Energi Juang News, Garut– Di tengah masyarakat Jawa Barat, terutama wilayah Garut, berkembang kisah tentang makhluk mistis yang dipercaya menghuni tempat-tempat kotor maupun area yang jarang dibersihkan. Makhluk itu diceritakan mampu bergerak cepat, menghilang, bahkan mempermainkan anak-anak yang pulang terlambat. Seorang ibu di warung dekat balai desa menuturkan sambil merapikan dagangannya, “Neng, kalau udah magrib, jangan biarin budak luar teuing. Sok aya nu ngintip di jarian.”
Sosok yang sering dibicarakan itu dikenal dengan nama Jurig Jarian. Istilah “Jurig” berarti hantu, sedangkan “Jarian” adalah tempat sampah, sehingga makhluk ini dipahami sebagai penghuni area kotor sejak dulu. Mitos yang beredar menggambarkan dua wujud berbeda: ada yang melihatnya seperti makhluk kecil serupa tuyul, sementara lainnya bersaksi melihat figur perempuan tinggi kurus yang tubuhnya meneteskan sisa-sisa sampah basah, seakan terbentuk dari kotoran itu sendiri.
Pada satu malam berkabut, seorang pemuda bernama Raka yang tinggal di daerah Tarogong pulang lebih larut dari biasanya setelah mengantar temannya. Ia memotong jalan melewati gang sempit dekat tumpukan sampah warga. Tak lama kemudian, ia mencium bau busuk menusuk hidung, padahal tempat tersebut baru saja dibersihkan pagi harinya. Raka berhenti karena mendengar suara seperti plastik diremas dari balik gelap. “Aya nu di ditu?!” teriaknya, namun tidak ada jawaban selain suara gesekan lembut seperti kaki kecil yang menyeret sampah. Seketika, bulu kuduk Raka berdiri saat ia melihat sosok mungil bersembunyi di balik karung, matanya memantul merah seperti bara api.
Raka memberanikan diri mendekat, namun sosok itu tiba-tiba memanjang, berubah menjadi figur perempuan dengan rambut menjuntai menutup wajah. Tubuhnya seperti dipenuhi sobekan kantong plastik, sisa makanan basi, dan air comberan yang menetes tanpa henti, mengeluarkan bau busuk yang membuat Raka hampir muntah. “Ulah datang ka dieu… ulah!” suara lirih yang serak muncul dari balik rambut itu. Raka terpaku, sementara udara di sekelilingnya berubah sangat dingin. Ia melihat boneka kotor terselip di tangan sosok itu, seakan benda itu menjadi bagian dari tubuhnya. Suasana semakin mencekam ketika sosok itu merangkak mendekatinya dengan gerakan patah-patah.
Ketakutan, Raka mencoba mundur perlahan. Namun sebelum ia berbalik, suara teriakan perempuan tua memecah keheningan dari ujung gang. “Heh, budak! Ulah lalumpat ka ditu! Eta mah Jurig Jarian!” teriaknya dengan napas terengah. Sosok mengerikan itu berhenti seketika lalu menyusut menjadi bayangan kecil sebelum lenyap seperti asap tersapu angin. Raka segera berlari menghampiri perempuan itu. “Tadi itu apaan, Bi?” tanyanya dengan suara bergetar. Perempuan itu menjawab cepat, “Sareupna teh waktu bahaya. Ulah nepi ka katingal deui. Eta arwah nu teu diakui tempatna.”
Cerita Raka menyebar cepat dari mulut ke mulut di kampung itu. Beberapa warga mengaku pernah merasakan kehadiran makhluk serupa ketika pulang menjelang malam, terutama anak-anak yang tiba-tiba demam setelah melihat bayangan melintas di dekat tumpukan sampah. “Anak saya mah pernah panas dua hari gara-gara ningali anu leutik lari di kamar mandi,” ungkap seorang ibu sambil menunjuk toilet rumahnya yang tampak sangat bersih, namun tetap dianggap sebagai area jarian oleh warga karena konon makhluk itu menyukai tempat tertutup dan lembap.
Masyarakat Garut percaya bahwa makhluk ini lebih sering muncul pada waktu senja, terutama menjelang azan magrib, masa yang dalam istilah Sunda disebut “sareupna”. Mereka yang melihatnya biasanya mengalami gatal-gatal atau merasa seperti ada beban menempel di pundak. Seorang bapak penjaga mushola menceritakan pengalamannya, “Kadang aya nu asup ka mushola, bau sampah pisan. Padahal teu aya nu datang. Sok aya nu ngendog di pojok.”
Untuk mengusir gangguan makhluk tersebut, warga setempat memiliki cara khas berupa campuran air kelapa muda, kopi pahit, sedikit garam, dan doa Ayat Kursi. Ramuan itu dipercayai dapat menetralisir aura negatif setelah seseorang bertemu atau dihampiri makhluk tersebut. “Biasana budak nu katarajang, urang siram ku cai kelapa heula. Terus baca doa,” ujar seorang sesepuh kampung. Banyak yang merasa pulih setelah ritual sederhana itu dilakukan.
Dari sudut pandang ilmiah, kisah Legenda Jurig Jarian hantu penunggu sampah belum dapat dibuktikan, namun pengaruhnya dalam budaya masyarakat Garut tidak bisa dipandang sebelah mata. Cerita ini menjadi bagian dari tradisi, sekaligus peringatan agar anak-anak tidak bermain di area kotor saat senja. Seorang pemuda di warung kopi menutup obrolan dengan kalimat, “Percaya teu percaya, tapi sok aya hal nu teu bisa dijelaskeun. Di kampung ieu mah, nu disebut Jurig Jarian masih katinggalan jejakna.”
Redaksi Energi Juang News



