Sedang ramai jadi topik pembahasan disosmed maupun di real life hari ini akhirnya kita lihat cara kerja AI yang katanya banyak membantu pekerjaan, sekaligus banyak juga membuat PHK karyawan karena kemudahannya membuat sangat efisien dan berfikir tanpa pakai lama.
Faktanya cara kerja AI sangat merugikan dan menguntungkan beberapa pihak, sebagai pihak yang dirugikan para penulis buku antik atau buku-buku yang ditulis dengan waktu yang cukup lama, energi yang ga sedikit, dan butuh ide orisinal ternyata tanpa izin dan tanpa moral mengcopy/scan karyanya dan kemudian membakar buku fisiknya atau dijual ketempat penampungan kertas bekas.
Sebagai pihak yang diuntungkan, toko buku yang menjual buku bertahun-tahun tidak laku dan dengan realitas buku sudah tidak menarik lagi diseluruh dunia. Perusahaan AI melakukan pembelian massal yang membuat penjual tanpa pikir panjang pasti senang menjualnya terlepas apapun tujuan pembelian buku tersebut.
Bukan hanya toko buku, penulis juga sangat dibantu dalam banyak hal dimana sebagai mahasiswa dan pekerja membutuhkan waktu yang harus cepat, efisien, dan ga ribet dalam mengerjakan beberapa tugas dan pekerjaan. Jika dilihat data dari DisplaceIndex juga menunjukkan lebih dari 316.000 pekerja di seluruh dunia telah mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK) di mana perusahaan secara eksplisit mengaitkan atau beralih fokus ke kecerdasan buatan (AI) dan otomatisasi sejak awal tahun 2023. Bukan perusahan kecil saja yang melakukannya bahkan perusahan top 10 global pun melakukan pengurangan yang berarti AI bisa membantu mereka agar lebih efisien.
UNESCO menyebutkan Indonesia berada diurutan kedua dari bawah soal literasi dunia, artinya minat baca sangat rendah. Menurut data UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan, hanya 0,001%, artinya, dari 1,000 orang Indonesia, hanya 1 orang yang rajin membaca. Fakta yang lebih memprihatinkan itu saat banyak komentar marah disaat tau cara kerja AI membantu dengan cara membakar dan memusnahkan buku.
Hasil Investigasi 404 Media Total, ada 482.460 judul buku yang diunduh secara ilegal oleh Anthropic (perusahaan yang melatih Claude AI) dari LibGen dan Pirate Library Mirror. Salah satu proposal vendor yang dikutip dalam dokumen pengadilan menyebutkan kapasitas mengonversi 500 ribu hingga dua juta buku dalam periode enam bulan. Angka totalnya, berapa persis buku yang akhirnya dipindai, dan berapa besar biayanya, sebagian besar masih disensor dalam dokumen yang beredar. Yang jelas, Anthropic menghabiskan “puluhan juta dolar” untuk Panama Project ini.
Hasil akhirnya, jutaan buku fisik lenyap selamanya, sementara salinan digitalnya disimpan secara privat di server internal Anthropic. Tidak ada pembaca, perpustakaan, atau bahkan penulis asli buku tersebut yang bisa mengakses arsip itu. Berbeda dari Google Books yang menghasilkan indeks pencarian terbuka, koleksi Project Panama sepenuhnya tertutup dari dunia luar.
Fakta ini yang hari ini sedang banyak diperdebatkan, realitas yang menjadi tamparan yang keras baik bagi penulis maupun untuk pembaca hari ini. Kita marah melihat buku-buku dihancurkan. Akan tetapi, apakah kita sendiri masih berminat pada buku-buku tersebut?
Oleh: Esteria Tamba
(Mahasiswa, Penulis)




