Jumat, Maret 13, 2026
spot_img
BerandaRemang SenjaSantet Beras Kiriman Desa Sebelah yang Menghantui Keluarga

Santet Beras Kiriman Desa Sebelah yang Menghantui Keluarga

EnergiJuangNews,Bondowoso- Desa itu sebenarnya dikenal tenang, bahkan terlalu tenang untuk ukuran sebuah kampung yang dikelilingi sawah dan kebun singkong. Malam hari biasanya hanya diisi suara jangkrik dan desau angin yang menyapu dedaunan pisang. Mas David, seorang pemuda desa yang kini merantau, masih mengingat jelas bagaimana rumah orang tuanya dulu menjadi tempat paling nyaman untuk pulang. Ibunya dikenal ramah, sering berbagi makanan, dan tak pernah punya musuh. Karena itulah, ketika seorang tamu dari desa sebelah datang membawa karung kecil berisi beras, tak ada satu pun kecurigaan yang muncul. “Rezeki itu titipan Tuhan, Nak,” kata sang ibu sambil tersenyum, kalimat yang terus terngiang di kepala Mas David. Beras itu dimasak sore harinya, dimakan bersama dengan lauk sederhana. Malamnya pun berlalu tanpa kejadian aneh. Namun siapa sangka, dari dapur sederhana itu, sebuah teror panjang sedang menunggu waktu untuk bangkit. Beberapa hari kemudian, ketenangan rumah itu mulai retak sedikit demi sedikit, seperti tembok tua yang digerogoti rayap dari dalam. Warga sekitar belum menyadari apa pun, hanya merasakan firasat tak enak setiap kali melewati rumah itu saat malam. “Kok hawanya beda ya sekarang,” gumam seorang tetangga, Bu Sri, saat melintas. Tak ada yang tahu, bahwa sebuah pintu tak kasat mata telah terbuka perlahan.

Gejala pertama muncul pada tubuh ibu Mas David, dan sejak saat itu, kisah santet beras mulai menampakkan wujudnya secara kejam dan perlahan. Awalnya hanya pusing ringan dan rasa lelah yang tak biasa. Namun lama-kelamaan, keluhan itu berubah menjadi rasa sakit aneh yang tak bisa dijelaskan secara medis. “Bu, kok tangan ibu dingin terus?” tanya Mas David suatu malam. Sang ibu hanya menggeleng, wajahnya pucat. Ia mengaku sering merasa seperti ada yang menyentuh lengannya saat hendak tidur, padahal kamar dalam keadaan kosong. Mata kirinya mulai terasa perih, lalu kulit di sekitarnya menghitam seperti memar, meski tak pernah terbentur apa pun. Warga desa mulai berbisik. “Penyakitnya kok aneh, nggak kayak sakit biasa,” ujar Pak Rono, tetangga depan rumah. Pemeriksaan rumah sakit menunjukkan hasil normal, namun rasa sakit terus memburuk. Bahkan dokter pun kebingungan. Setiap malam, sang ibu mengerang kesakitan, seolah ada sesuatu yang mencengkeram tubuhnya dari dalam. Mas David mulai teringat kembali pada beras pemberian orang asing itu. “Mas, jangan-jangan itu bukan beras biasa,” bisik Bu Sri dengan suara gemetar. Kata-kata itu menancap di benaknya, membuka pintu ketakutan yang selama ini ia hindari.

Gangguan tak hanya menyerang tubuh, tapi juga rumah. Sejak penyakit ibunya semakin parah, suasana rumah berubah drastis. Lampu sering redup sendiri, udara terasa pengap meski jendela terbuka. Tikus-tikus muncul di siang hari, berlarian tanpa takut manusia. Kucing-kucing liar berkumpul di halaman setiap malam, menatap rumah itu seakan menunggu sesuatu. Tepat pukul dua belas malam, suara langkah berat terdengar dari atap. “Seperti orang jalan rame-rame,” kata Mas David saat menceritakan pengalamannya. Ketika dicek, tak ada siapa-siapa. Warga yang ronda malam pun merasakan hal serupa. “Kami dengar suara ketawa perempuan, Mas… lirih tapi jelas,” ujar Pak Jaya, penjaga pos ronda. Bau busuk seperti kotoran ayam sering muncul tiba-tiba, terutama di kamar sang ibu. Bau itu datang bersamaan dengan kambuhnya sakit. Setiap kali bau itu tercium, sang ibu akan menjerit kesakitan. Mas David mulai yakin, ini bukan sekadar penyakit biasa. Sesuatu sedang hidup dan bergerak di dalam rumah mereka, mengintai dari sudut-sudut gelap.

