Energi Juang News,Klaten- Kabut tipis dan dingin biasanya mulai turun ketika malam semakin larut di kawasan Desa Kupang, Kecamatan Karangdowo, Klaten. Jalan menuju perbukitan menjadi sunyi, hanya suara serangga dan gesekan dedaunan yang terdengar di antara gelap. Bagi sebagian warga, kawasan ini bukan sekadar tempat wisata religi. Ada kisah-kisah lama yang membuat mereka memilih tidak berada di sana terlalu malam, terutama ketika malam Jumat Kliwon dan Selasa Kliwon tiba.
Gunung Wijil selama bertahun-tahun dikenal sebagai kawasan religi sekaligus tempat orang datang untuk ngalap berkah. Di balik rencana pemerintah desa mengembangkan kawasan tersebut sebagai destinasi wisata, beredar cerita tentang Pesugihan Gunung Wijil yang dipercaya sebagian masyarakat berkaitan dengan dunia gaib. Konon, tempat ini menjadi salah satu lokasi yang didatangi orang-orang dengan berbagai keinginan, mulai dari kekayaan hingga kelancaran usaha. “Orang datang dengan macam-macam hajat,” ujar seorang warga yang biasa dipanggil Pak Joyo. “Tapi kalau sudah malam Kliwon, saya sendiri memilih tidak naik ke atas.”
Cerita yang paling membuat bulu kuduk merinding adalah keberadaan Buto Ijo. Sosok raksasa dalam mitologi Jawa tersebut konon dipercaya sebagai salah satu penghuni gaib yang berkaitan dengan tempat-tempat pesugihan. Warga tidak dapat memastikan kebenarannya, tetapi kisah tersebut terus diceritakan dari generasi ke generasi. “Dulu simbah saya pernah bilang, jangan asal bicara besar di Gunung Wijil,” tutur Pak Joyo. “Katanya, kalau ada yang merasa paling berani, kadang justru mendapat pengalaman yang tidak bisa dijelaskan.”
Kawasan ini juga memiliki sejumlah makam yang menjadi bagian dari sejarah dan tradisi setempat. Di antaranya terdapat Astonohargo Mulyo Gunung Wijil, tempat peristirahatan kerabat Keraton Surakarta, serta makam Syeh Joko yang dikenal dalam cerita lokal sebagai murid Joko Tingkir. Ada pula makam Ki Ageng Lokojoyo atau Raden Ayu Yudorono yang dalam kisah masyarakat dikaitkan dengan Nyai Sedah Merah. Keberadaan makam-makam tersebut membuat suasana Gunung Wijil semakin kuat sebagai kawasan religi sekaligus tempat yang sarat cerita masa lalu.
Namun, setelah matahari tenggelam, kisah yang beredar berubah menjadi lebih menyeramkan. Salah satu legenda yang paling sering dibicarakan adalah kemunculan seekor anjing berwarna merah. Konon, hewan tersebut bukan anjing biasa, melainkan piaraan penghuni gaib Gunung Wijil. “Kalau melihat anjing merah, jangan dipanggil dan jangan didekati,” kata Bu Sarmi, warga sekitar. “Kata orang-orang tua, itu pertanda ada sesuatu yang sedang memperhatikan kita.”
Seorang pemuda bernama Wawan mengaku pernah mengalami kejadian aneh ketika pulang dari kawasan tersebut. Saat itu ia bersama dua temannya melewati jalan yang relatif sepi selepas tengah malam. Tiba-tiba seekor anjing muncul dari balik semak. Warnanya terlihat merah kecokelatan di bawah cahaya lampu kendaraan. “Awalnya saya kira anjing kampung,” kata Wawan. “Tapi anehnya, dia cuma berdiri dan menatap kami. Teman saya membunyikan klakson, tapi anjing itu tidak bergerak sedikit pun.”
Ketika kendaraan mulai menjauh, Wawan menoleh melalui kaca spion. Anjing tersebut sudah tidak berada di tempat semula. Namun, beberapa detik kemudian terdengar suara lolongan dari belakang mereka. Suaranya semakin jauh, kemudian tiba-tiba terdengar sangat dekat. “Kami bertiga langsung diam,” ujar Wawan. “Yang bikin merinding, suara lolongannya terdengar dari arah dalam mobil. Padahal semua pintu dan jendela tertutup.” Sejak kejadian itu, ia mengaku tidak lagi berani melewati kawasan Gunung Wijil sendirian pada malam Kliwon.
Cerita tentang tempat ini semakin kuat karena banyak orang datang pada malam Jumat Kliwon dan Selasa Kliwon dengan berbagai harapan. Ada yang ingin dagangannya laris, memperoleh jabatan, mendapatkan kekayaan, atau meminta kelancaran hidup. Dalam mitos setempat, orang yang hajatnya terkabul bahkan disebut dapat mengalami kemunculan tanda tertentu, termasuk sosok anjing merah. Namun, semua cerita tersebut merupakan bagian dari kepercayaan dan folklore masyarakat yang belum terbukti secara ilmiah. “Yang namanya cerita turun-temurun, ya kami hormati,” ujar Bu Sarmi. “Tapi jangan sampai orang datang lalu berbuat macam-macam.”
Ada pula sejumlah pantangan yang dipercaya berlaku bagi pengunjung. Dalam kepercayaan setempat, perempuan yang sedang menstruasi disebut tidak diperkenankan datang, sementara pengunjung juga dipercaya sebaiknya tidak mengenakan perhiasan. Pantangan tersebut menjadi bagian dari tradisi dan cerita yang berkembang di kawasan Gunung Wijil. Terlepas dari sisi mistisnya, masyarakat tetap memiliki alasan untuk meminta para pengunjung menghormati kawasan makam dan lingkungan sekitar.
Kini Gunung Wijil tengah dikembangkan sebagai potensi wisata desa dengan harapan dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat Kupang. Di tengah rencana tersebut, legenda Pesugihan Gunung Wijil tetap menjadi bagian dari cerita yang membuat kawasan ini memiliki daya tarik tersendiri. Ketika malam turun, pepohonan mulai bergoyang diterpa angin dan suara anjing terdengar dari kejauhan, cerita lama tentang Buto Ijo dan anjing merah kembali terlintas di benak warga. “Percaya atau tidak, Gunung Wijil tetap harus dihormati,” kata Pak Joyo. “Sebab, di tempat seperti ini, yang paling penting bukan mencari keberanian, tapi tahu kapan harus pulang.”
Redaksi Energi Juang News




