Berita Energi Juang, Jakarta– Terletak di kaki Lembah Gunung Kawi sisi timur, tepatnya di Dusun Bendungan, Desa Landungsari, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, sebuah lahan kebun jeruk menyimpan misteri tua. Tak jauh dari Sungai Metro dan Sungai Braholo, struktur batu kuno menyeruak dari dalam tanah, membentuk pola arsitektur yang tidak biasa. Warga yang tinggal di sekitar menyebut lokasi itu Situs Balekambang, sebuah nama yang muncul tanpa asal usul yang jelas, namun seolah telah diwariskan dari mulut ke mulut sejak lama.
Dari kejauhan, tempat itu tampak seperti kebun biasa. Tapi mereka yang pernah masuk merasakan sesuatu yang berbeda. Suara angin yang tak biasa, bayangan hitam melintas di sela pohon jeruk, dan hembusan dingin tiba-tiba membuat siapa pun berpikir dua kali. “Waktu saya lewat sini malam-malam, saya dengar suara gamelan, padahal enggak ada orang,” ucap Pak Rudi, petani yang lahannya bersinggungan langsung dengan situs tersebut.
Penampakan makhluk tak kasat mata bukan cerita baru bagi warga Dusun Bendungan. Menurut cerita turun-temurun, tempat itu dijaga oleh dua entitas besar yang berwujud lelaki berbaju Jawa, berdiri di atas pohon nangka tepat di atas struktur candi. “Mereka tinggi besar, diam saja tapi seperti awasi kita. Sudah lama enggak ada yang berani masuk sembarangan,” ujar Bu Erna, warga senior yang tinggal tak jauh dari lokasi.
Ketika malam tiba dan bulan tampak penuh, ketegangan di sekitar situs semakin terasa. Salah satu warga, Darto, mengaku pernah melihat sosok besar melata di antara reruntuhan batu. “Saya kira ular, tapi panjangnya nggak wajar. Lebih mirip anakonda, matanya merah menyala,” ceritanya sambil menunjukkan arah kemunculannya. Warga lainnya memilih diam, enggan memperpanjang obrolan tentang makhluk itu.
Meski diselimuti aura angker, tempat itu tetap menarik minat para pelaku spiritual dari berbagai penjuru. Mereka datang bukan hanya untuk menelusuri sejarah, tapi juga mencari ketenangan dalam meditasi dan semedi. “Energinya kuat di sini, kayak ditarik untuk diam dan hening,” ungkap seorang spiritualis asal Yogyakarta yang enggan disebutkan namanya. Namun tak semua yang datang kuat bertahan lama. Banyak yang pergi dengan tubuh gemetar dan raut wajah pucat.
Ketua Pemerhati Budaya Indonesia (PBBI) Jawa Timur, Budi Kariono, mengakui jika lokasi ini memiliki daya tarik tersendiri. Namun menurutnya, Situs Balekambang bukanlah punden desa, sehingga tidak masuk dalam kegiatan ritual bersih desa seperti biasanya. “Ini bukan sekadar situs sejarah. Ada dimensi lain yang tak bisa dijelaskan secara logika,” ungkapnya saat ditemui usai survei di lokasi. Ia menyarankan agar situs tersebut dilestarikan tapi tetap dijaga dari gangguan yang tak perlu.
Salah satu hal paling menyeramkan adalah ketika warga mendengar suara-suara tanpa wujud. Seperti suara anak kecil tertawa, perempuan menangis, atau denting alat musik tradisional dari dalam tanah. “Kalau musim hujan, suara-suara itu makin jelas,” ungkap Mas Anwar, pemuda lokal yang biasa menjaga kebun malam hari. Meski sempat nekat merekam suara itu, hasil rekamannya malah hilang begitu saja dari ponselnya.
Rasa takut itu bukan hanya sugesti. Beberapa warga pernah mengalami mimpi buruk berulang setelah tanpa sengaja melintasi situs. “Saya mimpi dikejar bayangan hitam besar, setiap malam selama seminggu,” ujar Mbak Yuli, ibu rumah tangga yang tinggal di RT 3. Mimpinya baru berhenti setelah ia menabur bunga dan membakar kemenyan di batas kebunnya sendiri, mengikuti saran dari orang pintar desa sebelah.
Kini Situs Balekambang tetap menjadi misteri yang hidup di antara warga. Di balik rindangnya pohon jeruk dan teduhnya pohon nangka, struktur batu peninggalan masa lalu itu seperti dijaga oleh tangan-tangan tak kasat mata. Mereka yang percaya, akan menghormatinya. Mereka yang tak percaya, tetap menjauh tanpa berani menantang. Di sinilah gaib dan nyata bertemu dalam sunyi yang menggetarkan.
Redaksi Energi Juang News



