Energi Juang News,Sragen- Embung Sulur di Desa Gringging, Kecamatan Sambungmacan, Sragen, terlihat tenang ketika matahari mulai tenggelam. Airnya memantulkan warna keemasan senja, sementara pepohonan di sekitarnya berdiri diam diterpa angin sore. Tak banyak yang menyangka bahwa tempat yang menjadi penopang irigasi pertanian itu menyimpan cerita yang terus diperbincangkan warga hingga kini.
Kisah Mistis Embung Sulur mulai ramai dibicarakan setelah beberapa kejadian tragis yang merenggut nyawa anak-anak di lokasi tersebut. Peristiwa yang paling membekas terjadi pada Agustus 2022 ketika dua bocah sekolah dasar ditemukan meninggal tenggelam. Namun menurut warga, kejadian serupa ternyata sudah pernah terjadi sebelumnya.
Hal yang membuat bulu kuduk merinding adalah adanya kesamaan dari para korban. Ketiganya tinggal di Desa Gringging, tetapi tidak dilahirkan di desa tersebut. Fakta itu menjadi pembicaraan yang terus berulang setiap kali warga mengenang peristiwa tersebut.
“Entah hanya kebetulan atau tidak, semua korban memang lahir di luar Gringging,” ujar Pak Suwanto, seorang perangkat desa yang masih mengingat detail kejadian itu.
Korban pertama, menurut cerita warga, terjadi sekitar sepuluh tahun lalu saat embung baru selesai dibangun. Seorang bocah yang sedang bermain di sekitar waduk terpeleset dan tenggelam. Belakangan diketahui bahwa anak tersebut lahir di Yogyakarta meskipun menetap di Gringging.
Kejadian berikutnya menimpa dua sahabat yang masih duduk di bangku kelas IV SD. Salah satunya lahir di Tangerang, sementara yang lain lahir di Batam. Kesamaan itu memunculkan berbagai dugaan yang berkembang dari satu warung ke warung lainnya.
“Kalau dihitung-hitung, kok selalu anak yang lahirnya bukan dari sini,” bisik seorang warga ketika duduk di gardu dekat embung.
Masyarakat sekitar juga kerap mengaitkan kejadian itu dengan sebuah lokasi di sebelah utara embung. Konon, area tersebut dikenal angker sejak lama. Beberapa warga mengaku pernah mendengar suara langkah kaki di malam hari meski tidak ada siapa pun di sekitar lokasi.
“Saya pernah lewat habis magrib. Rasanya seperti ada yang mengikuti dari belakang, tapi saat menoleh tidak ada siapa-siapa,” kata seorang petani yang enggan disebut namanya.
Meski tidak ada bukti yang dapat menjelaskan hubungan antara cerita mistis dan rentetan kejadian tragis itu, legenda terus hidup di tengah masyarakat. Sebagian menganggapnya hanya kebetulan, sementara yang lain percaya ada penghuni gaib yang menjaga kawasan tersebut.
Hingga kini, Misteri Embung Sulur masih menjadi cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi. Di siang hari, embung itu tampak biasa seperti waduk pada umumnya. Namun ketika malam tiba dan kabut tipis mulai turun dari permukaan air, kisah-kisah lama kembali terngiang, menyisakan tanda tanya yang belum pernah benar-benar terjawab.
Redaksi Energi Juang News



