Energi Juang News, Cakung- Warga Cakung mendadak bukan cuma heboh, tapi juga naik level jadi detektif dadakan. Bukan karena lomba 17-an maju lagi, tapi karena ada “paket misterius” nongkrong manis di teras rumah Pak Haji Sadeli. Bukan paket COD, bukan pula kiriman mantan—melainkan seorang bayi laki-laki yang masih merah, lengkap dengan tangisan versi Dolby Surround.
Pagi itu, Pak Haji yang niatnya mau ke masjid, malah hampir batal wudhu karena kaget bukan main. “Ini bayi apa parcel Lebaran telat?” kira-kira begitu ekspresi beliau. Untung bukan bayi NFT, jadi masih bisa diselamatkan dan dilaporkan ke pihak berwajib.
Tak butuh waktu lama, aparat bergerak cepat. CCTV yang biasanya cuma dipakai buat mantau maling sandal, kali ini naik pangkat jadi saksi kunci. Hasilnya? Bukan maling ayam, bukan pula kurir nyasar—melainkan dua insan yang kalau kata tetangga, “sudah sering bareng, tapi bukan suami istri.”
Mereka adalah Cemong (29) dan Mimin (20). Sepasang manusia yang kalau urusan cinta, terlalu cepat lari sprint, tapi soal tanggung jawab malah jalan mundur.
Kisah ini bermula dari lapak barang bekas milik Haji Udin. Tempat di mana barang rongsok bisa jadi duit, dan… rupanya hati juga bisa ikut rongsok kalau salah pergaulan.
Cemong, yang konon sejak lahir sudah punya “bakat nakal tingkat dewa”, bertemu dengan Mimin—gadis lugu dari kampung yang kalau disuruh milih antara logika dan cinta, sayangnya lebih sering pilih Cemong.
Awalnya sih standar: jajan bareng, pulang bareng, lalu naik level ke “nggak usah pulang sekalian.” Dari yang tadinya cuma numpang cas HP, lama-lama cas perasaan. Hingga akhirnya… mahkota Mimin direnggut Cemong, kejadian yang kalau di sinetron selalu diawali dengan hujan dan lampu mati.
Cemong dengan percaya diri ngobral janji ala sales abal-abal ,
“Tenang Min, ini cuma tes. Kalau lulus… kita nikah.”
Dan Mimin yang lugu itu percaya saja akan gombalan Cemong.
Karena aktivitas mereka lebih berisik dari knalpot racing, tetangga mulai curiga. Tapi Cemong sudah punya jurus pamungkas:
“Itu adik saya dari kampung,kalau malam sakitnya kambuh, kasihan numpang tinggal.”
Warga yang terkenal ramah plus agak gampang percaya, langsung mengangguk. Apalagi Cemong dikenal ringan tangan, meski ternyata kalau malam hari tangan itu juga gerayangan ke tubuh sintal Mimin kalau malam tiba.
Hari yang ditunggu tiba juga. Bayi itu lahir sehat, lengkap, dan—ironisnya—tak punya salah apa pun.
Tapi bagi Cemong dan Mimin, bayi itu bukan anugerah. Melainkan “masalah hidup versi nyata.”
Akhirnya, muncullah ide yang kalau dipikir pakai akal sehat, jelas gagal total sejak awal: membuang bayi itu di teras rumah orang.
Malam hari, dengan gaya seperti maling gagal, mereka meletakkan bayi itu di depan rumah Pak Haji Sadeli. Dibungkus kain, ditinggal begitu saja, berharap masalah ikut pergi.
Padahal yang pergi justru rasa kemanusiaan mereka.
Seperti pepatah: sepandai-pandainya menyembunyikan kebusukan, tetap saja baunya kecium. CCTV jadi saksi bisu yang lebih jujur dari pelaku.
Tak butuh waktu lama, Cemong dan Mimin diamankan polisi. Warga yang awalnya cuma heran, berubah jadi geram.
“Kalau berani bikin, ya harus berani tanggung jawab. Jangan seenaknya lu !” celetuk salah satu warga dengan nada lebih pedas dari sambal ulek. Cemong kerja di barang rongsok, tapi yang dibuang justru masa depan sendiri.
Redaksi Enwegi Juang News



