Energi Juang News, Purworejo- Malam Jumat yang dingin tanpa angin baru saja tiba, ketika suara burung aneh dan mengerikan terdengar dari arah hutan. Bukan suara kicauan biasa, melainkan pekikan serak yang muncul berulang-ulang dari balik pepohonan. Warga yang tinggal tidak jauh dari kawasan itu memilih menutup pintu dan jendela lebih awal. Konon, setiap kali suara tersebut terdengar bersamaan dengan aroma daging terbakar yang terbawa angin, sesuatu yang tidak kasatmata sedang mendekati perkampungan.
Di sebuah desa di Pulau Jawa, cerita mengenai pesugihan sate gagak telah lama menjadi bisik-bisik warga. Tidak ada yang berani memastikan apakah kisah tersebut benar-benar pernah terjadi atau hanya mitos yang diwariskan dari generasi ke generasi. Namun, beberapa warga mengaku pernah melihat cahaya lampu kecil di tengah kawasan makam pada tengah malam. “Kalau cuma orang jualan biasa, kenapa harus malam-malam dan di tempat seperti itu?” ujar Pak Wiryo, seorang warga sepuh, dengan suara pelan.
Dalam cerita yang beredar, praktik tersebut dipercaya berkaitan dengan seseorang yang ingin memperoleh kekayaan secara gaib. Pelaku konon menyediakan sate yang berasal dari burung gagak dan menjualnya kepada makhluk halus. Sosok seperti genderuwo dan kuntilanak sering disebut sebagai pelanggan dalam kisah-kisah mistis tersebut. “Orang tua kami dulu selalu bilang, jangan pernah mendekati penjual sate yang muncul sendirian di dekat kuburan setelah tengah malam,” kata Pak Wiryo. “Sebab, yang membeli belum tentu manusia.”
Konon, lokasi berjualan tidak boleh dipilih sembarangan. Tempat yang dianggap wingit seperti pinggir hutan, makam tua, atau persimpangan sepi dipercaya menjadi lokasi yang digunakan dalam cerita rakyat mengenai ritual ini. Ada pula mitos mengenai uang sebagai “pancingan” yang diletakkan di tempat tertentu sebelum ritual dimulai. Bagi masyarakat setempat, semua perlengkapan tersebut bukan sekadar benda biasa, melainkan bagian dari cerita tentang perjanjian dengan dunia gaib.
Cerita semakin menyeramkan karena muncul kepercayaan bahwa penjual sate tersebut harus tetap menjalankan ritualnya. Jika berhenti, konon gangguan dari makhluk halus akan mulai berdatangan. “Dulu ada orang yang katanya mendadak kaya. Tapi setelah beberapa tahun, rumahnya sering terdengar suara orang mengetuk pintu saat dini hari,” tutur Bu Marni, warga lainnya. “Yang bikin takut, ketika pintunya dibuka, tidak ada siapa-siapa. Tapi suara ketukannya pindah ke jendela.”
Suatu malam, seorang pemuda bernama Raka mengaku melihat sesuatu yang membuatnya tidak bisa tidur selama berhari-hari. Saat pulang melewati jalan dekat makam, ia mencium aroma sate yang sangat kuat. Dari kejauhan tampak seseorang duduk di bawah pohon besar sambil mengipasi bara. Raka sempat mengira itu pedagang biasa. Namun, ketika mendekat beberapa meter, ia melihat sosok tersebut tidak memiliki bayangan meskipun diterangi cahaya bulan.
“Waktu saya lihat, orang itu seperti sedang menunggu pembeli,” kata Raka kepada beberapa warga keesokan paginya. “Saya panggil dua kali, tapi dia tidak menjawab. Tiba-tiba terdengar suara burung gagak dari atas pohon. Begitu saya menoleh, orang itu sudah tidak ada.” Cerita tersebut segera menyebar. Warga kemudian mengingat kembali berbagai pantangan lama untuk tidak berkeliaran sendirian di kawasan makam ketika malam telah larut.
Mitos tentang pesugihan sate gagak juga menyebut adanya permintaan tertentu dari makhluk gaib sebagai imbalan. Dalam cerita yang berkembang di masyarakat, seseorang dipercaya dapat meminta kekayaan, angka keberuntungan, atau bentuk kemudahan hidup lainnya. Namun, kekayaan tersebut diyakini memiliki harga yang tidak sederhana. Salah satu versi cerita bahkan menyebut bahwa ketika seseorang ingin menghentikan ritual, konsekuensinya justru semakin berat.
“Yang paling ditakuti bukan saat mulai,” kata Pak Wiryo. “Tetapi ketika ingin berhenti.” Ia kemudian menceritakan kisah lama tentang seorang warga yang konon sering mendengar suara orang memanggil namanya dari belakang rumah. Suara itu selalu muncul selepas tengah malam. Ketika diperiksa, tidak pernah ada siapa pun. Anehnya, suara tersebut semakin dekat setiap kali orang itu mencoba mengabaikannya.
Terlepas dari benar atau tidaknya kisah tersebut, cerita tentang ritual sate gagak merupakan bagian dari folklore dan mitos pesugihan yang berkembang di masyarakat Jawa. Tidak ada bukti ilmiah bahwa kekayaan dapat diperoleh melalui transaksi dengan makhluk halus atau bahwa kejadian-kejadian tersebut benar-benar disebabkan oleh ritual tertentu. Namun, bagi warga yang tumbuh bersama cerita tersebut, kawasan makam, hutan, dan jalan sunyi tetap memiliki aura misterius yang membuat bulu kuduk berdiri.
Kini, jika malam semakin pekat dan suara burung gagak terdengar dari arah pepohonan, sebagian warga memilih mempercepat langkah pulang. Mereka percaya bahwa ada cerita-cerita lama yang sebaiknya tidak diganggu. “Kalau mendengar suara orang menawarkan sate tengah malam, jangan menoleh,” pesan Bu Marni. “Apalagi kalau yang terdengar cuma suara tusuk sate dan bara api, tapi tidak ada penjualnya.” Di situlah kisah pesugihan sate gagak terus hidup—bukan hanya sebagai cerita tentang kekayaan gaib, tetapi sebagai legenda gelap yang membuat malam terasa jauh lebih panjang.
Redaksi Energi Juang News




