Energi Juang News, Jakarta-Klampis Ireng di Ponorogo adalah salah satu tempat yang oleh orang banyak disebut menyimpan hal mistis. Warga Ponorogo atau siapapun yang mengetahui perihal Klampis Ireng bisa dipastikan berdebar bila mendegar tempat yang terbalut dengan cerita mistis itu.
Cerita masyarakat yang beredar mengungkapkan bahwa Ponorogo memiliki dua pedanyangan atau tempat para roh leluhur. Yakni, Nyi Korek yang dipercaya di ringin kurung sekitar Alun-Alun Ponorogo dan petilasan Eyang Ismoyo.
Petilasan Klampis Ireng yang ada di Dusun Krajan, Desa Sragi, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, inilah yang dipercaya masyarakat setempat sebagai padepokan milik Eyang Ismoyo.

Ada kerajaan besar yang dipercaya berdiri di petilasan tersebut dan dipimpin langsung oleh Eyang Ismoyo.
Lantas mengapa masyarakat sangat hormat terhadap semar? Sebab, semar dianggap sebagai pemomong dan botoro paling tua.
Klampis ireng pun menjadi daerah mistis, sangar, dan sangat rawan dengan hal buruk yang membawa petaka. Dinamakan Klampis Ireng lantaran dulu tumbuh pohon klampis berwarna hitam di sana.
Disinyalir ada sebuah pohon klampis warna hitam, yang sekarang sudah tidak ada lagi.
Cerita Mistis Seputar Klampis Ireng
Beredar cerita dimasyarakat terkait keberadaan Klampis Ireng yang membuat bulu kuduk berdiri. Salah satunya adalah munculnya suara wayang yang sering terdengar di petilasan, meski saat dicari, tidak ada seorang pun yang terlihat sedang memainkan wayang.
Dan juga ada cerita terkait dengan peristiwa gerakan 30 September tahun 1965. Ada kisah mengenai gembong jalan beriringan tanpa kepala. Cerita bermula pada saat penumpasan Gerakan 30 September, ketika malam hari banyak truk berjalan menuju persawahan di pinggir sungai. Truk-truk tersebut membawa badan manusia tertuduh PKI tanpa kepala.
Selain cerita penumpasan, Klampis ireng juga menjadi tempat yang sakral bagi masyarakat Ponorogo.
Sebelum perhelatan acara besar Kabupaten, Klampis Ireng jadi tempat untuk bermunajat, layaknya ritual Jawa pada umumnya.
Klampis Ireng juga menjadi tempat perantara dalam meminta keselamatan. Ada pula cerita mistik terkait keberadaan penghuni Klampis Ireng saat perhelatan agung Ponorogo, misalnya Grebeg Suro. Konon penghuni Klampis Ireng turut menyaksikan perhelatan yang diselenggarakan oleh Kabupaten Ponorogo.
Pada masa terjadi banjir besar Ponorogo tahun 2007 juga dikaitkan dengan Klampis Ireng. Cerita yang dulu tersebar, banjir yang terjadi disebabkan Klampis Ireng sedang ngunduh mantu (menikahkan) penghuni Klampis Ireng dengan Keraton Pantai Selatan. Banjir kala itu dipercaya sebagai medium agar iring-iringan kapal dari Keraton Pantai Selatan dapat berlabuh di Klampis Ireng.
Sekarang di lokasi ini, warga sering melakukan pertapaan, tujuannya untuk mengeluarkan mereka dari masalah atau meminta berkat, yang salah satunya ingin meminta kenaikan pangkat. Pengunjung Klampis Ireng harus mematuhi sejumlah pantangan, seperti tidak berkata kasar dan menghindari pakaian batik poleng kawung, karena hal tersebut dapat menyinggung kebesaran Eyang Ismoyo dan membawa malapetaka.
Mereka yang datang adalah petinggi dari berbagai kota sekitar. Mereka juga turut melakukan ritual.
Bahkan sering ditemukan beberapa orang dari luar kota menginap di lokasi ini. Mereka meminta ingin dikeluarkan dari masalah yang membelit mereka. Ada orang dari Banten, Lampung serta dari Banyuwangi.
Demikianlah Klampis Ireng, dengan segala atribut kemistikannya.
Redaksi Energi Juang News



