Energi Juang News, Jakarta- Sore itu, kabut tipis mulai merayapi pepohonan di lereng Gunung Wilis. Air Terjun Roro Kuning memancarkan keindahan yang menipu, airnya mengalir lembut, sejuk, dan jernih.
Tapi bagi warga Desa Bajulan di lereng Gunung Wilis, tempat itu bukan sekadar destinasi wisata. Ia menyimpan cerita yang tak semua berani mengungkap.
Rina, seorang mahasiswi asal Malang, dalam melengkapi tugas akhir akademiknya, ia memutuskan untuk menelusuri kisah sejarah geologis di Air Terjun Roro Kuning.
Sesampai di Desa Bejulan ia menginap di rumah Bu Minah, warga tua yang tinggal tak jauh dari jalur menuju air terjun itu.
Siang itu saat melihat berita online daerah di handphonenya, ia menemukan artikel tentang kejadian orang hilang di Air terjun Roro Kuning sebulan yang lalu.
Saat itu ada bu Minah yang lagi menyuguhkan kopi untuknya, Rina memberanikan diri menanyakan berita itu. “Bu Minah, benar nggak kalau pernah ada orang hilang di Air Terjun Roro Kuning ?” tanya Rina saat itu.
” Benar Nak Rina…,” jawab bu Minah mengiyakan.
Bu Minah kemudian mendekat dan menatapnya dengan mata kosong, lalu berkata pelan,
“Nak Rina, tempat itu bukan cuma air dan batu.
Ada yang penunggu yang terkadang dia memanggil orang yang datang ketempat itu lewat bisikan ghaib.” lanjut bu Minah mengingatkan.
Namun sepertinya Rina tidak percaya hal itu. Ia mengira kejadian itu hanya cerita lama dikaitkan hanya untuk menakut-nakuti wisatawan yang ingin berkunjung.
Saat malam tiba, Rina bergegas menuju kamar untuk beristirahat. Diantara ngantuk dan sadar saat semua terlelap, Rina mendengar bisikan halus dari arah jendela.
Suaranya lirih tapi jelas: “Kembalikan dia… Jangan bawa pulang…” Rina yang tidak percaya akan hal ghaib mengacuhkannya dan mensegerakan tidur.
Ketika pagi tiba, ia terbangun dan bersiap nekat menuju air terjun didampingi warga setempat, Pak Darto. Di tengah perjalanan, kabut tebal turun mendadak, dan suara air terjun terdengar jauh lebih deras dari biasanya. Ternyata lokasi itu lumayan jauh dari rumah bu Minah.
Sampai di lokasi Rina melihat cuaca tak mendukung namun ia sudah berniat memotret air terjun.
“Pak, ini normal? Kok jadi gelap banget?”tanya Rina.
Pak Darto terdiam sejenak sambil melihat ke segala arah. “Kita harus cepat. Jangan lewat tengah hari.” jawabnya.
Dengan cekatan Rina memainkan kameranya, mengambil gambar dari segala sisi air terjun itu. Tapi saat melihat hasil foto di kameranya, Rina melihat ada sosok wanita berdiri di belakang air terjun.
Sosok itu mengenakan kebaya kuning pudar, wajahnya menghadap ke bawah tak tampak, dengan rambut terurai panjang lusuh.
“Itu siapa?!” Rina bertanya ke pak Darto sambil menunjuk ke arah air terjun.
Pak Darto langsung menarik tangan Rina, “Jangan lihat balik. Jangan panggil namanya!”
“Jangan lihat balik. Jangan panggil namanya!” pak Darto menegaskan.
Yang membuat heran pak Darto, Rina tak bergeming dan menarik kembali tangannya seolah menolak ajakan pak Darto.
Akhirnya pak Darto tak kuasa atas penolakan Rina, ditinggalkannya Rina sendiri di air terjun itu, dengan maksud memanggil warga kampung setempat. Namun tak satupun warga mau menerima permintaan tolong pak Darto, menhindari teror hantu Roro Kuning.
Sementara itu Rina yang penasaran mendekati air terjun itu untuk melihat sosok tadi, memastikan siapa yang dibelakang air terjun itu.
Benar saja terperanjat Rina melihat sosok hantu yang memiliki muka rusak dan mata merah menyala, benar benar sosok yang menakutkan, dan tangan hantu itu berusaha menarik tangan Rina untuk masuk air terjun.
Kejadian itu membuat Rina jatuh pingsan tak sadarkan diri dan dpir,uksn esrgs di pinggir kolam air terjun itu. Mereka segera mengangkat tubuh Rina dan dibawa ke rumah bu Minah.
Menurut cerita warga Roro Kuning adalah sosok hantu perempuan berpenampilan mencolok namun mengerikan. Ia dikenali dari kebaya kuning pudar yang melekat pada tubuhnya, lusuh seperti telah lama membusuk bersama tanah.
Rambutnya panjang menjuntai, menutupi sebagian wajah yang selalu menunduk, seolah menyembunyikan luka lama yang belum terbalaskan.
Wajahnya pucat, dingin, dan samar-samar menampakkan bekas luka atau jejak tangis yang tak pernah kering.
Setelah sadar dari pingsan, keesokan harinya Rina menggali informasi lebih mendalam ke warga sekitar atas kejadian yang menimpanya.
Dia merasa beruntung selamat dari dendam arwah hantu Roro Kuning yang menarinya ke dalam air terjun. Sungguh pengalaman sekejap yang hampir merenggut nyawanya.
Sore itu, mereka kembali dibuat panik., karena kamera Rina tiba tiba rusak total. Tersisa hanya gambar terakhir hanya memperlihatkan kabut dan sosok kabur yang tampak semakin mendekat….menyeramkan.
Menurut cerita warga, sosok Roro Kuning adalah arwah penasaran seorang perempuan yang mati dengan cara tragis dan tak adil. Ia bangkit dari kematiannya, tidak untuk meminta belas kasihan, tapi untuk membalas dendam.
Dendamnya membusuk bersama waktu, menjadikannya makhluk yang penuh kemarahan, menyelinap diam-diam, mengintai mereka yang bersalah… dan mereka yang sadar ada di tempat yang salah.
Kehadiran suara Roro Kuning biasanya diiringi suara langkahnya pelan, kadang terdengar derit lantai kayu, kadang hanya bisikan samar di balik daun pintu pada malam hari.
Jika ada seorang yang melihat kebaya kuning itu dari kejauhan jangan sekali kali didekati , karena bila sampai wajahnya mulai menoleh ke arahnya , maka sudah terlambat.
Bisa jadi orang itu menjadi korban dendam arwah Roro Kuning dikaki Gunung Wilis.
Redaksi Energi Juang News



