Energi Juang News, Banten-Pernah berkembang kisah tentang Pesugihan Sumur Tujuh yang membuat Gunung Karang dikenal bukan hanya sebagai kawasan pendakian dan ziarah. Sumur Tujuh dipercaya memiliki hubungan dengan kisah Sultan Maulana Hasanuddin setelah pertempuran melawan Raja Pucuk Umun. Dalam legenda, tongkat sang sultan yang ditancapkan ke tanah kemudian memunculkan sumber-sumber air. “Dari dulu orang-orang percaya tempat itu bukan sumur biasa,” ujar Pak Maman, warga sekitar Gunung Karang. “Kalau datang dengan niat tertentu, katanya harus benar-benar menjaga sikap.”
Legenda tersebut kemudian berkembang menjadi cerita mengenai tempat mencari berkah. Sebagian masyarakat percaya siapa saja yang menemukan dan meminum air dari Sumur Tujuh dapat memperoleh kesehatan, umur panjang, atau keberuntungan. Namun di balik cerita tentang berkah, muncul pula kisah tentang orang-orang yang datang dengan tujuan mendapatkan kekayaan secara instan. “Ada yang datang untuk ziarah, ada yang ingin berdoa, macam-macam,” tutur Pak Maman. “Tapi kalau niatnya cuma mau mengambil keuntungan dari tempat keramat, orang tua dulu bilang jangan.”
Suasana di sekitar Sumur Tujuh memang mudah membangkitkan imajinasi. Batu-batu besar berada di sekitar sumber air dan oleh sebagian warga dipercaya sebagai penjaga sumur. Dalam cerita turun-temurun, pengunjung dianjurkan tidak mengambil sesuatu secara berlebihan dan tidak meninggalkan niat buruk. Konon, orang yang datang dengan keserakahan dapat mengalami kejadian buruk. “Jangan mengambil air lebih dari yang diperlukan,” kata Bu Yayah, warga lainnya. “Itu pesan yang selalu saya dengar sejak kecil. Katanya, alam bisa membalas kalau kita tidak menghormatinya.”
Cerita semakin menyeramkan ketika malam mulai turun. Beberapa orang yang pernah berada di kawasan tersebut mengaku mendengar suara langkah kaki dari balik batu, padahal tidak terlihat seorang pun. Ada pula kisah mengenai suara seperti orang berdoa yang terdengar dari arah sumur. “Saya pernah mendengar suara orang memanggil dari dekat Sumur Tujuh,” ujar Bu Yayah. “Saya kira rombongan pendaki. Waktu saya lihat, ternyata tidak ada siapa-siapa. Yang ada cuma kabut dan suara air.”
Seorang pendaki bernama Rian bahkan mengaku mengalami kejadian aneh ketika berkunjung bersama dua temannya. Saat mereka mendekati kawasan sumur menjelang petang, ia melihat bayangan seseorang berdiri di antara batu-batu besar. Sosok itu mengenakan pakaian gelap dan terlihat seperti sedang menundukkan kepala. “Saya pikir ada peziarah,” kata Rian kepada warga setelah turun. “Tapi teman saya bilang tidak melihat siapa pun. Ketika saya menoleh lagi, sosok itu sudah tidak ada.”
Yang membuat Rian semakin ketakutan, beberapa saat kemudian terdengar suara ketukan dari salah satu batu di sekitar sumur. Bunyi itu terdengar tiga kali. Tok… tok… tok. Ketiganya terdiam. “Kami pikir mungkin batu terkena ranting,” ujar Rian. “Tapi setelah kami pindah tempat, bunyi itu terdengar lagi dari belakang kami.” Mereka akhirnya memilih meninggalkan lokasi sebelum hari benar-benar gelap. Dalam perjalanan turun, suara langkah kaki terdengar mengikuti mereka hingga beberapa ratus meter.
Dalam legenda setempat, Sumur Tujuh juga dipercaya sebagai titik yang memiliki hubungan dengan dunia spiritual. Ada cerita yang menyebut kawasan tersebut sebagai tempat pertemuan antara wali dan makhluk gaib. Kisah semacam ini membuat sebagian peziarah datang dengan penuh kehati-hatian. Pesugihan Sumur Tujuh kemudian menjadi salah satu bagian dari cerita mistis yang berkembang di sekitar kawasan tersebut, meskipun tidak terdapat bukti ilmiah bahwa sumur itu dapat memberikan kekayaan atau menjadi tempat transaksi dengan makhluk gaib.
Menurut kepercayaan yang beredar, orang yang mengambil sesuatu secara berlebihan atau datang dengan niat buruk dapat menerima kutukan. Bentuknya bermacam-macam dalam cerita warga, mulai dari sakit secara tiba-tiba, tersesat di jalur yang sama, hingga mendengar suara-suara aneh setelah meninggalkan gunung. “Yang paling saya takutkan bukan kutukan,” kata Pak Maman. “Tapi kalau orang datang lalu merusak alam. Gunung ini sudah punya sejarah panjang. Jangan karena cerita mistis, malah tempatnya diperlakukan sembarangan.”
Gunung Karang sendiri memiliki nilai sejarah dan budaya yang jauh lebih luas daripada kisah mistisnya. Gunung dengan ketinggian sekitar 1.778 meter di atas permukaan laut tersebut berkaitan dengan berbagai cerita perjalanan sejarah Banten, termasuk legenda perjuangan Sultan Maulana Hasanuddin dan Raja Pucuk Umun. Sumur Tujuh kemudian menjadi bagian dari warisan cerita yang menggabungkan unsur sejarah, religi, alam, dan folklore. Bagi warga, kisah-kisah itu sebaiknya diwariskan dengan tetap menghormati konteks budaya dan menjaga kawasan alamnya.
Ketika malam benar-benar menguasai Gunung Karang, kabut dapat membuat jarak pandang semakin pendek. Suara dedaunan terdengar seperti bisikan dan batu-batu besar di sekitar Sumur Tujuh tampak seperti sosok yang sedang mengawasi dari kejauhan. “Kalau sudah malam, jangan mencari-cari sesuatu yang memang tidak perlu dicari,” pesan Bu Yayah. “Datang untuk berziarah, berdoa, dan menikmati alam, lalu pulang.” Sebab di balik legenda ritual Sumur Tujuh, ada pesan yang jauh lebih sederhana: alam dan tempat bersejarah harus dihormati, sementara keinginan mendapatkan keberuntungan sebaiknya tidak membuat manusia kehilangan akal sehat dan nuraninya.
Redaksi Energi Juang News




