Minggu, Maret 15, 2026
spot_img
BerandaRemang SenjaRumah Tua yang Diam-Diam Mengawasi Penghuninya

Rumah Tua yang Diam-Diam Mengawasi Penghuninya

EnergiJuangNews,Bandung- Tidak semua rumah yang terlihat teduh menyimpan ketenangan. Ada bangunan-bangunan lama yang seolah berdiri sambil menunggu, mengamati siapa pun yang berani menempatinya. Hana (32) tidak pernah menyangka bahwa kepindahannya ke sebuah kota di Jawa Barat akan mempertemukannya dengan pengalaman yang perlahan mengikis logika dan keberaniannya. Awalnya semua terasa biasa, bahkan penuh harapan, seperti awal hidup baru yang sederhana dan tenang.

Saat itu suami Hana mendapat tugas dinas cukup lama, namun tidak disediakan rumah jabatan. Mereka pun berkeliling kota mencari kontrakan, berpindah dari satu gang ke gang lain tanpa hasil. Hingga suatu sore, sang suami bercerita kepada atasannya tentang kesulitan tersebut. Tak disangka, pimpinan suaminya menawarkan rumah pribadinya untuk mereka tempati sementara. “Rumahnya kosong, sudah lama nggak ditempati,” kata sang pimpinan dengan nada ringan. Hana sempat ragu, namun karena kebutuhan mendesak, ia akhirnya mengiyakan.

Beberapa bulan lalu, Hana dan suaminya berangkat menuju rumah itu dengan sepeda motor. Sepanjang perjalanan, perasaan Hana terasa tidak enak tanpa alasan jelas. Dadanya sesak, pikirannya gelisah. Tepat ketika mereka memasuki jalan kecil menuju rumah tujuan, Hana melihat tiga anak berdiri di pinggir jalan. Dua gadis belia dan satu anak laki-laki berwajah bule tersenyum dan menyapa. Hana membalas anggukan kecil, meski hatinya bergetar aneh. Beberapa meter kemudian, motor mereka berhenti tepat di depan rumah yang akan mereka tinggali.

Rumah itu memiliki halaman luas dan bangunan bergaya lama. Catnya kusam, namun tampak kokoh. Menurut sang pemilik, rumah tersebut sudah kosong selama enam tahun. Saat Hana melangkah masuk, ia justru terpesona. Di dalamnya terdapat piano tua, jam dinding besar yang masih berdetak pelan, serta sepeda ontel lawas bersandar di sudut ruangan. “Rumah ini seperti menyimpan cerita,” gumam Hana kala itu, tanpa tahu seberapa kelam cerita yang dimaksud.

Hari-hari pertama berjalan normal. Mereka membeli perlengkapan rumah tangga dan mulai menata ruangan. Namun memasuki minggu pertama, Hana mulai merasakan keanehan. Suatu sore saat hendak mengambil air minum di dapur, penglihatannya tiba-tiba berubah buram. Dapur terasa lebih dingin, dan dalam hitungan detik ia mendengar suara anak laki-laki tertawa kecil. “Ayo… ayo…” suara itu terdengar jelas. Saat Hana memejamkan mata dan menarik napas, suara itu menghilang begitu saja.

Gangguan tak berhenti di situ. Di depan jendela kamar Hana berdiri sebuah pohon besar yang daunnya sering berguguran. Setiap malam daun-daun itu menumpuk di tanah. Namun anehnya, setiap pagi Hana mendapati halaman kembali bersih, tanpa bekas sapuan atau suara orang membersihkan. Saat ditanya pada tetangga, seorang ibu tua hanya menatapnya lama. “Di situ memang sering bersih sendiri, Mbak,” katanya pelan, seolah enggan melanjutkan.

Beberapa minggu kemudian, mertua Hana datang menginap. Hubungan mereka tidak akrab, bahkan cenderung dingin. Pagi itu, mereka sarapan berdua di ruang makan. Mertua Hana melontarkan kata-kata yang menusuk perasaan. Hana menunduk, menahan tangis. Di saat itulah ia merasakan sesuatu yang membuat tubuhnya kaku. Ada tangan yang mengusap rambutnya dengan lembut, turun ke bahu, lalu menepuknya dua kali, seperti memberi penguatan.

Hana membuka mata dengan cepat. Tidak ada siapa pun di sampingnya. Jantungnya berdegup kencang. “Siapa barusan?” tanyanya dalam hati. Ia menoleh ke arah mertua, namun perempuan itu sibuk dengan makanannya. Usapan itu terasa nyata, hangat, dan penuh empati, sesuatu yang tidak pernah ia dapatkan di rumah itu. Sejak saat itu, Hana mulai yakin bahwa ia tidak sendirian.

Hana memilih memendam semua kejadian itu. Ia takut dianggap berlebihan. Namun perubahan sikapnya tidak luput dari perhatian suami. “Kamu kenapa sekarang sering bengong?” tanya suaminya suatu malam. Dengan suara bergetar, Hana akhirnya menceritakan semua. Dari anak-anak yang ia lihat di jalan, suara di dapur, hingga sentuhan misterius yang menenangkan. Wajah suaminya pucat. “Kita pindah,” katanya singkat tanpa ragu.

Beberapa hari setelah mereka pergi, Hana sempat kembali untuk mengambil barang yang tertinggal. Seorang warga setempat menghampirinya. “Mbak, rumah itu memang lama kosong,” ujarnya. “Katanya dulu sering ada anak-anak yang kelihatan. Mereka nggak jahat, cuma… masih di situ.” Hana mengangguk pelan. Ia tak lagi mencari penjelasan. Rumah tua itu tetap berdiri, sunyi, seolah menunggu penghuni berikutnya yang mungkin akan kembali merasakan sentuhan yang tak pernah terlihat, namun selalu terasa.

Redaksi Energi Juang News

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments