Selasa, April 21, 2026
spot_img
BerandaRemang SenjaMisteri Hantu Gunung Dloko: Istana Nyai Korek

Misteri Hantu Gunung Dloko: Istana Nyai Korek

Energi Juang News,Ponorogo- Di tengah hamparan sawah luas Kecamatan Balong, terdapat sebuah bukit kecil yang tampak sederhana dari kejauhan. Tidak terlalu tinggi, tidak terlalu mencolok, bahkan terlihat seperti bagian alami dari lanskap pedesaan yang tenang.

Namun, bagi warga sekitar, bukit itu bukan sekadar tanah yang menjulang. Ia adalah tempat yang “hidup” tapi bukan oleh manusia.

Gunung Dloko dikenal sebagai tempat yang memiliki aura berbeda. Banyak orang datang ke sana—sebagian hanya penasaran, sebagian lagi membawa niat yang lebih dalam: berdoa, mencari petunjuk, bahkan berharap mendapatkan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan secara logika. Namun tidak semua yang datang pulang dengan cerita biasa.

Seorang pemuda bernama Bagas, asal luar Mojokerto, memutuskan untuk datang ke Gunung Dloko setelah mendengar cerita tentang “istana gaib” yang ada di sana.

“Cuma bukit kecil, masa sih ada apa-apa?” katanya sambil tertawa kepada temannya sebelum berangkat.

Ia tidak tahu, bahwa malam itu akan mengubah cara pandangnya selamanya.

Gunung Dloko bisa dicapai dengan berjalan kaki melewati pematang sawah. Saat sore hari, perjalanan terasa damai—angin sepoi-sepoi, suara serangga, dan langit yang mulai meredup.

Namun begitu matahari benar-benar tenggelam, suasana berubah sunyi yang terlalu pekat.

Seolah suara-suara alam ikut menghilang, Bagas mulai merasa tidak nyaman.

“Kenapa tiba-tiba sepi banget ya?” gumamnya.

Langkahnya terasa lebih berat, meskipun jalan tidak menanjak curam.

Dan saat ia mencapai puncak kecil itu, ia merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan.

Seperti… dia tidak sendirian dii tengah kegelapan, Bagas melihat cahaya samar.

Seperti kilauan lembut berwarna kehijauan, muncul dari balik semak.

Ia mendekat, perlahan dan di situlah ia melihatnya, sosok seorang perempuan berdiri diam.

Baca juga :  Ketukan Gaib Tengah Malam: Kisah Horor Nyata dari Hotel Niagara Lawang

Tubuhnya tinggi dan ramping, mengenakan kain panjang yang menjuntai hingga tanah. Rambutnya hitam legam, sangat panjang hingga hampir menyentuh tanah.

Namun wajahnya terlalu pucat seperti tidak memiliki darah.

Matanya besar, hitam pekat tanpa bagian putih, dan tidak berkedip sama sekali.

Bibirnya tipis, berwarna kebiruan, dengan senyum yang tidak sepenuhnya manusia.

“Sudah lama… aku menunggu,” suara perempuan itu terdengar.

Namun anehnya, bibirnya tidak bergerak.

Suara itu langsung masuk ke dalam kepala Bagas.

Perempuan itu melangkah mendekat, namun langkahnya tidak menimbulkan suara.

Kakinya tidak benar-benar menyentuh tanah.

“Aku… yang menjaga tempat ini…”

Saat ia semakin dekat, Bagas bisa melihat detail yang lebih mengerikan.

Kulit di lehernya tampak retak-retak, seperti porselen yang hampir pecah. Dari celahnya, terlihat sesuatu yang gelap bergerak—seperti bayangan hidup di dalam tubuhnya.

Dan dari rambutnya… menetes cairan hitam pekat, seperti air yang sudah lama membusuk.

Tiba-tiba, suasana di sekitar berubah.

Bukit kecil itu seolah meluas.

Pepohonan muncul dari kegelapan.

Bangunan-bangunan samar terlihat—seperti istana kuno dengan pilar tinggi dan ukiran yang tidak jelas bentuknya.

“Apa ini…” bisiknya.

Perempuan itu tersenyum lebih lebar.

“Rumahku…”

Di balik bangunan itu, muncul sosok-sosok lain, tapi tidak jelas bentuknya.

Ada yang menyerupai manusia, tapi terlalu tinggi.

Ada yang merangkak dengan tubuh terbalik, dengan badan seperti berlendir.

Dan ada yang hanya berupa bayangan… tanpa bentuk pasti.

“Kamu datang dengan niat apa?” tanya sosok itu.

Bagas tidak menjawab, dan tidak tahu harus berkata apa.

Namun dalam pikirannya, muncul keinginan aneh.

Sosok-sosok di belakang perempuan itu mulai mendekat.

Mereka mengelilingi Bagas.

Dan salah satu dari mereka—yang paling dekat—memperlihatkan wajahnya.

Baca juga :  Gondang Winangoen, Pabrik Gula Yang 'Berlumur' Misteri

Wajah itu… bukan wajah.

Melainkan kumpulan lubang hitam, dengan suara bisikan keluar dari setiap celahnya.

Tiba-tiba, Bagas teringat pesan seorang warga yang ia temui di bawah.

“Kalau lihat apa-apa, jangan diladeni. Jangan dituruti.”

Dengan sisa keberanian, Bagas menutup mata.

Dan berbisik pelan, “Saya pulang.”

Saat ia membuka mata kembali, semuanya hilang tak berbekas.

Hanya bukit kecil, gelap, dan sunyi.

Keesokan harinya, Bagas menceritakan pengalamannya kepada seorang warga tua.

Warga itu hanya mengangguk pelan,“Itu Nyai Korek,” katanya.

“Dia beneran ada?” Warga itu tersenyum tipis.”

“Yang penting… kamu tidak jadi bagian dari sana.”

Gunung Dloko tetap menjadi tempat yang menarik banyak orang. Ada yang datang dengan rasa penasaran, ada yang mencari pengalaman, dan ada yang berharap mendapatkan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan.

Redaksi Energi Juang News

Moh Khobir Riyadi
Moh Khobir Riyadihttps://energijuangnews.com/
Sosok pria penulis artikel pada kanal Remang Senja (Horror), Ojo Lali dan Not & Musik. Memberikan tulisan semenarik mungkin untuk kalian para pembaca.
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments