Energi Juang News, Jakarta– Malam di Desa Ngadirejo, Tulungagung Jawa Timur selalu sunyi setelah pukul sembilan. Namun di malam Jumat Kliwon, sunyi berubah menjadi sesuatu yang menakutkan.
Di tengah hamparan makam tua yang dikenal dengan nama Kuburan Jati Wayang, berdiri sebuah pohon beringin tua.
Tepat di utaranya, terdapat pusara yang oleh warga sekitar disebut sebagai Pasarean Mbah Senare seorang tokoh sakti yang konon wafat dalam keadaan semedi.
Di sanalah Adnan, seorang youtuber asal dari kota Malang, memulai penelusurannya.
Ia mendengar cerita bahwa suara gamelan dan dalang wayang kadang terdengar lirih dari tengah makam di daerah Kediri.
Banyak yang percaya bahwa arwah para leluhur masih menggelar pertunjukan gaib di sana. Membuat banyak orang bertanya tanya apa yang sesungguhnya terjadi.
Namun satu cerita membuat Adnan sulit tidur yakni kisah kutukan pohon jati.
Adnan yang penasaran mulai menggali informasi ke warg sekitar, termasuk ke Mbah Karto tokoh sesepuh desa.
Dalam perbincangan itu Adnan bertanya, “Pak, betul di kuburan Jati Wayang ini pernah ada pohon jati besar yang ditebang dan membawa petaka?”
Mbah Karto mengangguk pelan, wajahnya menegang menunjukkan rasa gelisah.
“Iya, Nak. Dulu ada orang luar desa, kerjaan kayu ilegal. Dia nekat tebang pohon jati paling besar di tengah kuburan.”
“Lalu?” Lanjut Adnan bertanya.
Mbah Karto kemudian mengisahkan bahwa orang tersebut meninggal dengan luka disekujur tubuh yang mengerikan. Ternyata pohon itu dibawahnya terdapat makam Pasarean Mbah Senare seorang tokoh sakti yang konon wafat dalam keadaan semedi..
Penasaran akan cerita Mbah Karto, Adnan memutuskan untuk menginap semalam di dekat lokasi makam, bersama kameranya.
Pukul 01.12 dini hari, saat iya sedikit terkantuk, dari headsetnya terekam suara lirih gamelan dan sinden, terdengar lirih namun jelas. Yang membuat Adnan heran, padahal tidak ada acara apa pun di desa itu.
Saat ia merubah posisi duduknya Adnan menengok ke arah pohon beringin. Ia melihat bayangan putih menari perlahan, tubuhnya tembus pandang layaknya asap putih yang lama kelamaan berbentuk jelas seorang penari.
Sementara suara kayu diketuk seperti dalang sedang mengatur wayang juga terdengar makin jelas. Mulailah tercium amis darah dan bau menyengat dupa disekitar area makam tersebut, membuat Adnan mulai membuat bulukuduknya berdiri.
Sendiri ditengah makam bukan hal yang tepat disituasi seperti itu. Perlahan suasana makam itu ramai sosok yang berdatangan menuju pohon beringin itu.
Namun sosok yang datang itu hantu hantu yang berpakaian serba putih lusuh dan bermuka tengkorak mengerikan.
Suara tertawa melengking sesekali terdengar, membuat Adnan memutuskan berlari meninggalkan makam itu meninggalkan kamera yang masih menyala.
Sesampainya di pinggir jalan yang terang, ia memperhatikan kakinya berdarah darah karena tersandung batu nisan makam.
Kebetulan ada ada warga melintas Adnan minta tolong diantar pulang. Keesokan harinya Adnan kembali lagi ke makam untuk mengambil kamera yang tertinggal.
Iseng iya mencoba melihat hasil bidikan kamera semalam, ternyata tak ada satupun gambar yang iya dapat. Aneh….
Sesampainya di Malang, Adnan demam tinggi. Dalam tidur bermimpi , ia melihat seorang kakek tua berjubah putih, duduk di atas pohon jati, mengayunkan wayang kulit sambil menatapnya tajam. “Jangan ganggu… ini bukan milikmu.”
Redaksi Energi Juang News



