Energi Juang News, Kendal– Laut memang menyimpan banyak misteri yang sulit dijelaskan dengan nalar. Di sebuah kawasan utara Kabupaten Kendal, seorang nelayan bernama Kusri (45) kerap mengalami kejadian yang membuat bulu kuduk berdiri. Ia menceritakan bagaimana saat tengah melaut siang hari, tiba-tiba muncul suara seperti sudah hidup sendiri dari kedalaman. “Kadang ada sejenis suara hantu. Tiba-tiba ada suara bebek, suara gamelan juga,” ia berkata sambil mengusap peluh di dahinya. Suara itu datang bukan dari daratan yang jelas, melainkan mendesak dari laut yang tampak tenang namun menyembunyikan keganjilan.
Pengalaman itu bukan hanya satu kali terjadi bagi Kusri—melainkan sering. Ia bercerita bahwa ketika perahunya berada di garis lurus Desa Kemangi hingga ke timur laut, suara gamelan muncul dengan ritme yang halus namun menimbulkan rasa asing. “Itu siang juga kadang dengar. Kayak ada suara musik. Yang sering denger misalnya gamelan, terus dengar suara orang buka-tutup pintu. Kadang juga ada suara bayi nangis,” ungkapnya dengan suara bergetar. Warga sekitar Desa Jungsemi pun sudah saling berbagi kabar bahwa wilayah itu “terkenal angker”. Suatu sore, seorang pemuda yang keluar kapal dikabarkan hilang ketika mencoba mendekati tempat di mana suara itu berasal.
Warga desa yang lain, seperti Kolik, ikut memberikan kesaksian. Ia mengatakan, “Entah karena tak tahu arah desa sehingga berputar-putar terus kembali di jalan yang sama. Atau disesatkan oleh jin,” tutur Kolik sambil menunjuk ke laut yang memerah oleh matahari senja. Malam itu, angin laut membawa desah seolah bisikan yang tidak manusiawi. Di tepi dermaga, beberapa pemancing mengaku merasakan kehadiran sosok samar: arwah perempuan berambut panjang yang menatap dari balik ombak, bayangan putih yang melintas tanpa suara namun meninggalkan dingin yang menusuk tulang. Saat ombak kecil membelai kayu kapal, terdengar suara gamelan samar-samar dan seakan ada pintu kayu yang terbuka di tengah laut.
Pada suatu kesempatan, Kusri dan tiga temannya memutuskan menyelam ke titik sumber suara yang sering mereka dengar. Saat malam semakin larut, mereka menurunkan lampu selam ke dasar laut yang gelap. Tiba-tiba lampu mereka menangkap siluet sesosok wanita bergaun putih yang berdiri di dasar laut, matanya menatap langsung ke atas. Temannya teriak: “Bro… apa itu?” namun sosok itu menghilang secepat mata membelalak. Hanya sisa-sisa suara gamelan yang terus berdengung dalam telinga mereka, berulang-ulang tanpa henti. “Kita … kita kembali,” ujar Kusri terbata-bata sebelum mereka naik ke permukaan dengan jantung berdebar.
Ketika mereka kembali ke dermaga, suara gamelan itu masih bergema di kepala mereka. Warga yang mendengar cerita mereka saling berpandangan dengan wajah pucat. Seorang ibu dari desa sebelah tiba-tiba mengatakan: “Suara itu bukan sekadar angin atau perahu tua. Itu peringatan.” Ia menirukan suara gamelan di malam sunyi, lalu terdiam sambil memandang laut nan gelap. Ketakutan menyeruak di antara kerlap-kerlip lampu kapal yang bergoyang di kejauhan. Beberapa pemancing memutuskan untuk tidak lagi melaut ke sisi timur Desa Kemangi karena takut tersesat di antara suara-suara yang tak kasat mata.
Sosok yang muncul di laut tersebut semakin sering dikaitkan dengan peringatan tradisional. Para tetua desa mengatakan bahwa laut utara Kendal ini pernah menyimpan tragedi: kapal yang memasuki zona “gamalan” tanpa izin atau tanpa menghormati arwah laut bisa membawa malapetaka. “Dulu banyak pendatang yang hilang saat memasuki wilayah Desa Jungsemi,” kata Kolik dalam bisikan. Dalam tradisi lisan, suara gamelan di laut dianggap sebagai panggilan atau teguran untuk kembali ke daratan sebelum terlambat. Warga yang pernah mendengar suara tersebut merasakan hawa dingin tiba-tiba, napas memburu, dan kadang bayangan putih melintas di antara gelombang.
Malam-malam berikutnya, suara gamelan itu muncul kembali, bahkan ketika laut tampak terlalu tenang untuk berisik. Beberapa kapal nelayan melaporkan bahwa tengah malam mereka terbangun oleh denting gamelan yang samar namun jelas, menyebabkan jangkar bergeser dan lampu kapal mati seketika. Di dek kapal, seorang nelayan menjerit setelah mencium aroma harum bunga melati yang tak lazim di tengah laut. Ia gemetar dan melihat ke arah geladak, tapi hanya ombak hitam yang menatap balik. “Kita harus hormati laut ini,” ucapnya dalam diam, memegang tali kapal dengan tangan gemetar.
Seiring waktu, cerita itu beredar luas di sekitar pantai Kendal. Para pemancing baru diajak oleh tetua desa untuk membaca doa ketika hendak melaut ke zona timur Desa Kemangi, dan ada yang mengatakan harus membawa canang atau sesaji kecil agar arwah laut merasa dihormati. Suara gamelan di laut utara Kendal kini bukan hanya sekadar suara misterius, tetapi telah menjadi simbol peringatan: bahwa manusia harus menghargai alam dan arwah-arwah yang tak tampak. Bagi Kusri, kejadian itu mengubah cara ia melihat laut. Ia tak lagi melihat laut sebagai ladang keuntungan semata, tetapi sebagai ruang suci yang penuh misteri dan batas-batas yang harus dihormati.
Dan pada akhirnya, lantunan gamelan yang muncul dari dasar laut Kendal itu mengingatkan setiap orang bahwa tidak semua yang tampak sunyi benar-benar tenang. Laut utara Kendal mengajarkan pelajaran dari gema-gema masa silam, suara-suara yang tengah menunggu untuk didengar, dan arwah-arwah yang berjalan di antara ombak sebagai pengawal peringatan. Ketika malam memeluk laut dan gamelan itu berdenting dari kejauhan, hanya satu hal yang bisa kita lakukan: mendengarkan dan menghormati.
Redaksi Energi Juang News