Usaha pengobatan dilakukan ke mana-mana. Dari dokter spesialis, alternatif, hingga kyai. Namun semua belum menemukan titik terang. Seorang teman spiritual akhirnya angkat bicara. “Ini bukan penyakit medis. Ini serangan ilmu hitam,” katanya tegas. Ia menyebut media pengiriman guna-guna beras, sesuatu yang sering dipakai karena sulit dicurigai. Beras yang dimasak dan dimakan akan menjadi jalan masuk energi gelap ke dalam tubuh korban. Mendengar itu, Mas David merinding. Ia teringat detail kecil: butiran beras yang tampak kusam dan berbau apek saat pertama kali dicuci. Warga desa pun mulai berani bicara. “Orang desa sebelah itu memang dikenal suka iri,” kata seorang nenek tua. Malam itu, dilakukan ritual pembersihan. Namun saat doa dibacakan, sang ibu tiba-tiba berteriak keras, suaranya bukan seperti manusia. Suara berat dan parau memenuhi ruangan, membuat semua orang terdiam ketakutan.

Saat ritual berlangsung, benda-benda aneh mulai muncul. Dari muntahan sang ibu keluar serpihan dedak, paku kecil, dan benang hitam. “Ini caplek,” ujar sang orang pintar. Semua yang hadir menangis. Sang ibu akhirnya pingsan, tubuhnya lemas seperti tak bernyawa. Rumah terasa semakin dingin. Lilin-lilin berkedip tak stabil. Di luar, angin menderu keras. Warga yang menunggu di luar rumah saling berpelukan. “Astaghfirullah… baru kali ini lihat yang begini,” kata Bu Sri sambil menangis. Teror belum berakhir. Malam itu, sosok hitam terlihat berdiri di ujung kebun, mengawasi rumah. Tak ada yang berani mendekat.

Setelah ritual pertama, kondisi sedikit membaik, namun gangguan belum sepenuhnya hilang. Santet melalui makanan memang dikenal keras kepala. Sang spiritualis menjelaskan, energi gelap itu sudah terikat kuat. Setiap malam Jumat, suara tangisan terdengar dari dapur. “Mas, dengar nggak?” tanya adik Mas David dengan suara bergetar. Bau busuk kembali datang. Kali ini lebih menyengat. Seekor ayam mati ditemukan di depan pintu rumah tanpa kepala. Warga semakin yakin, serangan ini disengaja. “Ini peringatan,” ujar Pak Jaya.

Ritual kedua dilakukan di tengah hujan deras. Kali ini, beras sisa ditemukan terkubur di bawah pohon pisang belakang rumah. Saat digali, tanah berbau anyir. Di dalamnya terdapat kain kafan kecil dan tulisan nama sang ibu. “Ini niat membunuh perlahan,” kata sang dukun. Semua warga terdiam. Ketakutan berubah menjadi kemarahan. Namun tak ada yang berani menuduh siapa pun secara terbuka.

Setelah beras itu dimusnahkan, gangguan perlahan mereda. Sang ibu mulai bisa tidur, meski tubuhnya masih lemah. Rumah terasa lebih terang. Hewan-hewan aneh menghilang. Namun trauma tertinggal. Mas David mengaku, hingga kini ibunya masih sering terbangun tengah malam. “Saya masih merasa dia mengawasi,” katanya pelan. Desa itu kembali tenang, tapi tak pernah benar-benar sama.

Warga desa kini lebih waspada. Tak sembarang menerima pemberian. “Lebih baik menolak halus daripada celaka,” kata Bu Sri. Kisah ini menyebar ke desa-desa sekitar sebagai peringatan. Santet memang tak terlihat, tapi dampaknya nyata. Ilmu hitam selalu menemukan celah lewat kebaikan manusia.

Cerita Mas David menjadi bukti bahwa teror bisa datang dari hal paling sederhana. Beras, simbol kehidupan, berubah menjadi alat kematian. Hingga kini, tak ada yang tahu siapa pelakunya. Tapi satu hal pasti, kejahatan yang dibungkus kebaikan adalah yang paling mematikan. Dan di desa itu, setiap butir beras kini tak lagi dipandang sama.


RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments