Energi Juang News, Madura- Di masa mudanya dulu agaknya Ny. Lastri, 56, kurang bahagia. Buktinya meski sudah jadi nenek masih doyan berondong. Tapi bukan berondong jagung atau ketan, melainkan cowok ganteng yang berusia jauh lebih muda. Suaminya, Peno, 60, menggerebeknya. Tapi karena tak ada bukti perzinaan, Lastri-Plecit, 24, dibebaskan.
Setiap bocah pasti suka berondong, apa lagi bocah produk sebelum tahun 2000, ketika makanan anak belum macem-macem seperti sekarang. Di pasar malam, pasti ada penjual berondong jagung yang modern maupun tradisional, yang tabungnya dibakar dalam kondisi berputar, kemudian disongkel jebrettttt……muntahlah si berondong yang sudah siap dikemas dan dijual.
Berondong dalam konteks orang dewasa lain lagi. Bukan manis rasanya, tapi manis tutur katanya, lembut budi bahasanya, perkasa tenaganya. Maka nenek celamitan sekelas Ny. Lastri dari Madura bisa kesengsem dibuatnya. Padahal di rumah masih ada suami, dan juga sudah punya cucu. Ayam pun bisa tertawa berguling-guling jika tahu kelakuan si nenek genit ini.
Ny. Lastri dan Plecit kenal karena rekan sekerja di pabrik sepatu. Istri Peno ini atasan dan Plecit bawahan. Tapi dalam urusan berondong bisa dibalik, Lastri memposisikan jadi bawahan dan Plecit sebagai atasan. Mereka sangat pandai menyimpan rahasia, sehingga urusan perberondongan dikasur ini tak ada yang tahu. Ny. Lastri memang sangat professional, bisa bedakan di mana Plecit sebagai bawahan, di mana pula anak muda itu jadi berondongnya.
Mengapa Lastri jadi pelihara berondong, karena dia masih enerjik sementara suaminya sudah kurang bergairah lagi. Malu-maluin memang, baru usia kepala 6, tapi Peno sudah loyo bagaikan kayu dimakan bubuk. Padahal Prabowo yang sudah berusia 71 tahun, masih bisa jadi persiden.
Setelah punya tokoh alternatip, Lastri jadi kurang peduli sama suami. Dari sore sampai bedug subuh masih tidur mendengkur, bodo amat! Obat rasa dingin itu sudah diperoleh dari Plecit yang ternyata sangat rosa-rosa melebihi Mbah Marijan. Dan kenapa pula anak muda ini mau diberondongkan oleh atasannya, apakah karena dia penderita katarak tapi tak punya kartu BPJS-Kes? Bukan, dia siap jadi berondong si nenek karena sering dapat “bonus” alias uang lebih dari Lastri.
Lama-lama Peno sebagai suami jadi curiga, kok belakangan istrinya acuh saja terhadap dirinya. Biasanya mau kerja disiapkan baju dan celananya, kini dipersilakan ambil sendiri. Makanan kegemarannya juga tak lagi selalu tersaji di meja makan. Dia baru ngeh ketika iseng-iseng membuka HP istri yang tertinggal. Ternyata isinya, banyak cat mesra pada nomer yang itu-itu juga, yang ternyata si Plecit teman sekantornya.
Peno tak serta merta gugat atas perselingkuhan ini. Diam-diam dia mencermati aktivitas keduanya, dan ketika mereka hendak kencan di sebuah rumah kontrakan Plecit, dibuntutinyalah. Ketika keduanya sudah masuk kamar, bersama Pak RT setempat keduanya digerebek. Peno tak menemukan adegan mesum itu. Cuma dia terkaget-kaget karena Plecit ini anak muda yang masih nampak culun atau lholak-lholok. “Waktu bocah memangnya kamu nggak pernah makan berondong ya?” omel Peno pada istrinya.
Keduanya lalu diserahkan ke Polisi. Tapi bersadasarkan pemeriksaaan tak ditemukan bukti Lastri-Plecit berbuat mesum. Keduanya sekedar duduk-duduk saja di ranjang tanpa ada aktivitas yang mencurigakan. Karena urusan polisi masih banyak yang lebih penting, skandal Lastri-Plecit di-SP3 alias keduanya dibebaskan dari tuntutan hukum, dan dipersilakan pulang ke rumah masing-masing.
Gelang sipatu gelang, mari kita pulang bersama-sama.
Redaksi Energi Juang News




