Energi Juang News, Bandung – Desa Mekarwangi di Bandung terletak di kaki perbukitan Sindangkerta yang hampir selalu diselimuti kabut. Malam turun di sana seperti tirai berat, menutup pandangan sekaligus perasaan. Warga terbiasa hidup berdampingan dengan sunyi, seolah setiap langkah harus meminta izin pada tanah yang mereka pijak. Dengan terlalu minim penerangan membuat masyarakat enggan keluar rumah dimalam hari.
Bu Murni adalah perempuan tua yang dihormati hampir semua warga karena berprofesi sebagai seorang dukun beranak, penjaga awal kehidupan dengan banyak sekali pengalaman mistis dan menyeramkan dialaminya. Beliau tinggal di rumah kayu tua di tepi hutan jati. “Kalau bukan Bu Murni, siapa lagi?” kata Pak Darto warga desa itu suatu sore. Hidupnya sederhana, menyatu dengan alam dan doa-doa lama.
Suatu malam hujan gerimis pada hari kamis sekitar bulan Oktober, pintu rumahnya diketuk tiga kali. Dengan tenang ia beranjak membukakan pintu rumahnya. Berderik suara pintu yangterbuka diiringi muncul di luar berdiri Sari perempuan muda dengan wajah tegang dan pucat, basah kuyup air hujan seolah dari perjalanan yang jauh. Setelah dipersilahkan masuk, Bu Murni sebelum menutup pintu mengamati diluar, mengawasi apakah ada sosok tak kasat mata mengikuti. “Saya mau melahirkan, Bu,” kata Sari. Bergegas Bu Murni mempersilakan berbaring dikursi panjang tamu, karena melihat keadaan Sari yang sudah terlihat lemah. Wajah Sari itu tegang, seperti daun pisang yang ditarik angin sebelum robek diterpa kecemasan yang menghimpit perasaan hidup dan mati.
Seperti biasa Bu Murni segera menyiapkan persalinan, penuh kehati hatian berharap persalinan berlangsung terlalu tenang, sunyi menyelimuti ketegangan malam itu. Tak ada jeritan, namun peluh membasahi dan diluar sana hujan dan petir menyambar menambah ketegangan proses persalinan malam itu. Proses yang melelahkan akhirnya tepat tengah malam, bayi lahir. Tiba tiba lampu minyak didekat Bu Murni bergoyang sendiri, membuat ia mengawasi sekitar barangkali ada sesuatu yang aneh mengiringi. Bayi lahir tanpa tangis, Bu Murni berusaha memukul mukul si bayi berharap keluar suara tangis. Diamati wajah bayi yang masih berlumuran air ketuban, bayi itu membuka mata dan tampak bola matanya hitam legam, sesuatu yang jarang terjadi selama ia membantu persalinan,
Sari pun tersenyum sumringah, dengan giginya putih dan runcing. “Terima kasih, Bu,” ucapnya lembut, namun aneh nadanya terasa tua. Wajah Sari tiba tiba berubah dadatar dan tatapannya kosong, sambil berucap”Saya pamit pulang bu, suami saya menunggu diluar.” Bu Murni terheran karena tadi saat menutup pintu tak ada seorangpun diluar rumahnya.
Keanehan terjadi dipagi harinya, Bu Murni mendapati ruang tamu yang tak berbekas ada persalinan yang baru dilakukannya semalam.. Tak ada kain kotor, hanya sehelai rambut hitam melingkar di ujung dipan, seperti ular tidur. Mendapati keadaan itu, Bu Murni langsung menyimpulkan bahwa semalam yang meminta tolong proses melahirkan bukan manusia biasa, tapi sosok kuntilanak.
Lima hari kemudian, jeritan terdengar dari kebun kosong. Warga berkerumun. “Ya Allah…” bisik Bu Rani. Ilalang menghitam, aroma amis bercampur melati. Saat mendengar berita penemuan itu, Bu Murni mengenali sosok itu, wajah itu mengingatkan pada sosok perempuan yang lima hari lalu ia bantu melahirkan bayinya. Bu Murni mengernyitkan dahi, keheranan, hatinya tahu, meski mulutnya diam.
Pak Bram dari polisi datang. “Korban sedang hamil, identitas belum ada,” katanya. Tiga hari kemudian, Polisi berhasil mengungkap identitas korban bernama Sari. Menurut saksi mata tetanggakorban, menceritakan sebelumnya terjadi pertengkaran hebat dirumah Sari. Dan saksi mata yang lain mengatakan“ Esok paginya Andri suami korban terlihat tergesa gesa membawa karung berat keluar rumahnya,” ujar seorang saksi mata pelan.
Pertanyaan menggantung seperti asap dupa di dalam alam pikir Bu Murni: bagaimana mungkin Sari yang telah meninggal lima hari datang melahirkan? Jelas ini peringatan baginya , untuk berhati hati menerima tamu malam hari. “Jelas itu bukan manusia,” kata Pak Darto lirih seorang ahli penerawang hal mistis. Seperti sebuah cermin retak, kejadian itu memantulkan sesuatu yang lebih tua dan kelam. Suara Sari yang sebelumnya jernih layaknya gadis, setelah melahirkan suaranya berubah menua dan tatapannya kosong
Sejak itu kabut turun tiap malam. Banyak warga yang melintasi rumah itu merdengar tangis bayi samar dari hutan jati samping rumah Bu Murni.Namun Bu Murni masih menyimpan kain putih bernoda yang bisa ia jadikan bukti malam itu benar ia membantu orang melahirkan. Rasa takut mulai menggelayuti hari hari Bu Murni, karena belum pernah ia mengalami kejadian seseram ini. Mungkin kalau sekedar cerita legenda atau bisikan dari para orang tua yang dilingkungannya tak membuat Bu Murni takut. Ia berdoa, sebisanya, karena ibarat menambal celah waktu agar tak makin menganga. Berharap kejadian serupa tak terjadi lagi
Genap dua minggu setelah kejadian itu, Bu Murni melihat bayangan perempuan muncul diantara pepohonan di hutan jati dekat rumahnya, bergaun putih namun terdapat bercak darah, tatapan mata kosong dan menggendong bayi berdarah,. Mulutnya bergerak tanpa suara. Ia tidak menakut-nakuti, ia seolah mencari keberadaan suami yang meninggalkannya untuk menuntut balas dendam. Dan Mekarwangi belajar, ada kelahiran yang bukan membawa hidup, melainkan penagihan janji lama.
Redaksi Energi Juang News



