Minggu, April 19, 2026
spot_img
BerandaRemang SenjaAlas Lali Jiwo Gunung Arjuno: "Jangan Menoleh di Hutan Itu!!"

Alas Lali Jiwo Gunung Arjuno: “Jangan Menoleh di Hutan Itu!!”

Energi Juang News, Jakarta- Andi, Riko dan Nisa, mahasiswa antropologi dari Jakarta, datang ke Desa Tambakwatu itu untuk tugas akhir mengenai cerita rakyat. Ia menginap di rumah Pak Min, seorang bapak tua yang dikenal pendiam dan tak pernah keluar selepas matahari condong ke barat.

“Mas, kalau mau naik Gunung Arjuno, jangan lewat Alas Lali Jiwo kalau nggak penting banget ya. Sudah banyak yang nggak balik,” ujar Pak Min, seorang warga Desa Tambakwatu, sambil menyalakan rokok kretek dengan tangan yang gemetar.

Andi, pendaki asal Jakarta, hanya tersenyum. “Terima kasih, Pak. Saya cuma mau camping satu malam di sana. Katanya pemandangannya bagus.”

Pak Min memandangnya lekat-lekat, lalu berkata pelan, “Mas, bagus memang, tapi bukan buat orang yang gampang lupa. Di sana, bukan cuma kabut yang bisa bikin tersesat, tapi juga… suara yang memanggil dengan nama kita sendiri.”

Siang itu Andi bersama dua temannya, Riko dan Nisa, memutuskan mulai pendakian dari Pos Tretes tanpa menghiraukan wejangan Pak Min. Setelah sekian lama pendakian, tibalah mereka di kawasan Alas Lali Jiwo menjelang petang dan mereka memutuskan mendirikan tenda untuk beristirahat. Hutan itu lebat, sunyi, dan udara terasa lebih dingin menusuk tulang dan lebih berkabut dari biasanya.

“Kok sepi banget ya di sini? Padahal ini jalur populer,” gumam Nisa sambil menggigil.

“Mungkin karena orang-orang percaya mitos,” jawab Riko sambil tertawa sinis.

Namun, malam itu, tawa mereka digantikan oleh ketakutan di keesokan harinya.

Saat bermalam mereka terlelap dalam tidur, samar samar terdengar suara memanggil nama salah satu dari mereka.

“Rikoo…Rikoo..Rikoo….

Mendengar suara namanya dipanggil, Riko terbangun. Waktu menunjukkan tengah malam. Kembali telinganya menangkap suara seseorang memanggil namanya dari balik pepohonan. Ia menoleh—suatu hal yang dilarang menurut cerita Pak Min.

Baca juga :  Kisah Mistis di Balik Jembatan Asem Buntung: Lokasi Angker di Ponorogo

Karena penasaran perlahan Riko keluar temda untuk mengecek siapa yang memanggil manggil namanya. Semakin jauh Riko melangkah semakin jauh pula suara itu terdengar, tanpa sadar Riko sudah jauh meninggalkan tenda malam itu. Riko tersadar setelah sosok yang dilihatnya tadi perlahan hilang diantara kabut. Dia semakin heran suara yang dia dengar perlahan berubah melengking meninggi mendekat dengan cepat menakutkan.

Di iempat itu Riko melihat sosok perempuan dengan baju kusam penuh tanah, rambut panjang menutupi wajah berdiri di antara dua pohon besar. Tapi yang paling membuat napas Riko tercekat adalah… mata yang merah menyala seperti bara. Tangannya melambai perlahan, seperti mengundang. Tangannya melambai… dan matanya, saat terlihat, memerah seperti bara api. Hal itu membuat Riko terperanjat dan pingsan ditempat itu.

Kembali ke tenda, keesokan harinya saat Andi dan Nisa kaget Riko menghilang dari tenda. Mereka berusaha mencari kesana kesini tapi tidak ada jejak. Kabut tebal pagi itu masih menyelimuti area puncak gunung, sehingga pandangan mereka terhalang. Setelah lelah mencari tak ketemu Andi dan Nisa mulai panik, mata Nisa mulai sembab. Karena sedih bercampur takut terjadi hal yang tidak diinginkan menimpa Riko. Mereka akhirnya memutuskan turun tergesa-gesa ke desa terdekat untuk meminta pertolongan.

Di pos peristirahatan mereka kembali bertemu Pak Min, dengan nafas berat Pak Min meminta keterangan dari mereka berdua. Setelah mendengar semua cerita Pak Min mengingatkan lagi,

“Saya sudah bilang, jangan menoleh kalau dipanggil. Sosok itu dulunya pendaki juga, katanya namanya Sari. Hilang tahun 2002. Dia selalu muncul kalau seseorang menoleh saat namanya dipanggil di hutan.”

“Tapi… suara itu …kami tak mendengarnya, Pak,” kata Andi.

Baca juga :  Misteri Hantu Kuntilanak di Way Kanan: Musim Teror dari Atas Pohon

Pak Min menggeleng. “Pastilah kalian tak mendengar, karena itulah kenapa disebut ‘Alas Lali Jiwo’. Jiwa yang lupa jalan pulang. Sekali kau menoleh, kau bisa jadi bagian dari hutan itu.”

Setelah dilakukan pencarian tiga hari kemudian tubuh Riko ditemukan di dasar jurang. Tubuhnya utuh, tapi matanya terbuka lebar, seolah-olah masih menyaksikan sesuatu yang tak bisa diceritakan manusia.

Segera warga mengevakuasinya untuk dirujuk ke Puskesmas terdekat. Setelah siuman Riko belum bisa berkomunikasi, kejiwaannya terganggu dan sering berteriak ketakutan seolah dia bertemu sosok mengerikan. Sementara Andi dan Nisa tidak melihat apapun diruangan itu, membuat mereka semakin merinding ketakutan.

Tiga hari Riko dirawat akhirnya tim medis menyerah, dan Riko akhirnya meninggal karena hipothermia akut dan kekurangan cairan. Sementara Andi dan Nisa sangat terpukul atas apa yang menimpa Riko. Andai kata mereka mengikuti saran Pak Min, hal ini tak mungkin terjadi. Kini Andi dan Nisa pulang ke Jakarta dengan membawa kesedihan mendalam.

Kini, setiap malam Jumat Kliwon, warga sekitar kadang masih mendengar langkah-langkah kaki di jalur pendakian yang seharusnya kosong. Dan sesekali, ada suara lirih memanggil dari balik kabut…

Redaksi Energi Juang News

Moh Khobir Riyadi
Moh Khobir Riyadihttps://energijuangnews.com/
Sosok pria penulis artikel pada kanal Remang Senja (Horror), Ojo Lali dan Not & Musik. Memberikan tulisan semenarik mungkin untuk kalian para pembaca.
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments