-remang. Namun di situlah mimpi buruk mulai menghantuinya. “Saya sering mimpi aneh di situ,” ungkapnya kepada warga sekitar kantor yang biasa nongkrong malam hari. Seorang petugas kebersihan sempat menimpali, “Mas, ruangan itu memang berat. Dulu ada yang sering lihat penampakan di sana.”

Setidaknya tiga kali Jofan mengalami mimpi buruk paling menyeramkan dalam hidupnya. Salah satunya mimpi dikejar kuntilanak di tengah hutan. Sosok itu berwajah rusak, tertawa melengking sambil melayang cepat ke arahnya. “Saya lari sambil teriak minta tolong, sampai nyebut nama papa dan mama,” cerita Jofan melalui sambungan telepon. Anehnya, mimpi itu terasa sangat nyata. Ia bahkan kesulitan bangun, seolah tubuhnya ditahan oleh sesuatu yang tak terlihat.

Mimpi kedua lebih mengerikan. Jofan melihat keluarganya dibunuh satu per satu oleh seseorang, sementara di belakang pelaku berdiri makhluk besar menyerupai jin dengan rambut gondrong. Sosok itu hanya diam, menatap Jofan dengan senyum tipis. “Air mata saya keluar sendiri,” ujarnya. Mimpi ketiga pun tak kalah mencekam. Ia melihat satu ruangan kantor gelap dengan seorang wanita berdiri menunggunya. Saat hendak mendekat, kakinya seolah tertancap ke lantai hingga tak bisa bergerak.

Merasa tak sanggup menyimpan semuanya sendiri, Jofan bercerita kepada seorang teman. Temannya menyarankan untuk meminta bantuan neneknya yang memiliki kemampuan melihat makhluk halus. Atas saran tersebut, Jofan diminta memotret beberapa spot di kantor. Ketika foto-foto itu diperlihatkan, sang nenek berkata tegas, “Di situ ada beberapa penunggu. Yang hitam itu paling sering lewat dekat meja kerjamu.” Seorang security pun menguatkan cerita itu, mengaku pernah melihat bayangan serupa lewat kamera CCTV.

Sejak saat itu, Jofan semakin yakin bahwa Horor Shift Malam Kantor Jakarta bukan sekadar cerita isapan jempol. Ia kini lebih berhati-hati, menjaga sikap, dan jarang tidur di perpustakaan. Meski masih bekerja di tempat yang sama, trauma itu tak pernah benar-benar hilang. Baginya, gedung tinggi dan teknologi canggih tak menjamin keamanan dari hal-hal tak kasat mata. Saat malam tiba dan lorong menjadi sunyi, bayangan hitam itu seakan masih setia berkeliling, menunggu siapa pun yang lengah.

Redaksi Energi Juang News

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments