Energi Juang News, Balikpapan- Kabut tipis turun perlahan menyelimuti perbukitan ketika saya pertama kali menjejakkan kaki di kawasan tua itu. Udara terasa lembap dan dingin, meski matahari belum sepenuhnya tenggelam. Pepohonan tinggi berdiri seperti saksi bisu masa lalu yang tak pernah benar-benar pergi. Jalanan menanjak, tikungan tajam, dan suara angin yang menyusup di sela semak membuat suasana terasa ganjil.
Nama perempuan itu sudah lama menjadi bisik-bisik di telinga warga: seorang suster Belanda yang tewas tragis pada 1942, saat peralihan kekuasaan dari Belanda ke Jepang memanas di kota minyak ini.
Di sebuah warung kecil dekat kawasan Balikpapan terekam oleh warga cerita seorang sopir ojek bernama Rahmat yang melegenda.
“Mas mau ke atas? Ke arah Volker?” tanyanya ke calon penumpang pelan.
“Saya ingin melihat lihat lokasi itu sendiri,” jawab si calon penumpang.
Rahmat terdiam sejenak teringat pesan: “Kalau lewat malam, jangan sisakan kursi kosong di mobil. Itu pesan orang tua dulu.”
Calon penumpang menyebut nama kawasan Volker Balikpapan dengan nada setengah berbisik. Sambil mengemudi Rahmat berusaha menyampaikan cerita warga yang beredar, banyak kecelakaan terjadi di tikungan dekat Gunung Dubs.
“Teman saya pernah ngalamin,” lanjutnya. “Awalnya kursi belakang kosong. Pas di tikungan, mobil terasa berat. Dia lihat spion… ada perempuan pakai baju suster duduk di belakang.”
“Wajahnya?” tanya penumpang.
“Pucat. Bajunya lusuh… ada darahnya.”
Tahun 1942 menjadi awal tragedi. Saat itu, tentara Jepang bergerak cepat setelah mengetahui kilang minyak strategis di Balikpapan. Mereka telah memperingatkan Belanda agar tidak membakar kilang tersebut. Namun, terdesak dan tak ingin menyerah begitu saja, pihak Belanda tetap membumihanguskan fasilitas itu.
Tentara Jepang murka. Mereka menyisir kota, menangkap orang-orang Belanda, termasuk seorang perawat bernama Marie van Veenen—yang kemudian dikenal warga sebagai Suster Maria.
Sebagian tawanan dikumpulkan di daerah Benua Patra dan dieksekusi. Marie dan beberapa lainnya ditahan di sebuah rumah dekat jembatan gantung di kawasan perbukitan.
Rumah itu kini dikenal warga sebagai “Rumah Pembantaian”.
Pak Darto, seorang pria sepuh yang saya temui di kaki bukit, menunjuk ke arah bangunan tua yang nyaris tertutup semak.
“Di situ dulu keluarga Belanda dibantai,” katanya. “Saya dengar cerita dari almarhum bapak saya.”
“Bagaimana dengan Suster Maria?”
Pak Darto menarik napas panjang. “Dia lari ke jembatan gantung. Tapi tentara Jepang mengejar. Katanya dia ditangkap di tengah jembatan… lalu dibunuh di sana.”
Sejak saat itu, jembatan gantung tersebut menjadi lokasi yang dihindari warga selepas magrib.
Merasa penasaran, Wayan,34 wisatawan itu melanjutkan perjalanannya seorang diri mengendarai mobil sewaan itu.
Malam itu Wayan memutuskan menyusuri jalan menuju Gunung Dubs dan Wayan sengaja membiarkan satu kursi belakang kosong.
Mesin meraung pelan. Tikungan demi tikungan Wayan lewati dengan hati-hati. Lampu mobil menyorot jalan sempit di antara pepohonan.
Tiba-tiba… mobil terasa lebih berat.
Seolah ada tambahan beban.
Wayan melirik kaca spion.
Kosong.
Namun hawa di dalam mobil berubah dingin. Sangat dingin.
Di tikungan berikutnya, terdengar suara pelan.
“Kau… melihatku?”
Wayan menahan napas. Suara itu lirih, seperti bisikan tepat di belakang telinga.
Ketika Wayan memberanikan diri menoleh cepat ke kursi belakang—kosong. Tapi joknya tampak sedikit tertekan, seolah baru saja diduduki seseorang.
Wayan segera memacu kendaraan keluar dari kawasan itu.
Keesokan harinya, Wayan menemui Sari,21 mahasiswi yang pernah berkunjung ke rumah tua dekat jembatan gantung.
“Kami cuma iseng foto-foto,” katanya. “Awalnya biasa saja.”
“Apa yang terjadi?” tanya Wayan.
“Tiba-tiba ada suara langkah di semak. Padahal enggak ada siapa-siapa. Terus ada siulan aneh… panjang, melengking.”
Ia mengaku melihat sosok perempuan berseragam suster berdiri di ambang pintu rumah tua itu. Wajahnya pucat, mata kosong, dan bagian dada seragamnya dipenuhi noda gelap seperti darah kering.
Mendengar kesaksian Sari, Wayan mulai menyimpulka, bahwa beberapa warga percaya arwah Marie van Veenen belum tenang. Trauma, rasa kehilangan keluarga yang dibantai, serta kematian keji di jembatan gantung menciptakan energi yang melekat pada tempat-tempat itu—Gunung Dubs, Volker, rumah tua, dan jembatan gantung.
Malam terakhir sebelum meninggalkan Balikpapan, Wayan berdiri di dekat jembatan gantung. Angin bertiup pelan, kayu jembatan berderit pelan.
Langkah kaki terdengar di belakangnya.
Perlahan.
Teratur.
Wayan pun menoleh.
Seorang perempuan berdiri beberapa meter dari Wayan. Seragam suster putihnya kusam, rambutnya terurai, wajahnya pucat dengan noda gelap di pelipis.
“Kau… akan pergi?” suaranya lembut namun kosong.
Dalam sekejap, sosok itu memudar bersama kabut.
Seketika jembatan kembali sunyi.
Hingga kini, misteri itu tetap hidup. Di tikungan Gunung Dubs, di jalan sunyi Volker, di rumah tua yang menyimpan jeritan masa lalu.
Redaksi Energi Juang News



