Energi Juang News, Kaltim– Suara serangga bergaung tanpa jeda, seolah memperingatkan siapa pun yang melangkah terlalu jauh dari jalur setapak. Warga kampung Tuana Tuha percaya bahwa hutan bukan hanya tempat pohon tumbuh, melainkan wilayah yang memiliki penghuni tak kasat mata. “Kalau masuk hutan, jangan sembarangan bicara,” pesan seorang tetua kampung kepada rombongan pencari rotan suatu pagi.
Bengsi adalah makhluk yang menjadi sumber ketakutan warga digambarkan sebagai sosok perempuan menyeramkan yang selalu membawa bayi dengan tali pusar masih menempel pada rahimnya. Konon ia menyelinap di antara batang pohon, mengintai manusia yang melanggar pantangan atau menunjukkan kesombongan. “Dia tidak selalu datang malam,” ujar Pak Leman di beranda rumah panggung. “Kadang siang hari pun bisa terlihat, kalau nasib seseorang sedang buruk.” Suaranya bergetar ketika menyebutkan makhluk itu seakan masih merasakan bayangannya.
Tanda kehadirannya dipercaya mudah dikenali bagi yang peka. Warga mengatakan tetesan darah sering terlihat di atas dedaunan kering atau tanah lembap. Darah itu menetes tanpa henti dari tubuh makhluk tersebut seperti perempuan yang baru melahirkan. “Kalau melihat daun berdarah, segera tutup dengan daun lain,” kata seorang ibu kepada anaknya. “Kalau tidak, dia akan muncul di depanmu.” Nasihat itu diturunkan dari generasi ke generasi sebagai peringatan keras.
Selain tanda darah, suara cekikikan melengking sering menjadi pertanda paling mengerikan. Suara itu terdengar seperti tawa yang terputus oleh rasa sakit, lalu berubah menjadi jeritan panjang. Banyak warga mengaku suara tersebut membuat tubuh mereka lemas. “Saya pernah dengar, seperti bayi menangis bercampur tawa perempuan,” cerita seorang pencari madu hutan. “Rasanya bulu kuduk langsung berdiri.”
Sebuah kisah yang terkenal di Tuana Tuha diceritakan tentang seorang pria pencari rotan bernama Rudi. Ia masuk jauh ke dalam hutan sendirian demi mendapatkan rotan terbaik. Saat berjalan melewati semak, ia melihat daun-daun kering bercak merah pekat. Rudi berhenti sejenak, namun mengabaikannya. “Ah, cuma darah hewan,” gumamnya sambil melangkah lagi. Tak lama kemudian, suara cekikikan melengking terdengar dari balik pepohonan.
Dari kejauhan, muncul sosok perempuan dengan wajah pucat dan mata kosong. Di tangannya tergantung seorang bayi yang tubuhnya kebiruan. Tali pusar yang menyambung dari rahim makhluk itu menjuntai panjang dan meneteskan darah. Rudi terdiam, napasnya tercekat. “Jangan… jangan dekati aku,” bisiknya panik. Namun makhluk itu tiba-tiba melemparkan bayinya ke arah Rudi. Bayi itu menempel pada keranjang rotan di punggungnya dan mencengkeram kuat.
Tarik-menarik pun terjadi ketika tali pusar yang menempel mulai ditarik oleh makhluk itu. Rudi berteriak, “Tolong! Tolong!” tetapi suaranya tertelan hutan. Ia mencoba melepaskan keranjang rotannya. Dalam kepanikan, ia menjatuhkan beban itu dan berlari menuju sungai terdekat. Tali pusar yang tertarik membuat makhluk itu terpental hingga tercebur ke dalam air bersama bayinya.
Air sungai bergolak hebat. Beberapa saat kemudian, makhluk itu muncul kembali di permukaan, berusaha menarik bayi yang hanyut. Namun tubuh kecil itu sudah tak bergerak. Warga yang mendengar kisah Rudi percaya bahwa makhluk tersebut akhirnya mati setelah bayinya tenggelam. “Dia bersenyawa dengan bayinya,” kata seorang tetua kampung. “Kalau bayi itu mati, dia juga mati.” Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama.
Menurut cerita lain yang berkembang, makhluk itu berasal dari perempuan hamil yang dikuburkan di dalam hutan tanpa nisan. Roh yang tidak tenang bangkit bersama janin yang dikandungnya. Sejak saat itu, ia berkeliaran memburu manusia. “Jangan pernah menantang hutan,” kata Pak Leman suatu malam kepada para pemuda. “Yang sombong biasanya jadi korban.”
Meski menakutkan, warga juga memiliki cara untuk menghindari teror tersebut. Mereka percaya makhluk itu takut pada api. “Kalau masuk hutan, bawa korek api,” ujar seorang pemburu tua. Ada pula kepercayaan bahwa melempar buah kemiri dapat mengalihkan perhatiannya. “Dia akan bermain dengan kemiri itu,” kata seorang perempuan paruh baya. “Itu kesempatan kita untuk lari.”
Hingga kini, kisah mengerikan itu masih hidup dalam ingatan warga Tuana Tuha. Setiap kali seseorang hendak memasuki hutan, peringatan lama selalu diulang dengan nada serius. “Kalau dengar tawa melengking, jangan menoleh,” kata seorang ibu kepada anaknya. Dan ketika kabut turun perlahan di antara pepohonan, banyak orang bersumpah pernah melihat bayangan perempuan membawa bayi bergerak diam-diam di kejauhan, seolah menunggu korban berikutnya.



