Senin, April 20, 2026
spot_img
BerandaRemang SenjaMisteri Hantu Gunung Pegat: Kutukan di Jalan Ngglali

Misteri Hantu Gunung Pegat: Kutukan di Jalan Ngglali

Energi Juang News,Ponorogo- Jalanan berkelok di wilayah Bungkal, Ponorogo, tampak biasa saja saat siang. Sepeda motor lalu-lalang, warga melintas tanpa rasa curiga. Namun ketika malam turun, suasana berubah drastis. Kabut tipis turun perlahan, menutupi aspal yang membelah perbukitan, menciptakan kesan seolah jalan itu tidak berujung.

Di titik tertentu, ada bagian yang dikenal warga sebagai “Ngglali”—jalur sunyi yang menyimpan banyak cerita tak selesai.

Dan di sanalah, sesuatu sering menampakkan diri.

Gunung Pegat bukan sekadar tempat yang dikaitkan dengan mitos perceraian pengantin baru. Di balik cerita itu, ada sejarah kelam yang lebih dalam—tentang manusia yang hilang, dibunuh, dan dikubur tanpa nama.

Konon, pada tahun 1965, kawasan ini menjadi lokasi pembantaian massal. Banyak jasad dikuburkan di sepanjang jalur yang kini menjadi jalan penghubung antar kecamatan.

Beberapa tahun kemudian, saat pelebaran jalan, warga menemukan benda-benda aneh—jam tangan tua, serpihan logam, dan tulang yang terkubur dangkal.

Sejak itu, suasana di Gunung Pegat tidak pernah benar-benar “normal”.

Suatu malam sekitar pukul dua dini hari, seorang dalang bernama Jatmiko melintas sendirian sepulang pentas. Ia sudah terbiasa melewati jalan itu, meskipun sering mendengar cerita menyeramkan.

Namun ketika memasuki jalur Ngglali, ia melihat sesuatu di depan.

Di tengah jalan, seekor macan putih berdiri diam.

Bulu-bulunya pucat, hampir bersinar di bawah cahaya lampu mobil. Namun matanya… bukan mata hewan biasa.

Mata itu merah gelap, seperti bara yang hampir padam.

Jatmiko menginjak rem mendadak.

Muncul sosok macan yapi tidak bergerak. Hanya menatap lurus ke arah mobil.

Lalu perlahan, ia melangkah menyeberang, namun langkahnya tidak menimbulkan suara.

Tidak ada gesekan kaki dengan aspal, seolah ia… tidak benar-benar menyentuh tanah.

Baca juga :  Suara Dunia Lain di Balik Cermin

Setelah macan itu hilang di balik semak, Jatmiko mencoba melanjutkan perjalanan. Namun kaca spionnya menangkap sesuatu.

Ada bayangan lain tapi bukan macan melainkan sosok manusia.

Tinggi, kurus, dengan tubuh yang tampak membusuk. Kulitnya keabu-abuan, mengelupas di beberapa bagian. Matanya cekung dalam, hitam pekat tanpa putih mata.

Dan yang paling mengerikan—mulutnya terbuka lebar, seolah menjerit tanpa suara.

Sosok itu berdiri tepat di tengah jalan… lalu tiba-tiba muncul di kaca spion.

Jatmiko menoleh cepat ke belakang tapi kosong.

Namun saat ia melihat ke depan lagi, sosok itu sudah berada di kap mobilnya.

Wajahnya sangat dekat, hampir menempel di kaca depan.

Kulitnya retak seperti tanah kering. Dari celah-celahnya, tampak cairan hitam mengalir pelan.

Matanya menatap langsung ke dalam mata Jatmiko.

Dan kali ini… mulutnya bergerak tanpa suara.

Namun Jatmiko bisa “mendengar” dalam pikirannya meninggalkan tempat itu.

Jatmiko mencoba menginjak gas namun mobilnya tidak bergerak, mesin meraung, tapi roda seperti terkunci.

Sosok itu masih di sana, perlahan mengangkat tangannya—yang kurus, panjang, dengan jari-jari seperti ranting patah mengetuk kaca mobil.

Setiap ketukan terasa seperti menghantam dada Jatmiko, sosok warok itu mengangkat tangannya perlahan.

Seketika, macan putih tadi muncul kembali dari kegelapan.

Ia melompat ke arah mobil, namun bukan menyerang Jatmiko melainkan menerkam sosok di kap mobil.

Dalam sekejap, sosok mengerikan itu menghilang.

Bersama suara seperti angin yang tersedot mesin mobil kembali normal, Jatmiko langsung tancap gas tanpa menoleh ke belakang.

Ia tidak berhenti sampai benar-benar keluar dari kawasan Gunung Pegat.

Keesokan harinya, ia menceritakan kejadian itu kepada seorang warga tua.

Warga itu hanya mengangguk pelan.

Baca juga :  Jerangkong, Hantu Tengkorak Penunggu Kandang Ayam

Cerita tentang pengantin yang bercerai setelah melewati Gunung Pegat mungkin terdengar seperti mitos belaka.

Namun bagi sebagian orang, itu adalah bentuk peringatan.

Bahwa tempat itu bukan sekadar jalan.

Melainkan ruang yang dihuni oleh banyak “penghuni lama”.

Dan mereka… tidak selalu suka diganggu.

Redaksi Energi Juang News

Moh Khobir Riyadi
Moh Khobir Riyadihttps://energijuangnews.com/
Sosok pria penulis artikel pada kanal Remang Senja (Horror), Ojo Lali dan Not & Musik. Memberikan tulisan semenarik mungkin untuk kalian para pembaca.
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments