Selasa, Juni 2, 2026
spot_img
BerandaRemang SenjaGunung Raung : Jejak Tapak Kaki Pendaki Yang Penuh Nuansa Mistis

Gunung Raung : Jejak Tapak Kaki Pendaki Yang Penuh Nuansa Mistis

Energi Juang News, Jakarta– Gunung Raung bukan hanya gunung berapi aktif, tetapi juga tempat penuh kisah mistis. Banyak kejadian yang tak masuk nalar bagi pendaki yang pernah melalui jalur pendakian Gunung Raung di Bondowoso tersebut.

Seperti dikisahkan narasumber yang pernah melakukan pendakian di gunung tersebut.

Dikisahkan di sebuah desa kecil di lereng Gunung Raung tahun 2023 waktu itu bulan syuro, saat Dika dan tiga temannya mendaki malam itu kabut turun lebih tebal dari biasanya. , mereka bersiap melakukan pendakian. Saat mereka berkemas datanglah Pak Sulam ketua RT setempat “Lho, kalian yakin mau naik sekarang?” tanya Pak Sulam, warga desa yang sudah lama tinggal di sana. “Gunung Raung bukan cuma soal batu dan jurang. Kadang, sesuatu yang tak kelihatan lebih berbahaya” Pak Sulam mengingatkan.

“Tenang, Pak. Kami sudah siap fisik dan alat lengkap,” jawab Dika sambil tersenyum. “Kalau kalian dengar suara gamelan malam-malam, jangan ditanggapi. Apalagi kalau lihat tapak kaki tunggal di tanah basah. Itu bukan jejak manusia.” Seketika senyum Dika itu perlahan memudar ketika Pak Sulam mengatakan hal itu.

Namun karena tekat Dika dan ketiga temannya sudah bulat, akhirnya mereka memutuskan tetap mendaki tak menghiraukan Pak Sulam.

Mereka mendaki tanpa hambatan sampai tiba di pos tiga menjelang malam. Suasana pegunungan yang gelap dingin dan suara binatang malam. Mereka akhirnya memutuskan beristirahat dan mendirikan dua tenda. Tenda pertama ditempati Dika , sementara tenda yang lain ditempati Rina dan Windi.

Ditengah mempersiapkan tenda mereka tiba-tiba dari sensasi terdengar alunan gamelan, lembut namun mengiris telinga. “Siapa yang membawa musik di gunung?” gumam Rina kepada Windi. Namun Dika mendengar berbeda dengan kedua temannya, karena ia merasakan suasana tempat itu tampak sunyi sepi yang ganjil.

Baca juga :  Nandur Demit di Jalur Prameks: Teror Beringin Penunggu Sungai

Tapi tiba tiba, “Diam. Dengar baik-baik…” bisik Dika saat mendengar suara gamelan dari arah puncak tapi tidak datang dari bawah, tempat mereka akan menuju esok hari. Senter langsung Dika arahkan ke jalur setapak, dan mereka melihat penampakan sebuah jejak kaki telanjang berukuran besar, tunggal, dan terarah ke atas. Aneh, karena tak ada siapa pun yang berjalan tanpa sepatu di jalur berbatu tajam ini. Melihat keanehan itu mereka tampak masih belum mempercayai yang dikatakan Pak Sulam.

Setelah mereka selesai mendirikan tenda, mereka langsung istirahat untuk tidur. Tapi Dika malam itu malam itu sulit memejamkan mata. Hingga menjelang tengah malam ia mendengar langkah kaki aneh namun bukan suara binatang karena suara itu terlalu berat dan ritmis. Keanehan berlanjut Dika was was, karena kedua temannya sudah tidur.

Penasaran Dika membuka tenda perlahan, ia kaget melihat di antara kabut tebal diluar tampak sosok wanita berjubah putih berdiri mematung menghadap puncak. Wajahnya tertutup rambut, dan di bawahnya, terlihat jelas tapak kaki besar yang ia lihat sore tadi, satu-satunya yang menapak di tanah basah. Tersadar Dika langsung menutup tenda dan menarik selimut menutupi rasa takut. Ia teringat pesan yang disampaikan Pak Sulam sebelum mendaki.

Keesokan paginya, hanya dua orang yang tersisa. Rina dan Windi menghilang tanpa jejak. Anehnya, di sekitar tenda hanya ada satu jejak kaki sepeti jejak yang sama seperti semalam, mengarah ke jurang. Seketika Dika ketakutan dan memutuskan turun dengan tubuh gemetar. Teringat pesan Pak Sulam membuat bulu kuduk Dika berdiri, ingin segera meminta bantuan. Dan setibanya di desa, Dika kembali menemui Pak Sulam.

Baca juga :  Sosok Pemburu Tumbal

“Jejak itu… bukan milik manusia, kan?” tanya Dika dengan suara parau. Pak Sulam mengangguk pelan. “Konon, di puncak Raung itu bertapa makhluk astral dari zaman Majapahit. Mereka menandai yang mereka pilih dengan jejak kaki tunggal. Kalau jejak itu muncul, artinya ada yang ‘dipanggil pulang’.”

Dika langsung syok, menduga Rina dan Windi telah menjadi salah satu apa yang dipesan Pak Sulam agar mereka mengurungkan niat mendaki gunung Raung.

Hingga beberapa hari kemudian tim SAR menemukan jasad kedua temannya sudah tak beryawa didasar jurang.

Sejak kejadian itu, Dika tak pernah lagi mendaki. Setiap malam ia dihantui mimpi berdiri di tepi jurang, mendengar gamelan dan melihat sosok berjubah putih melambaikan tangan. “Tolong… tolong pulangin kami…” suara Rina terkadang Windi terdengar sayup dari kejauhan.

Gunung Raung adalah salah satu gunung paling aktif di Indonesia, puncak Raung adalah tempat bertapanya makhluk astral penunggu gunung.

Redaksi Energi Juang News

Moh Khobir Riyadi
Moh Khobir Riyadihttps://energijuangnews.com/
Sosok pria penulis artikel pada kanal Remang Senja (Horror), Ojo Lali dan Not & Musik. Memberikan tulisan semenarik mungkin untuk kalian para pembaca.
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments