Energi Juang News, Malang– Malam itu di desa Jambuwer, dekat lereng Gunung Kawi, angin dari arah hutan membawa aroma tanah lembap yang begitu menusuk, seolah menyimpan jejak tragedi yang lama mengendap. Di antara pepohonan yang berbisik, warga desa berkumpul sambil membicarakan sebuah pertunjukan yang baru saja dimulai di alun-alun. “Kowe ngrasakke ora, anginné kok abot tenan?” tanya Pak Sarto kepada seorang pemuda yang berdiri gemetar. Suasana yang semestinya meriah justru dipenuhi kecemasan, seakan ada sesuatu dari dunia tak kasatmata yang ikut mengintai dari balik gelap malam.
Bantengan adalah pertempuran hidup dan mati yang menggambarkan duel antara harimau putih dan gerombolan banteng, lalu dijelmakan menjadi seni tari sekaligus jurus silat turun-temurun. Dalam pagelaran itu para penari mengenakan kostum banteng, kera, dan harimau, namun mereka tidak sepenuhnya menggerakkan tubuh mereka sendiri. Menurut para tetua, roh halus sering menumpang pada para penari. “Kowe kudu ati-ati, Le,” bisik seorang ibu tua kepada cucunya. “Iki dudu tari biasa, iki ana sukmo-sukmo sing melu.”
Ketika pendekar pengendali menghentakkan cambuknya ke tanah, suara ledakan kecil itu seperti membelah udara, membuat beberapa warga menutup telinga. Penari-penari bertopeng hewan mulai bergerak tak wajar, mata mereka kosong namun tubuhnya ganas, seakan dikendalikan oleh kekuatan asing. Seorang pemuda di sampingku bergumam, “Iki wis ora kayak latihan, Pak… iki kaya ana sing mlebu.” Namun warga tetap berdiri menyaksikan, tak sadar bahwa malam itu kehadiran makhluk dari lapisan lain semakin menebal.
Pertunjukan yang digelar dari pagi hingga malam karena berubah menjadi ketegangan memuncak, ketika banteng-banteng dari kelompok penari mulai meronta melampaui kendali pendekar. Gerakan mereka membabi buta, memaksa beberapa warga mundur ketakutan. Di tengah hiruk-pikuk itu, seorang bapak berteriak, “Ojo cedhak! Ojo cedhak! Wis ora iso dikendhalekke!” Tapi sebagian penonton tak sempat menghindar ketika salah satu banteng tersuruk ke arah kerumunan, tanduknya mengoyak udara dengan kekuatan mengerikan.
Serangan itu menyebabkan kepanikan besar, dan warga berlarian tanpa arah. Namun teriakan paling memilukan terdengar ketika seorang bocah bernama Farel, sekitar delapan tahun, terlempar oleh serudukan banteng yang kehilangan kendali. Darah mengucur deras dari kepalanya. “Gusti Allah, bocahé!” jerit seorang wanita. Warga berkerumun tapi takut mendekat, karena banteng itu masih mengamuk dengan mata memerah seperti bara.
Mbah Manto, sang pawang, segera merangkak mendekati tubuh kecil itu sambil melantunkan mantra lirih. Tangannya diusapkan ke luka Farel, dan seketika pendarahan berhenti, seperti tertelan udara. “Iki ora lumrah, Bah… kok isa langsung nutup ngono?” tanya seorang warga gemetar. Mbah Manto hanya menjawab singkat, “Ana sing numpang, iki dudu geger biasa.” Suasana makin tegang ketika penonton sadar bahwa mereka sedang menyaksikan kekuatan yang tak bisa dijelaskan akal.
Banteng yang merasuki tubuh penari utama tetap mengamuk meski cambuk telah dihentakkan berkali-kali. Ia mengerang seperti makhluk yang bukan lagi manusia, matanya buram oleh kabut hitam. Pendekar yang lain mencoba menahannya, tetapi terdorong kuat hingga jatuh berguling. “Iki sukmo gedhé, Bah!” teriak seorang pemuda. Mbah Manto mengangguk tegang, “Dheweke dudu sembarang arwah… pangkaté dhuwur.”
Ketika senja mulai tenggelam, cahaya merah di langit seolah menyatukan dunia manusia dan dunia makhluk halus. Suara-suara aneh terdengar dari sekitar panggung, seperti langkah kaki besar namun tak terlihat. Para warga berbisik, “Apa kuwi… kok koyo ana sing mlaku?” Mbah Manto terus berusaha mengusir makhluk yang merasuki penari, mengibaskan kain kuning dan membaca mantra panjang yang membuat udara bergetar.
Pertarungan batin antara pawang dan arwah itu berlangsung lama, hingga langit gelap sepenuhnya. Tubuh penari banteng bergetar hebat, seperti hendak pecah oleh tekanan dua dunia. Warga menyaksikan dengan campuran takut dan kagum. “Bah, ojo nganti ana korban maneh,” pinta seorang ayah sambil memeluk putranya. Mbah Manto tidak menjawab, namun wajahnya memucat, seolah ia pun mulai kewalahan menghadapi kekuatan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Hingga akhirnya, setelah mantra terakhir diucapkan, tubuh sang penari ambruk dan napasnya tersengal. Ia membuka mata perlahan, lalu berkata lirih dengan suara yang bukan miliknya, “Ojoo… kowe ngundang aku…” Seluruh warga terdiam, merasakan hawa dingin merayap hingga ke tulang. Bahkan setelah kesadaran penari kembali, kata-kata itu terus menggema di telinga kami, meninggalkan pertanyaan mengerikan: apakah arwah itu benar-benar pergi, atau hanya menunggu waktu untuk kembali?
Redaksi Energi Juang News



