Energi Juang News, Purbalingga– Hujan deras yang mengguyur kawasan hutan Jingkang di lereng Karangjambu Purbalingga malam itu membuat suasana berubah begitu cepat. Gondo dan dua sahabatnya, Asri dan Welas, baru saja melewati jalur setapak ketika angin kencang mulai merontokkan dedaunan, memaksa mereka mencari tempat berteduh secepat mungkin. Di tengah udara lembap yang semakin menusuk, mereka hanya berharap menemukan lokasi aman sebelum gelap total benar-benar menelan pandangan. Sementara petir menyambar, samar-samar terdengar suara burung malam dan desir pepohonan, seolah hutan itu menyimpan sesuatu yang tak ingin mereka ketahui.
Ketika mata mereka mulai terbiasa dengan gelap, sebuah cahaya kuning redup tampak berkelip di balik pepohonan rimbun. “Kamu liat cahaya itu?” bisik Asri, suaranya bergetar antara lega dan cemas. Gondo mengangguk dan mengajak mereka mendekat bagaimanapun, itu terlihat seperti pondok tua yang masih ditinggali seseorang. Semakin dekat, bau tanah basah bercampur anyir menyelimuti hidung, namun kebutuhan berteduh mengalahkan rasa ragu yang muncul. Mereka pun menaiki undakan kayu lapuk yang mengarah ke pintu pondok tersebut.
Seorang nenek sangat tua, wajahnya penuh keriput dan kulitnya pucat terlihat saat ada kilatan petir, membuka pintu dengan gerakan perlahan. “Mampir mas..mbak..disana hujan,” ucapnya dengan suara lirih namun melengking aneh, seolah berasal dari ruang kosong di belakangnya. Gondo menelan ludah, tetapi mereka tetap masuk dan duduk di dekat tungku kecil. Hawa dingin masih merambat, namun keberadaan nenek itu membuat mereka sedikit tenang, meski ada sesuatu dalam tatapannya yang sulit dijelaskan tatapan kosong, tetapi juga terasa mengawasi.
Saat percakapan ringan berlangsung, aroma wangi yang tidak biasa merayap keluar dari sudut ruangan. Bukan wangi bunga atau wewangian rumah biasa namun melainkan campuran harum melati layu dan bau tanah kuburan yang terlalu kuat untuk diabaikan. “Nek , disini sendiri ngga takut?” tanya Welas ragu, mencoba sopan. Nenek itu tersenyum sangat tipis hingga hampir tidak terlihat. “Sudah biasa mbak, disini rame banyak yang lewat,” jawabnya, namun kata-katanya terdengar ambigu, memunculkan bulu kuduk berdiri serentak.
Keanehan tidak berhenti di situ. Dari luar pondok, terdengar suara riuh rendah seperti anak-anak berlarian dan tertawa, padahal sejak masuk, mereka tidak melihat satu rumah pun masih berdiri layak di sekitar tempat itu. Asri memandang ke jendela gelap, lalu berbisik, “Padahal ini sudah menjelang malam, masih ada anak anak bermain?” Tak ada yang menjawab, bahkan nenek itu hanya menatap lantai seolah suara tersebut adalah hal lumrah. Hening yang menyelubungi pondok membuat suara-suara itu justru terdengar semakin jelas.
Beberapa menit kemudian, seorang warga yang kebetulan lewat di tepian hutan berseru dari kejauhan, “Siapa yang disana! jangan berteduh disitu!!” Suaranya panik, membuat Gondo dan kawan-kawannya saling pandang. Gondo menjawab dari balik pintu, “Kita cuman berteduh pak, hujannya deras banget!” Namun warga itu malah terdengar ketakutan. “Cepat keluarr!! rumah itu sudah lama tak berpenghuni!” teriaknya lagi. Mendengar itu, jantung mereka seolah berhenti berdetak.
Ketika mereka berpaling ke arah nenek tersebut, sosok itu berdiri tanpa suara, menatap mereka dengan sorot mata memerah samar seperti bara di ujung malam. Wajahnya berubah lebih pucat, garis senyumnya menghilang, dan tubuhnya tampak mengambang sedikit di atas lantai. Gondo tersurut mundur, menyadari bahwa wujud di depan mereka bukanlah manusia. Sang nenek perlahan berbisik, “Kalian sudah masuk rumahku,…jangan mudah keluar rumah.” Suara itu menggema, seolah berasal dari seluruh dinding pondok.
Panik, mereka berlari keluar tanpa menoleh lagi, melewati suara-suara aneh yang kini semakin keras—tangisan, tawa anak kecil, dan langkah-langkah mengejar yang tidak terlihat wujudnya. Warga yang tadi memanggil langsung berlari menghampiri mereka. “Aku sudah peringatkan jangan masuk pondok itu, alasan apapun,” katanya sambil terengah. Asri bertanya, “Nenek yang didalam tadi siapa, Pak?” Warga itu menatap mereka dengan raut ngeri. “Ibu tua salah satu korban longsor yang tak pernah ditemukan.”
Warga tersebut kemudian membawa mereka menyusuri jalur lain menuju permukiman, sambil menjelaskan bahwa daerah itu dikenal sebagai Kampung Mati, tempat yang sudah bertahun-tahun tidak ditinggali setelah bencana besar menelan hampir seluruh dusun. “Banyak yang bilang, masih sering didapati orang melintas disini,” ujarnya lirih. Gondo merasa udara di belakang mereka masih berat, seolah sesuatu mengikuti namun tak terlihat. Setiap langkah meninggalkan pondok itu terasa seperti menyelamatkan diri dari sesuatu yang tak bisa dijelaskan di hutan Jingkang.
Begitu tiba di rumah warga, mereka diberikan minuman hangat sambil mencoba menenangkan diri. Meskipun aman, bayangan tentang wajah nenek tadi masih membayangi pikiran mereka, terutama suara-suara yang terdengar jelas dari pondok kosong itu. “Besok jangan lewat situ lagi, banyak warga luar yang tak pernah kembali,” kata warga lain yang berkumpul. Malam itu, mereka sadar bahwa pengalaman tersebut akan terus menjadi cerita yang menghantui ingatan, seolah arwah-arwah di tempat itu belum sepenuhnya pergi dan masih menunggu seseorang untuk tersesat lagi.
Redaksi Energi Juang News



