Senin, Juli 20, 2026
spot_img
BerandaNot & MusikChris de Burgh: 50 Tahun Berkarya, Tetap Relevan di Dunia Musik

Chris de Burgh: 50 Tahun Berkarya, Tetap Relevan di Dunia Musik

Energi Juang News,Jakarta- Chris de Burgh. Penyanyi sekaligus penulis lagu asal Irlandia ini merayakan perjalanan kariernya yang telah memasuki usia setengah abad. Lima puluh tahun bukan sekadar angka, melainkan bukti bahwa konsistensi masih menjadi mata uang paling berharga di industri musik yang terus berubah.

Perjalanan Chris dimulai pada 1974 ketika ia menandatangani kontrak rekaman pertamanya bersama A&M Records. Album debutnya, Far Beyond These Castle Walls, resmi dirilis pada tahun yang sama. Saat pertama kali memegang piringan hitam albumnya sendiri, Chris mengaku sama sekali tidak membayangkan kariernya akan berlangsung selama puluhan tahun.

Dalam berbagai wawancara, ia mengenang masa itu sebagai seorang musisi muda yang sangat naif mengenai bisnis musik. Yang dimilikinya hanyalah harapan besar dan mimpi sederhana untuk bisa membuat lagu yang didengar banyak orang. Kini, setelah lebih dari lima dekade, ia sendiri mengaku tak pernah menyangka mimpinya akan berkembang jauh melampaui bayangannya.

Menariknya, salah satu lagu dari album debut tersebut, “Flying”, justru menjadi fenomena di Brasil. Lagu itu bertahan selama 17 minggu berturut-turut di posisi nomor satu tangga lagu. Kesuksesan tersebut sempat membuat Chris berpikir dirinya akan langsung menjadi bintang dunia. Kenyataannya justru berbeda. Setelah euforia itu, ia harus bekerja jauh lebih keras untuk membangun karier internasional.

Alih-alih menikmati kesuksesan instan, Chris memilih terus berkeliling dari satu negara ke negara lain. Australia, Afrika Selatan, Irlandia, Norwegia, Kanada, Inggris, Jerman, Austria, Swiss, hingga Lebanon perlahan mulai menerima musiknya. Setiap album baru membuka pasar baru, sedikit demi sedikit membangun fondasi karier yang akhirnya bertahan sangat lama.

Baginya, membangun karier musik ibarat menyalakan lampu di sebuah bola dunia. Ada negara yang cepat menerima karya-karyanya, ada yang membutuhkan waktu bertahun-tahun, bahkan ada pula yang tak pernah benar-benar terbuka. Filosofi sederhana itu menunjukkan bagaimana seorang musisi internasional harus bersabar menghadapi dinamika selera pasar yang selalu berubah.

Baca juga :  Dari Jogja ke Seoul: Jejak Global Dita Karang di Secret Number

Yang membuat perjalanan Chris semakin menarik adalah keterlibatannya dalam seluruh proses kreatif. Ia menulis sendiri lagu-lagu dan liriknya, menjalani tur konser, tampil di televisi, menghadiri siaran radio, hingga memberikan berbagai wawancara. Semua dijalani hampir tanpa henti selama puluhan tahun. Tak heran bila ia menyebut dirinya sebagai “mesin” utama di balik seluruh kariernya.

Hasil kerja keras tersebut berbicara sendiri. Hingga kini Chris de Burgh telah menjual lebih dari 45 juta kopi album di seluruh dunia serta tampil dalam hampir 4.000 konser internasional. Di tengah perubahan tren musik yang silih berganti, ia tetap mempertahankan gaya bermusiknya sendiri tanpa kehilangan basis penggemar yang setia.

Sebagai bentuk perayaan perjalanan panjang itu, Chris merilis album spesial bertajuk “50”. Album ini menghadirkan lagu-lagu pilihannya dari seluruh album studio yang pernah dirilis, ditambah tiga lagu baru yang ditulis khusus untuk proyek tersebut. Menurutnya, album ini menjadi cara terbaik untuk memperkenalkan kembali perjalanan musikal yang telah ia bangun sejak 1974.

Tak hanya album, Chris juga menggelar tur solo bertajuk “50”. Konsepnya dibuat sederhana, kembali ke akar kariernya ketika ia hanya tampil seorang diri dengan gitar dan piano. Dalam setiap pertunjukan, ia tak sekadar bernyanyi, tetapi juga berbagi cerita mengenai asal-usul lagu, proses penciptaan, hingga pengalaman di balik setiap karya yang telah mengiringi hidup jutaan pendengarnya.

Produktivitas Chris ternyata tidak berhenti di dunia rekaman. Ia juga menjadi salah satu kreator Robin Hood – The Musical, sebuah pertunjukan musikal yang sukses besar di Jerman sebelum diperluas ke Swiss dan Austria. Produksi tersebut mencatat penjualan tiket yang sangat tinggi, bahkan lebih dari 200.000 penonton telah menyaksikannya di teater berkapasitas sekitar 700 kursi di Fulda. Kesuksesan itu menjadi bukti bahwa kreativitas Chris masih terus berkembang di luar dunia album.

Baca juga :  Hak Ekonomi Pencipta Lagu Jadi Sorotan

Di sisi lain, katalog lagu-lagu lamanya juga terus menemukan pendengar baru. Salah satu contoh paling mencolok adalah “The Lady in Red”, yang kembali mencuri perhatian setelah masuk ke soundtrack film blockbuster Deadpool & Wolverine. Film tersebut sukses meraup pendapatan lebih dari US$1 miliar hanya dalam 23 hari sejak dirilis pada 2024, membuat karya klasik Chris kembali diperbincangkan oleh generasi yang jauh lebih muda.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa lagu yang ditulis dengan emosi kuat memiliki umur yang jauh lebih panjang daripada tren musik sesaat. Meski lahir puluhan tahun lalu, karya-karya Chris de Burgh tetap mampu menyentuh pendengar baru ketika dipadukan dengan media populer masa kini.

Di era ketika algoritma media sosial sering menentukan siapa yang viral hari ini, perjalanan Chris de Burgh menjadi pengingat bahwa kualitas, dedikasi, dan konsistensi masih menjadi fondasi utama sebuah karier musik yang panjang. Lima puluh tahun berkarya bukan sekadar soal bertahan hidup di industri, melainkan terus menemukan cara baru untuk tetap relevan tanpa kehilangan identitas.

Itulah mengapa nama Chris de Burgh masih memiliki tempat istimewa dalam sejarah musik dunia.

Redaksi Energi Juang News

Moh Khobir Riyadi
Moh Khobir Riyadihttps://energijuangnews.com/
Sosok pria penulis artikel pada kanal Remang Senja (Horror), Ojo Lali dan Not & Musik. Memberikan tulisan semenarik mungkin untuk kalian para pembaca.
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments