Energi Juang News, Madiun– Suasana malam di daerah perbatasan hutan itu memang sering membuat para pelintas merinding, terutama ketika cuaca tiba-tiba berubah menjadi gelap dan angin bertiup tanpa arah. Andi yang sedang berkendara pulang menuju rumahnya di Madiun merasakan hawa dingin menusuk tulang saat melewati jalanan yang mulai tertutup kabut. Di pos kecil dekat persawahan, dua warga yang kebetulan duduk sambil menikmati kopi saling menatap heran. “Lho, mas kuwi kok tetap maju wae yo? Biasane wong mandeg nek kabut kandel ngono,” ujar salah satu warga dengan nada khawatir.
Keluarga Andi sebenarnya sudah terbiasa dengan jadwal pulangnya yang hanya seminggu sekali, sehingga malam itu ia berusaha pulang lebih cepat untuk menemui istrinya, Intan. Namun cuaca buruk membuat perjalanan terasa berat. Ketika kabut semakin pekat, ia memutuskan berhenti sejenak di pinggir hutan untuk memasukkan barang-barang ke dalam jok motor. “Aneh tenan, koyo ora biasane kabut nganti ngene,” gumamnya. Tak ada seorang pun melintas, tapi tiba-tiba seorang kakek renta muncul dari arah gelap sambil berkata pelan, “Le, ojo diteruske disik. Bermalam wae. Omahmu durung cedhak.” Andi hanya tersenyum canggung dan berkata, “Tidak usah, Kek. Saya tinggal sedikit lagi sampai rumah.”
Setelah berpamitan, Andi kembali menghidupkan motornya dan melanjutkan perjalanan. Namun baru beberapa meter berjalan, ia merasa ada yang aneh. Jalan yang biasanya beraspal halus kini terasa lembek, seperti sedang menginjak lumpur pekat. Ia mencoba menambah gas, tetapi roda belakang selip, membuatnya panik. “Lho kok iso-iso jalane dadi empuk ngene?” keluhnya. Di kejauhan, dua warga yang mengamati dari pos ronda berbisik cemas, “Mas kuwi kok ninggal kakek iku? Aku kok rumangsa kakeke ora wong biasa.”
Keanehan semakin menjadi ketika Andi merasa jalan yang ia lalui tidak lagi sama. Pepohonan berubah bentuk, semakin rapat dan tinggi seperti menutup bagian langit. Ia mengerem mendadak karena merasa seperti berada di tempat yang sangat asing. “Astaghfirullah… iki dudu jalane,” katanya gemetar. Di saat yang sama terdengar suara samar dari balik pepohonan, seolah seseorang memanggil namanya. Andi menoleh cepat, tapi tak ada siapa pun. Ia berusaha meyakinkan dirinya bahwa semua hanya halusinasi akibat lelah.
Saat ia mencoba kembali ke jalan semula, Andi terkejut ketika melihat tidak ada jejak roda motornya di tanah. Tidak ada bekas ban, tidak ada tanda-tanda ia baru lewat situ. Seolah-olah ia baru saja muncul di tengah hutan tanpa pernah berkendara sebelumnya. “Iki opo maneh? Mosok ora ono tilase?” desisnya. Ketakutannya meningkat ketika mendengar suara langkah kecil di balik semak. Seorang warga yang kebetulan lewat beberapa hari kemudian bercerita, “Wong-wong kene pancen ngerti yen alas iku kadang nggawe wong kesasar.”
Dalam kebingungan itu, Andi menyadari bahwa sekelilingnya kini tampak seperti perkampungan yang sama sekali tidak ia kenali. Rumah-rumah kecil dari kayu berdiri miring dengan pintu yang berayun pelan meskipun tak ada angin. Dari satu rumah, ia melihat sosok seperti manusia tapi bergerak sangat kaku, menunduk, dan menatapnya dengan mata gelap. “Sopo iku…?” gumamnya sambil mundur perlahan. Suara lirih dari balik pohon terdengar, “Mbalikke… yen iso mbalik…”Suara itu membuat Andi terpaku dan nalarnya mulai berpikir aneh aneh. Bulu kuduknya meremang dan menggigil ketakutan.
Sosok yang ia lihat itu kemudian muncul lebih jelas. Tubuhnya kurus, wajahnya pucat kelabu, dan matanya cekung seperti dua lubang hitam. Ketika mulutnya terbuka, terdengar suara serak panjang yang membuat bulu kuduk Andi berdiri. Ia teringat cerita warga bahwa ada makhluk penghuni hutan yang sering meniru bentuk manusia untuk menyesatkan pelintas. “Iki dudu wong… iki pancen jebakan,” katanya sambil menahan napas. Ketika sosok itu semakin mendekat, Andi memundurkan motornya dengan panik.
Dalam kondisi putus asa, ia berteriak memanggil siapa saja yang mungkin mendengar. Suaranya menggema, namun tiba-tiba dari arah belakang terdengar suara kakek renta yang ia temui sebelumnya. “Le, kencengno atimu. Aja wedi. Balikke saiki!” suara itu bergema kuat. Andi menoleh, tetapi tak melihat sosok sang kakek, hanya suara yang memecah kabut itu. Dengan sisa keberanian, ia memutar motor dan memacu gas sekuat mungkin meski jalur di depannya tampak seperti jalan buntu.
Ketika ia menerjang kabut terakhir yang menutupi penglihatannya, tiba-tiba semuanya hilang begitu saja. Andi mendapati dirinya sudah berada kembali di jalan raya, tepat di dekat pos ronda tempat dua warga sebelumnya mengamati. Warga itu langsung berdiri dan berlari menghampiri. “Mas! Sampean muncul saka endi? Kok yo tiba-tiba ana neng tengah dalan wae?” Andi hanya terengah-engah dan berkata, “Aku… aku kesasar. Koyo ditarik menyang alam liyane.” Kedua warga saling pandang, tampak jelas ketakutan di wajah mereka.
Ketika akhirnya tiba di rumah, Andi menceritakan semuanya kepada istrinya, Intan, yang langsung menangis ketakutan. Keesokan paginya, ia mendengar dari tetangga bahwa cerita tentang penghuni gaib di hutan itu memang sudah banyak memakan korban. “Wong-wong kene wis tau ngelingke,” kata seorang tetua desa ketika Andi berkisah. Sejak malam itu, Andi tidak pernah lagi menganggap remeh cerita gaib dan selalu pulang sebelum gelap jika melewati hutan yang dikenal menyimpan misteri kelam itu.
Redaksi Energi Juang News



