Minggu, Agustus 16, 2026
spot_img
BerandaRemang SenjaMisteri Pesugihan Roro Kembang Sore di Gunung Bolo

Misteri Pesugihan Roro Kembang Sore di Gunung Bolo

Energi Juang News, Tulungagung- Dari kejauhan, Gunung Bolo terlihat hijau dan tenang, tetapi suasananya berubah ketika matahari tenggelam. Jalan menuju puncak mulai sepi, suara kendaraan menghilang, sementara desir angin terdengar seperti bisikan dari balik pepohonan. Warga yang tinggal di sekitar kawasan itu biasanya memilih mempercepat langkah ketika malam mulai larut.

Di balik ketenangan tersebut tersimpan kisah Pesugihan Roro Kembang Sore, legenda yang telah lama dikaitkan dengan makam seorang putri bangsawan keturunan Mataram Islam. Dalam cerita masyarakat, Roro Kembang Sore merupakan putri Adipati Bonorowo yang menolak banyak pinangan karena cintanya kepada rakyat biasa bernama Joko Budeg. “Orang tua kami selalu menceritakan kisah mereka,” ujar Pak Seno, warga sekitar Gunung Bolo. “Katanya, cinta mereka berakhir bukan dengan pernikahan, tetapi dengan kutukan yang sampai sekarang masih meninggalkan jejak.”

Menurut legenda, Joko Budeg menjalani pertapaan dengan syarat tertentu. Namun ketika Roro Kembang Sore memanggilnya, ia tidak memberikan jawaban hingga akhirnya dikutuk menjadi batu. Batu yang dipercaya sebagai perwujudan Joko Budeg disebut masih dapat dijumpai hingga kini. Kisah tersebut membuat suasana di sekitar Gunung Bolo terasa semakin mistis, terlebih ketika peziarah datang menjelang malam. “Kalau lewat dekat batu itu malam-malam, saya tidak pernah berani berhenti,” kata Pak Seno. “Bukan takut batunya, tapi takut mendengar sesuatu yang seharusnya tidak kita dengar.”

Setelah kehilangan orang yang dicintainya, Roro Kembang Sore dalam legenda memilih hidup menyendiri hingga akhir hayat. Makamnya kemudian dipercaya berada di puncak Gunung Bolo dan menjadi tempat ziarah bagi sebagian masyarakat. Di balik aktivitas ziarah tersebut, berkembang cerita mengenai orang-orang yang datang dengan tujuan mencari keberuntungan secara instan. Mereka membawa perlengkapan seperti tumpeng, dupa, wewangian, dan obor. “Ada yang datang hanya untuk berdoa, ada juga yang katanya punya hajat tertentu,” tutur Bu Marni, warga lainnya. “Tapi kalau sudah malam, suasananya memang berbeda.”

Bagian paling kontroversial dari mitos tersebut adalah cerita mengenai syarat ritual yang dikaitkan dengan hubungan intim di luar pasangan sah. Kisah ini menjadi salah satu alasan mengapa sebagian warga menganggap aktivitas ritual malam di kawasan tersebut sebagai sesuatu yang bertentangan dengan nilai moral dan agama. Namun, cerita tersebut merupakan bagian dari folklore yang berkembang dan tidak dapat dianggap sebagai fakta yang terbukti. “Kami tidak tahu mana yang benar dan mana yang cuma cerita,” ujar Bu Marni. “Yang jelas, jangan sampai orang datang ke sini lalu melakukan sesuatu yang merugikan dirinya sendiri.”

Baca juga :  Kutukan Batu Gantung, Dilarang Bagi Siapapun Mendekati

Ada pula kepercayaan mengenai pasangan suami istri yang dilarang datang bersama ke makam Roro Kembang Sore. Dalam mitos setempat, pelanggaran terhadap larangan tersebut dipercaya dapat memicu pertengkaran hingga keretakan rumah tangga. Karena cerita itu, sebagian pasangan memilih datang secara terpisah. “Katanya jangan datang berdua kalau sudah menikah,” kata Pak Seno sambil tersenyum tipis. “Saya sendiri tidak tahu siapa yang pertama membuat aturan itu. Tapi kalau warga tua sudah memberi nasihat, biasanya kami memilih menghormatinya.”

