Energi Juang News, Jakarta– Asrama tua di kawasan Surabaya Utara itu berdiri dengan gaya arsitektur kolonial yang tak berubah sejak zaman penjajahan. Dindingnya tebal, langit-langitnya tinggi, dan aroma lembap menyambut setiap yang masuk. Di sinilah Shandy, seorang mahasiswi baru, mulai tinggal untuk menempuh studinya di salah satu perguruan tinggi negeri. Belum genap seminggu, ia sudah merasa ada sesuatu yang berbeda. Bukan karena suasana baru atau beban kuliah, tetapi hawa ganjil yang menyergap sejak langkah pertamanya di lorong asrama.
Cerita pertama datang dari Fina, teman sekamar yang tak sengaja keluar kamar saat dini hari. “Kalau kamu keluar jam empat pagi, kadang suka lihat dia berdiri di depan lorong. Sosok yang sama namun semua orang tak mengetahui namamya, meskipun sosok itu kerap muncul. Rambutnya panjang banget, yang mengerikan…matanya… eh, malah nggak ada,” ucap Fina sambil berbisik, matanya menatap jendela dengan gelisah. Shandy hanya tertawa menanggapi, menganggap itu sekadar cerita horor khas anak kos yang kelelahan atau iseng menakut-nakuti penghuni baru. Dia tidak terlalu percaya dan cerita dianggap tahayul.
Namun Wahyu, penghuni kamar seberang yang punya penglihatan bathin merasakan hawa aneh dilorong itu. Ia mengatakan kamar mandi di ujung lorong tak pernah digunakan lagi, karena sering membuat gaduh karena adanya penampakan sosok misterius. “Dulu ada anak semester tiga yang gantung diri di situ. Sejak itu, yang masuk situ katanya selalu mimpi buruk dan sakit,” tutur Wahyu lirih saat malam menjelang. Shandy mendengarkan sambil lalu, tetap menganggap semua itu hanyalah mitos yang dilebih-lebihkan.
Dua minggu berlalu. Malam itu angin menerpa asrama begitu kuat hingga jendela bergetar hebat dan pintu terbanting keras. “Pintu asrama biasanya nggak pernah begitu, lho,” komentar Wahyu ketika mereka semua keluar kamar karena suara bising. Tapi Shandy tetap bergeming. Ia mulai jenuh dengan semua cerita mistis yang berseliweran. Ia memutuskan untuk tidur dan mengabaikan semua yang terjadi.
Tepat pukul dua dini hari, Wahyu tiba-tiba mengguncang tubuh Shandy. “Shandy… Shandy… denger nggak? Ada suara manggil kamu.” Dalam kantuk, Shandy mencoba fokus. Dan benar saja, dari luar jendela terdengar suara perempuan melengking lirih memanggil namanya. Shandy melangkah pelan, membuka gorden, dan mendapati wajah pucat seorang wanita berambut pirang dengan bola mata yang kosong menatapnya dari balik kaca. Aroma tak enak mulai melintasi hidung mereka, seperti bau tanah bercampur bangkai. Takut yang tak sangat bercampur penasaran siapa sebenarnya sosok itu, membuat mereka bersikukuh menatap langsung. Aura mistis dilorong itu makin membuat bulu kuduk mereka berdiri, bercampur hawa dingin aneh.
Dan tiba tiba sosok itu membalikkan badannya menatap mereka kembali, seolah ingin menyampaikan sesuatu. Namun karena Shandi sudah tak kuat melihat itu semua, membuatnya menjerit dan berusaha melewati pintu kamar untuk kabur meninggalkan tempat itu.
Jeritan Shandy menggema di seluruh lantai asrama, dan diteriakan ketiga ia jatuh pingsan. Tapi ketika ia membuka mata, tubuhnya terbaring di tengah sawah yang berada tak jauh dari kompleks bangunan tua itu. Malam masih gelap, hanya suara jangkrik dan angin menyapa. Ia ketakutan bukan main, lalu berlari sekuat tenaga kembali ke asrama. Anehnya, begitu ia sampai, semua penghuni menatapnya dengan raut bingung. “Lho, kamu dari mana aja?” tanya salah satu senior.
Keesokan harinya, dosen wali memanggil Shandy ke ruangannya. “Shandy, kamu tahu nggak kamu udah hilang selama satu bulan?” tanyanya tajam. Shandy terperanjat. Ia merasa hanya tidur semalam, tapi rupanya waktu yang dialaminya berbeda dengan yang dirasakan orang lain. Ia mencoba menjelaskan, namun tak ada satu pun ingatan jelas tentang ke mana ia pergi selama itu.
Yang lebih menyeramkan, saat ia duduk bersama penghuni asrama lainnya, pandangannya menangkap sosok wanita yang sangat familiar duduk di pojok ruangan. Wanita itu berambut pirang, mengenakan gaun putih klasik, dan yang paling mencolok: matanya tetap kosong, hitam legam tak berbola. Wanita itu tersenyum lembut padanya. Kali ini, Shandy tak bisa menjerit. Tubuhnya membeku dalam ketakutan yang amat dalam.
Sejak saat itu, Shandy menjadi sosok yang pendiam. Ia jarang keluar kamar, bahkan menghindari cermin dan jendela. Beberapa teman mengatakan kadang ia menggumam sendiri dan berbicara dalam bahasa Belanda kuno yang tak dimengerti siapa pun. “Aku dengar dia bicara sama ‘wanita tanpa mata’ itu,” kata salah satu penghuni, Ayu. Asrama itu pun kembali dikenal sebagai tempat yang dihuni bukan hanya oleh mahasiswa, tapi juga arwah penasaran yang belum menemukan jalan pulang.
Redaksi Energi Juang News




