EnergiJuangNews,Medan- Malam selalu punya cara sendiri untuk mengunci rasa takut di dada. Ketika lampu dipadamkan dan suara alam menipis, imajinasi manusia menjadi panggung bagi bisikan yang tak terlihat. Di titik itulah, keyakinan bisa berubah menjadi kompas yang menyesatkan—mendorong seseorang melangkah ke arah yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Kisah ini bukan sekadar cerita hantu; ia adalah potret kelam tentang bagaimana kepercayaan, jika kehilangan pijakan, dapat memutus nalar dan empati.
Pada Juni 2018, Mandailing Natal (Madina) diguncang oleh tragedi yang membuat bulu kuduk berdiri. Tiga pria yang bernama Almahdi, Buyung, dan Mukmin yang masih terikat hubungan keluarga, menghabisi nyawa tiga anggota keluarga mereka sendiri. Mereka mengaku mendapat “perintah gaib” yang tak bisa dibantah. Pengakuan ini bukan muncul dari ruang kosong, melainkan dari sebuah ajaran yang telah berakar di lingkungan mereka.
Ajaran tersebut didirikan oleh Jalaluddin, ayah Almahdi. Ia mengembangkan keyakinan yang kemudian dianggap menyimpang, salah satunya menyatakan bahwa salat hanya boleh dikerjakan jika ada “bisikan dari Malaikat Djibril”. Ketika Jalaluddin wafat, tongkat kepemimpinan ajaran itu berpindah tangan. Di sinilah arah kompas berubah drastis lebih keras, lebih ekstrem, dan berujung tragedi.
Cara pembunuhan yang terjadi bersifat ritualistik, mencerminkan betapa ajaran tersebut telah mengaburkan batas antara simbol dan tindakan nyata. Seorang korban yang masih bayi dibuang ke sungai, sementara dua korban lainnya dibunuh dan jasadnya ditelanjangi. Tidak ada detail yang perlu dilebih-lebihkan untuk memahami horor di sini fakta-fakta ini saja sudah cukup untuk mengguncang nurani.
Analogi sederhananya seperti ini: keyakinan adalah pisau dapur. Di tangan yang tepat, ia berguna untuk menyiapkan makanan. Namun ketika digenggam tanpa kendali, ia bisa melukai siapa saja termasuk orang terdekat. Pada kasus ini, pisau itu diasah oleh interpretasi sepihak dan klaim otoritas spiritual yang tak teruji.
Mirisnya, Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan aparat setempat sebenarnya telah turun tangan beberapa bulan sebelum tragedi. Mereka berupaya “meluruskan” ajaran Jalaluddin yang dianggap menyimpang. Namun, intervensi tersebut tidak berlanjut secara intensif. Setelah sang pendiri meninggal, Almahdi melanjutkan ajaran itu dengan pendekatan yang jauh lebih brutal, seolah rem sosial dan moral telah dilepas.
Di sinilah kita melihat celah besar dalam sistem kewaspadaan. Seperti retakan kecil di bendungan, jika dibiarkan, ia akan melebar dan akhirnya jebol. Tragedi ini menjadi pengingat bahwa pembinaan dan pendampingan pasca-intervensi sama pentingnya dengan tindakan awal.
Bagi penyuka cerita horor, kisah ini menakutkan bukan karena hantu atau makhluk gaib, melainkan karena ia nyata. Ketakutannya lahir dari fakta bahwa pelaku dan korban berbagi darah yang sama. Ketika keluarga—ruang yang seharusnya paling aman berubah menjadi arena kekerasan, rasa aman kolektif ikut runtuh.
Selain itu, klaim “bisikan” menambah lapisan misteri psikologis. Apakah itu delusi, sugesti kelompok, atau manipulasi spiritual? Pertanyaan-pertanyaan ini menggantung, membuat kisahnya terus menghantui pikiran.
Aliran sesat Madina dan “bisikan gaib” yang menghabisi keluarga bukan sekadar catatan kriminal; ia adalah cermin gelap bagi masyarakat. Cermin yang memantulkan bahaya ketika iman berjalan sendirian tanpa nalar, dan ketika komunitas gagal menjaga anggotanya.
Cerita horor terbaik sering kali bukan yang paling fantastis, melainkan yang paling dekat dengan kenyataan. Dan dari kenyataan yang mengerikan ini, kita belajar bahwa kewaspadaan, dialog, dan empati adalah senjata paling ampuh untuk mencegah kegelapan serupa terulang.
Redaksi Energi Juang News