Konon, malam menjadi waktu paling menegangkan bagi orang yang datang untuk menjalankan ritual. Cahaya obor bergerak di antara pepohonan, asap dupa bercampur dengan kabut, dan suara langkah kaki terdengar menggema di anak tangga menuju puncak. Seorang pemuda bernama Arif pernah mengaku mendengar suara perempuan memanggil dari belakang ketika ia turun seorang diri. “Saya kira teman saya,” katanya kepada warga. “Begitu saya menoleh, tidak ada siapa-siapa. Tapi suara itu memanggil nama saya sekali lagi dari arah makam.”

Arif kemudian mempercepat langkah. Anehnya, suara langkah kaki terdengar mengikuti dari belakang. Setiap kali ia berhenti, suara tersebut ikut berhenti. Ketika ia berjalan lagi, suara itu kembali terdengar. “Saya tidak berani menoleh lagi,” ucapnya. “Sampai di bawah, saya baru sadar sandal saya tinggal sebelah.” Keesokan paginya, ia kembali bersama beberapa warga untuk mencari sandal yang tertinggal. Mereka menemukannya tidak jauh dari area makam, tetapi posisinya menghadap ke arah puncak, seolah-olah baru saja diletakkan oleh seseorang.

Cerita mengenai Pesugihan Roro Kembang Sore juga menyebut adanya kewajiban kembali ke makam setelah permohonan dianggap terkabul, disertai penyembelihan kambing kendit sebagai ungkapan syukur. Cerita semacam ini semakin memperkuat kesan mistis Gunung Bolo. Namun, bagi pemerhati sejarah dan budaya, legenda tersebut lebih tepat dipandang sebagai bagian dari folklore yang merekam cara masyarakat masa lalu memahami cinta, kekuasaan, spiritualitas, dan keinginan manusia memperoleh kehidupan yang lebih baik. “Gunung Bolo jangan cuma dilihat dari sisi mistisnya,” kata Bu Marni. “Di sini juga ada sejarah dan cerita budaya yang harus dijaga.”

Baca juga :  Horor Danau Gunting dan Misteri Noni Belanda

Kini Gunung Bolo tidak hanya dikenal karena kisah Roro Kembang Sore. Kawasan ini juga menjadi tujuan wisata sejarah dan religi dengan panorama Tulungagung yang dapat dinikmati dari ketinggian. Meski harus melewati puluhan anak tangga yang cukup terjal, banyak pengunjung tetap datang untuk berziarah maupun menikmati suasana alam. Namun ketika malam tiba dan kabut mulai menyelimuti puncak, legenda lama seolah kembali hidup. “Kalau dengar suara perempuan memanggil dari belakang, jangan langsung menjawab,” pesan Pak Seno. “Entah itu cuma suara angin atau apa, lebih baik terus turun.”

Pada akhirnya, kisah seram di Gunung Bolo bukan hanya cerita tentang kekayaan dan ritual gaib. Di dalamnya terdapat legenda cinta tragis Roro Kembang Sore dan Joko Budeg, kisah tentang kehilangan, serta kepercayaan yang diwariskan masyarakat dari generasi ke generasi. Bagi warga Tulungagung, Gunung Bolo tetap merupakan tempat yang patut dihormati sebagai kawasan sejarah, religi, dan budaya. Sebab di balik keindahan panorama dari puncaknya, selalu ada satu pesan yang tersisa dari legenda lama: keinginan mendapatkan sesuatu dengan jalan pintas tidak pernah lepas dari konsekuensi—setidaknya dalam cerita yang terus dibisikkan warga ketika malam turun.

Redaksi Energi Juang News

Moh Khobir Riyadi
Moh Khobir Riyadihttps://energijuangnews.com/
Sosok pria penulis artikel pada kanal Remang Senja (Horror), Ojo Lali dan Not & Musik. Memberikan tulisan semenarik mungkin untuk kalian para pembaca.
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments